Home » Resensi » Film » Whiplash: Keterasingan Seorang Drumer yang Ambisius

Whiplash: Keterasingan Seorang Drumer yang Ambisius

www.rottentomatoes.com

Andrew Neiman datang ke sekolah musik paling prestisus di New York, Shaffer Conversatory, dengan semangat menjadi drumer. Tentunya bukan drumer biasa, tetapi seorang drumer musik jaz yang berteknik. Refrensinya tak main-main, Budy Rich dan Jo Jones.

Wajah kedua drumer jaz kawakan itu menempel di dinding kamarnya. Di salah satu poster terdapat kutipan dari Budy Rich “Jika kau tidak punya keahlian, kau akan bermain di band rok.” Selain menyindir musik rok, kutipan tersebut juga mewakili idealisme Neiman dalam ambisinya menjadi drumer jaz.

Niat Neiman berbuah manis di tahun pertama. Berawal sebagai asisten drumer di kelas lain, kini ia direkrut oleh Terence Fletcher, konduktor masyhur sekolah, untuk ikut kelasnya. Adalah ketukan double-time swing yang membuat Fletcher bisa kepincut pada Neiman. Kebetulan, Fletcher juga sedang mencari drumer untuk mengisi band-nya. Mereka tergabung dalam band inti yang kerap mewakili Shaffer di berbagai perlombaan.

Ruang B16 merupakan tempat Fletcher menggembleng muridnya dengan keras. Ia tak segan-segan melakukan pelecehan secara verbal dan kekerasan fisik sebagai bagian dari metode mengajarnya. Mustahil baginya mempertaruhkan reputasi pada—apa yang disebutnya—sekumpulan orang bodoh, buta nada, labil, dan tempo tidak beraturan.

Perangai Fletcher itu bertolak belakang dengan karakter Neiman yang pendiam dan pemalu. Perbedaan itu amat kontras tatkala Neiman akhirnya kena semprot akibat tidak dapat bermain drum sesuai temponya. Tidak tahan, Neiman pun meneteskan air mata.

Sejak saat itu, Neiman mulai belajar lebih serius. Kebodohannya karena tak dapat membedakan tempo lambat dan tempo cepat ketukan menjadi refleksi. Tangannya bahkan sampai berdarah-darah untuk mencapai ritme “Whiplash” dan “Caravan”, dua lagu andalan di kelas itu.

Ketika mereka menghadiri Overbrook Jazz Competetion, Neiman menghilangkan map notasi milik Tanner. Sejawat sekaligus drumer inti itu kecewa. Ia tidak bisa bermain tanpa map itu. Akhirnya, Neiman mengajukan diri untuk menggantikannya. Walaupun tidak menggunakan map notasi, tapi ia sudah hafal“Whiplash” di luar kepala.

Setelah konser itu, Neiman langsung memperoleh posisi drumer inti. Namun, lama kelamaan posisi Neiman tak bisa ditebak—apalagi sejak masuknya Ryan Conolly, teman Neiman di kelas sebelumnya. Adanya tiga orang drumer membuat mereka bergiliran unjuk kemampuan. Karena potensi ditarik atau didepak makin terbuka, persaingan menjadi drumer pilihan Fletcher menajam.

Persaingan tersebut membuat Neiman berlatih keras. Pada titik ini, egoisme Neiman memuncak. Ia rela putus hubungan dengan pacarnya, Nicole, karena pacaran akan menghambat dirinya tidak berkembang.

Beberapa menit setelah band mereka naik panggung di Dunnellen, Neiman datang dengan kondisi berdarah-darah. Ia kecelakan dalam perjalanan sepulang mengambil stiknya yang ketinggalan. Kendati demikian, ia tetap memaksa tampil. Sampai pertengahan lagu, tangannya sudah tidak kuat menggenggam stik.

Konser berhenti. Fletcher menyatakan jika Neiman sudah habis; ia akan dikembalikan ke kelas sebelumnya. Atas nama Shaffer Conservatory, Fletcher juga minta maaf kepada panita. Saat itulah Neiman tiba-tiba menerjangnya, sambil menyumpah serapahi dengan murka.

