Home » Opini » Persipon Pontianak: Geliat Sepak Bola yang Kurang Bergairah

Persipon Pontianak: Geliat Sepak Bola yang Kurang Bergairah

Lambang tim Persipon Pontianak. Latar Belakang oleh Danang/EKSPRESI.

Kompetisi liga Indonesia di berbagai kasta hampir menjaring semua klub tanah air. Dari Sabang sampai Marauke, klub-klub semenjana hingga klub yang diperhitungkan memanaskan persaingan.

Setiap pulau di Indonesia kini punya wakil di kompetisi liga Indonesia. Walaupun tidak bisa dibilang merata, tetapi semangat berkompetisi patut diapresiasi. Persepakbolaan nasional semakin hidup dan bergairah.

Kalimantan menjadi salah satu pulau yang meramaikan belantika liga Indonesia. Pulau Kalimantan kini menjadi salah satu penantang klub-klub yang selama ini mendominasi, terutama klub yang berasal dari Pulau Jawa. Nama-nama yang sudah tersohor seperti Arema Malang, Persebaya Surabaya, Persela Lamongan, Persib Bandung, Persija Jakarta, PSIS Semarang kini mendapatkan saingan dari klub Kalimantan.

Tercatat, tiga klub asal Kalimantan masih bertahan di Liga 1: Mitra Kukar (Kalimantan Timur), Pusamania Borneo FC (Kalimantan Timur), dan Barito Putera (Kalimantan Selatan). Tidak hanya sekadar ingin meramikan kompetisi, ketiga klub asal pulau Borneo ini mempunyai ambisi besar untuk merajai liga Indonesia. Hal tersebut bisa dibuktikan dengan pemain dan pelatih yang didatangkan.

Barito Putera di luar dugaan mendatangkan pelatih sekelas Jacksen F. Tiago serta pemain timnas seperti Hansamu Yama, Gavin Kwat, Paulo Sitanggang, dan Rizky Pora. Pusamania dengan dana melimpah berhasil mendatangkan nama-nama beken dalam skuatnya. Sebut saja eks kapten timnas Ponaryo Astaman, Diego Michiels, Patrich Wangai (pindah Persib), dan Lerby Eliandry. Sedang di pihak Mitra Kukar, klub berjuluk Naga Mekes ini diisi pemain andalan timnas seperti Bayu Pradana dan Septian David Maulana.

Di sisi finansial dan fasilitas, klub asal Kalimantan tidak menemui kendala berarti. Yang patut dibanggakan adalah keberadaan stadion megah berstandar internasional. Baru-baru ini Persiba meresmikan stadion anyar mereka, Stadion Batakan. Berkapasitas 46.000 penonton, stadion ini baru diresmikan tahun kemarin. Stadion yang didaulat sebagai Stamford Bridge-nya Indonesia ini menambah daftar stadion megah di Kalimantan.

Sebelumnya telah ada Stadion Aji Imbut yang menjadi kandang Mitra Kukar dalam  menjamu tamunya. Stadion yang menghabiskan dana sekitar 899 miliar tersebut memiliki kapasitas 35.000 kursi. Ada pula Stadion Palaran yang terletak di Samarinda dan tentunya Stadion Segiri milik Pusamania Borneo FC,

Sayangnya, Persiba Balikpapan (Kalimantan Timur) musim kemarin harus terdegradasi ke Liga 2. Degradasinya Persiba antara percaya dan tidak percaya. Pasalnya, klub yang dijuluki Beruang Madu ini selalu menjadi pesaing klub-klub kuat kontestan Liga 1. Di Liga 2 nantinya Persiba bakal bersua saudara mereka, Kalteng Putra (Kalimantan Tengah) dan Martapura FC (Kalimantan Selatan), dua klub yang gagal promosi ke Liga 1 musim kemarin.

Persipon yang kurang mujur

Di balik klub asal Kalimantan yang semakin menunjukan eksistensinya, nasib kurang mujur justru ditunjukkan Persipon Pontianak (Kalimantan Barat). Kala klub lain mendapatkan suntikan dana segar sehingga bisa mendatangkan pemain serta pelatih berkualitas, Persipon hanya menjadi klub yang kurang diperhitungkan. Namanya tak setenar Kota Pontianak yang dikenal dengan Tugu Khatulistiwa, apalagi dengan saudaranya lain di Kalimantan. Persipon hanyalah klub kecil di kota besar.

