Home » Margin » Leila S. Chudori: Dari Wartawan Hingga Novel Anyar

Leila S. Chudori: Dari Wartawan Hingga Novel Anyar

Leila S. Chudori. Foto oleh idwriters.com

Rabu siang, (24/01), selepas menjadi pembicara dalam diskusi novel teranyarnya, Laut Bercerita, di FIB UGM, Leila S. Chudori menyempatkan waktu untuk berbincang-bincang seputar novelnya. Tak hanya itu, Leila juga menyatakan kekhawatirannya tentang media sosial, yang dinilainya telah menghapus satu tahap penting: jurnalisme. Simak bincang-bincang Leila dengan Ekspresi.

P: Bisa dijelaskan tempat lahir di mana, dan kebiasaan apa yang membuat Mbak sampai bisa jadi wartawan dan penulis?

J: Saya lahir 12 Desember 1962 di Jakarta. Ayah saya wartawan ANTARA, jadi sejak kecil kami sudah terbiasa membaca koran dan membahas peristiwa dunia. Kami tiga bersaudara dan saya anak bungsu. Kami semua pembaca koran dan buku dan kecanduan sastra dari kecil.

P: Lalu keputusan menjadi wartawan?

J: Ayah saya wartawan ANTARA (kemudian The Jakarta Post). Kawan-kawannya wartawan, jadi saya juga sudah mengenal wartawan-wartawan terkemukadi jaman itu: Fikri Jufri (Tempo), Sabam Siagian (Sinar Harapan), August Parengkuan. Mereka sering ke rumah. Saya sering mendengarkan mereka berbincang dan berdebat soal politik, ekonomi dan hukum. Saya merasakan betapa wartawan adalah profesi yang sangat menarik dan dinamis. Tapi itu tak serta merta membuat saya ingin menjadi wartawan meski saya sudah mulai menulis cerpen sejak saya kelas 5 SD dan sudah dipublisir di majalah anak-anak dan remaja.

Di SMA, saya masuk jurusan IPA, dan masih bimbang ingin menempuh pendidikan tinggi IPA atau Humaniora.

Kemudian waktu saya SMA, saya diterima di FISIP UI , tetapi juga mendapat beasiswa ke Kanada. Ayah saya menyarankan jika saya toh akan belajar ilmu sosial sebaiknya saya belajar di Kanada, karena saya akan bisa membaca literatur dan berbagai bahan yang tak mungkin diizinkan di Indonesia.

Akhirnya saya ke Kanada, mengambil double major Political Science dan Comparative Development Studies. Dan dengan sendirinya akhirnya saya merasa jalan saya memang ke dunia jurnalisme.

P: Mungkin memang karena dibentuk kebiasaan?

J: Ya dibentuk dari kebiasaan, tapi tak semua dari kami menjadi penulis dan wartawan. Kakak perempuan saya seorang diplomat dan kakak lelaki saya bekerja untuk lingkungan.

P: Apakah pertama menjadi wartawan itu langsung bergabung di Tempo?

Saya selesai itu tahun 1988 lalu saya pulang. Saya ingin membukukan (kumpulan cerpen) Malam Terakhir, yaitu cerpen-cerpen yang saya tulis semasa kuliah dan dimuat antara lain di Kompas Minggu, Horison, Zaman. Pak H.B. Jassin mengatakan, “Leila cerpen-cerpenmu sebaiknya dibukukan. Nanti saya kasih pengantarnya.”

Karena mengedit dan membaca kembali itu makan waktu, saya belum berani bergabung dengan Tempo. Saya menyelesaikan buku itu sembari bekerja paruh waktu di majalah Jakarta Jakarta, Nah, Malam Terakhir selesai, ya sudah, saya masuk ke Tempo tahun 1989.

P: Selama di Kanada mungkin ada buku-buku yang mempengaruhi Anda?