Persipon berdiri pada 1970. Klub kebanggan masyarakat Pontianak tersebut musim 2018/2019 mendatang harus memulai perjuangannya di Liga 3. Pasalnya, mereka harus terdegradasi dari Liga 2 musim kemarin. Dengan materi pemain yang bisa dibilang seadanya, Persipon harus berhadapan dengan kontestan lain yang notabene baik secara finansial dan materi pemain.

Prestasi bukanlah barang yang akrab di telinga Persipon, begitu pula suporter mereka. Sejak berdiri, Persipon hanya beberapa kali menorehkan “rasa bangga” di benak mereka. Salah satunya, prestasi juara Piala Soccer Enthuasiast Grup (SEG) I 2013 di Malaysia yang patut dibanggakan di saat surutnya prestasi Persipon.

Membicarakan stadion pun Persipon jauh tertinggal dengan saudara mereka. Bermarkas di Stadion Sultan Syarif Abdurrahman yang memiliki kapasitas 15.000 kursi bukanlah hal yang istimewa. Jika harus membandingkan, pada kenyataannya Persipon memang jauh tertinggal. Pertama, Persipon beberapa tahun terakhir harus wira-wiri mencari suntikan dana untuk mengarungi liga. Mereka sudah tidak bisa lagi mengandalkan dana APBD. Klub harus mandiri, harus pintar menggaet sponsor. Tuntutan tersebut harus dipenuhi mengingat keberlangsungan klub ada di sana.

Kedua, perhatian pemerintah setempat kurang terhadap sepak bola Pontianak. Padahal kecintaan masyarakat Pontianak pada sepak bola tak kalah dengan masyarakat di daerah lain. Persipon pun seakan mati suri. Keberadaannya antara ada dan tiada. Mungkin hanya segelintir orang yang masih menaruh perhatian untuk Persipon. Salah satunya adalah Khatulistiwa Mania, pendukung setia Persipon.

Setiap Persipon berlaga di kandang, Khatulistiwa Mania tak pernah absen. Dukungan mereka merupakan semangat tambahan bagi Persipon. Kehadiran mereka di tribune menjadi yang dinanti. Tak penting berapa jumlahnya, dari mana mereka berasal. Dukungan moral lebih penting dan sangat dibutuhkan Persipon ketika mengalami masa-masa sulit.

Pada akhirnya, Persipon tetap menjadi kebanggan masyarakat Pontianak, bahkan seluruh masyarakat Kalimantan Barat. Sebab, Persipon merupakan identitas sepak bola mereka. Bermain di kompetisi manapun, dukungan harus tetap diberikan.

Kompetisi musim 2018/2019 akan segera bergulir. Persipon harus mempersiapkan segalanya untuk kembali bertarung memperebutkan tiket ke Liga 2 kembali. Belajar dari persiapan menjelang kompetisi kemarin yang bisa dibilang sangat mepet, pihak klub seharusnya meyiapkan tim ini jauh-jauh hari.

Kabar baik datang dari manajer Persipon, Nanang Setia Budi yang mengindikasikan bahwa Persipon bakal diperkuat putra daerah musim ini. Selain tak usah repot-repot memikirkan gaji pemain karena memakai jasa pemain lokal, keuntungan diberikannya kesempatan pada pemain lokal akan memunculkan bibit baru bertalenta untuk unjuk gigi. Dampaknya memang tidak bisa dirasakan secara langsung. Namun, 4-5 tahun ke depan Persipon bisa saja menjadi The Young Guns-nya Indonesia.

Jika tak ingin kembali menelan pil pahit, Persipon harus bangkit. Percayalah mimpi itu bakal terwujud: Persipon menjadi kontestan Liga 1, bahkan menjadi salah satu klub yang ditakuti. Bravo Elang Khatulistiwa!

M.S. Fitriansyah

Editor: Ahmad Yasin

Check Also

Perubahan Budaya Bermain dari Tradisional ke Virtual

Pada 1938, Johan Huizinga, seorang teoritisi budaya dan sejarawan asal Belanda, menulis buku berjudul Homo Ludens: …