Banyak Banget. Saya selalu cerita di mana-mana,  sebenarnya moment of truth bagi saya terjadi ketika saya di Kanada, dalam arti saya baru mengenal Indonesia dari sisi yang berbeda. Saya bisa membaca buku-buku yang biasa dilarang di Indonesia, termasuk Cornell Project yang disusun Ben Anderson. Saya bisa membaca berbagai karya Indonesianis seperti Ruth McVey, Herb Feith, Anthony Reed, dan seterusnya. Salah satu yang saya baca tentu saja tulisan Ben Anderson yang memberikan analisis yang berbeda tentang tragedi 1965.

Saya juga baru mengetahui sisi lain dari Timor Timur, dan saya terkejut membaca laporan Amnesty Internasional. Lalu dari berbagai pembicara yang sering diundang kampus saya, saya juga mengetahui betapa bermasalahnya Indonesia. Saya shock dan kecewa bahwa Indonesia yang saya cintai ini seperti tak menghargai hidup manusia, dan seperti tak mengenal hak asasi manusia.

Saya kira cerpen-cerpen Malam Terakhir, yang saya tulis semasa kuliah itu adalah salah satu bentuknya kemarahan saya.

P: Ada beberapa judul buku yang mempengaruhi hidup Anda?

Banyaklah ya. Kuliah-kuliah saya itu diisi sama dosen-dosen yang nulis textbook yang biasanya dipakai oleh anak-anak yang belajar politik di banyak negara termasuk Indonesia. Misalnya buku Alena Heitlinger, dosen saya di Trent University, yang menulis Women and State Socialism itu salah satu text book penting bagi saya. Di luar textbook kuliah, saya dulu menggemari karya Naomi Klein, No. Logos juga penting untuk saya.

Untuk fiksi, saya sangat mengagumi J.D Salinger, Orhan Pamuk, Virginia Woolf, Mario Vargas-Llosa, Gabriel Garcia Marquez, dan sekarang saya sedang asyik kembali ke Alice Munro dan Elif Shafak.

P: Anda sebagai orang yang mengalami reformasi? Menurut Anda, reformasi itu seperti apa?

Sebetulnya orang harus paham waktu itu yang mundur adalah Presiden Soeharto. Namun sistem yang dibangun selama 30 tahunan itu tak serta merta runtuh. Masih banyak sekali warisan Orde Baru yang menjadi persoalan saat ini. Namun saya termasuk yang menghargai beberapa perubahan setelah reformasi.

Suara saya itu banyak saya salurkan melalui pandangan Asmara Jati (dalam novel Laut Bercerita), di surat-surat Asmara Jati kepada Laut. Karena saya seorang wartawan sejak jaman Orde Baru sampai reformasi,saya menganggap terhapusnya Departemen Penerangan dan kebebasan bereskpresi kini adalah sebuah pencapaian. Dibanding beberapa negara tetangga, pers kita termasuk progresif. Tetapi tentu saja ada beberapa perkembangan sejak reformasi yang mengerikan: naiknya intoleransi di negeri ini perlu menjadi perhatian karena semakin lama saya tak mengenal negeri ini.

P: Menurut Anda, cara apa yang paling mumpuni untuk memerangi media sosial yang makin kacau?

J: Keberuntungan saya menjadi wartawan adalah ketika mendengar info, saya tidak langsung percaya. Bahwa itu membuat kita menjadi seorang peragu, ya itu risiko menjadi wartawan dan itu adalah sifat alamiah seorang wartawan. Kalau ada statement dan informasi yang masih simpang siur, seorang wartawan seyogyanya tak langsung percaya dan tergesa menulis status di media sosial, karena masih harus dicek dan recheck kebenarannya.

Salah satu solusi untuk memerangi fakenews— yang disebarkan salah satunya oleh media sosial—adalah memperbaiki daya kritis kita. Ini memang ada hubungannya dengan soal pendidikan (yang tak harus formal) dan juga kemampuan nalar.

P: Bagaimana dengan citizen journalism, perlu digalakkan atau seperti apa?

Saya sebenarnya tidak terlalu tahu citizen jorunalism ini maunya ke mana. Mungkin ini subjektif karena saya datang dari media resmi, sehingga terus terang saya tidak tahu apakah citizen jorunalism ini sesuatu yang memang diperlukan, karena citizen journalism menghilangkan satu tahap yang sangat penting: editor, check and recheck. Ada alasan mengapa media disebut ‘media’, karena di dalam jurnalisme resmi setiap informasi yang masuk mengalami sebuah check and recheck, disusun, diedit, dicek kembali, dan jika sudah bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, baru disuguhkan kepada pembaca.

P: Sekarang beralih ke novel Anda, Laut Bercerita. Sebenarnya apa yang diharapkan dari terbitnya novel ini?

J: Sejak dulu saya selalu menjawab, saya menulis tidak dengan berbagai harapan atau target dari pembaca maupun kritikus. Ini serius. Jika kita mulai memasang target untuk sebuah tujuan besar, harapan besar dan narasi besar, karya kita akan contrived, dipaksakan. Konsentrasinya akan dipaksakan pada target yang ada di luar dunia penciptaan. Saya menolak melakukan itu. Saya menulis karena tertarik pada sebuah tokoh atau karakter fiktif.

Saya seorang pendongeng, storyteller. Saya ingin meyakinkan dan menarik pembaca ke dalam jagat yang saya ciptakan. Saya ingin pembaca yakin dan merasa: meski tokoh itu fiktif, the emotion is real. Buat saya tugas seorang pencerita adalah bercerita dengan baik, dengan menarik dan membuat pembaca merasa berada di dalam dunia ciptaan itu.

P: Mengalir saja?

Bukan mengalir saja. My job is to tell an interesting story. It has to be well-written. Perkara pembaca akan menyukai atau tidak, itu urusan lain. Tidak boleh masuk dalam perhitungan saat proses penciptaan.

P: Apakah tokoh Biru Laut juga terinsipirasi dari karakter Wiji Thukul?

J: Dalam karya saya, satu tokoh tak pernah mewakili satu sosok nyata. Jadi satu tokoh bisa terdiri dari berbagai sosok dan inspirasi. Tokoh Laut Biru terinspirasi dari pengalaman yang dilakui aktivis Nezar (Patria); juga pengalaman Jati (Raharjo Waluyo Jati) yang juga diculik. Tetapi banyak sekali elemen fiktif ciptaan saya yang diaduk di dalam Biru Laut, karena ini adalah sebuah karya fiksi. Elemen diri saya saya masukkan juga dalam sosok Laut Biru: senang memasak, senang membaca karya sastra dan gemar menulis. Diri saya juga tersebar dalam diri Asmara Jati yang mewakili keseimbangan dan rasionalitas dalam keluarga.

P: Kenapa harus ada seorang penyair?

J: Saya merasa Laut membutuhkan mentor. Kinan dan Bram adalah mentor bagi semua anggota Winatra, tetapi saya ingin ada mentor pribadi Laut yang dia sayangi sebagai sahabat. Jadi saya rasa harus seorang sosok yang bisa memahami dia. Tentu saja saya terpengaruh fakta bahwa ada seorang penyair luar biasa dalam kelompok PRD (Partai Rakyat Demokratik) dan Jaker, tetapi penciptaan sosok Gala atau Sang Penyair dibuat berdasarkan beberapa penyair yang saya kenal. Sejak awal, saya sudah tahu bahwa pembukaan novel ini adalah selarik puisi karya Sutardji Calzoum Bachri.

P: Bocoran tentang karya terbaru?

Karena saya sekarang sudah pensiun dari Tempo, mudah-mudahan saya bisa menyelesaikan karya terbaru dalam waktu tiga tahun. Ketika masih bekerja sebagai karyawan penuh, saya membutuhkan lima sampai enam tahun hanya untuk satu novel. Ada kumpulan cerpen yang semoga bisa terbit dalam waktu dekat; ada prekuel novel Pulang berjudul “Namaku Alam”, dan juga prekuel Nadira. Selain itu ada beberapa proyek lain yang masih akan makan waktu lama , misalnya saya ada proyek kolaborasi dengan Rain, puteri saya. Dan saya juga sedang meriset untuk novel saya berjudul Tanah Bayang-bayang yang mengambil setting Nusantara di abad 13-14.***

A.S. Rimbawana

Editor: Danang Suryo