Pendek kata, Whiplash menghadirkan perjalanan Neiman merintis karir yang penuh lika-liku. Idealisme Neiman benar-benar teruji lewat konflik yang mengiringinya. Mulai dari mengorbankan asmara, diremehkan oleh keluarga, hingga kecelakaan yang menimpanya. Konsekuensi itu yang membuat dirinya seakan terasing dan kesepian. Kendati demikian, ia tetap melewatinya atas nama musik dan ambisi menjadi drumer jazz.

Menggoyang Psikologis

Sejujurnya, film berdurasi 107 menit ini menebarkan konflik psikologis sepanjang film. Ada banyak titik yang menjadi sasaran sutradara Damien Chazelle untuk menggoyang psikologi penonton. Salah satunya, saat adegan tentang titik balik kehidupan Neiman usai konser gagal di Dunnellen.

Selepas insiden pertengkaran dan perkelahian dengan Fletcher di konser itu, ayah Neiman meminta kesaksian Neiman pada pengacara. Mereka membicarakan cara mengajar Fletcher mengingat laporan wali murid yang memberikan pandangan negatif kepadanya. Kasus Sean Casey adalah contohnya. Sebelum bunuh diri, alumni Shaffer yang juga mantan murid Fletcher itu menderita depresi dan kecemasan sejak diajar oleh Fletcher. Kesaksian tersebut tidak dibuka untuk publik, tapi untuk memastikan bahwa Fletcher tak akan mengulangi hal yang sama pada murid lain, salah satunya Neiman.

Saat itulah adegan yang menampilkan masa-masa Neiman setelah impiannya menjadi drumer musik jaz pupus. Poster Buddy Rich ia copot. Set drum yang terpasang di ruang latihannya ia bereskan. Keputusasaan itu muncul dari satu nasib sial: ia diberhentikan oleh Shaffer Conservatory.

Impian yang lama dipupuk sejak kecil rupanya tidak sesuai kenyataan. Perjuangannya menempuh sekolah musik Shaffer pun tidak berakhir di belakang drum, melainkan di belakang meja toko—sebagai kasir.

Idealisme Neiman akhirnya mengendur seiring sekolahnya berantakan. Seperti fase-fase kehidupan yang klise, ia terpaksa atau dipaksa realistis ketika hidup justru mendorongnya untuk mengejar materi ketimbang memegang stik. Hal itu seakan sudah terkode karena ayah Neiman berkali-kali mengingatkannya bahwa dia masih punya banyak pilihan selain menjadi drumer.

Solidnya daya psikologis yang ditampilkan Whiplash tak lepas dari peran Fletcher. Akting J.K. Simmons yang memerankan tokoh tersebut menjadi semacam pemantik sejak menit pertama hingga mencapai klimaks. Ia benar-benar merupakan representasi sikap guru yang keras.

Salah satu adegan yang mewakili sikap Fletcher adalah saat Connolly, Tanner, dan Neiman harus lembur karena tak pernah mencapai tempo “Caravan”, bar 105. Kejadian itu sehari menjelang konser di Dunnellen. “Kita akan di sini sampai salah satu homo ini bermain dengan tempo yang tepat … Mainlah lebih cepat dari saat kau masturbasi,” katanya. Benar saja, latihan pun baru selesai pukul 2 pagi. Neiman keluar sebagai drumer yang berhasil mencapai tempo yang diinginkan Fletcher.

Mungkin tidak terhitung berapa kali Fletcher mendamprat muridnya, menendangnya keluar dari kelas karena bermain fals, atau melemparinya dengan kursi jika tidak bisa bermain sesuai temponya. Dalam batas tertentu, tindakan Fletcher itu sungguh biadab. Tapi secara prinsip, Fletcher punya legitimasinya sendiri.

Dalam sebuah obrolan di kafe dengan Neiman usai mereka sama-sama tak lagi berada di Shaffer, Fletcher curhat jika ia tak habis pikir mengapa para orang tua membicarakan cara mengajarnya. “Aku ke sana bukan sebagai konduktor. Semua orang bodoh pun bisa mengayunkan tangan dan menjaga tempo. Aku di sana untuk mendorong seseorang melampaui apa yang diperkirakan. Aku percaya kalau itu suatu kebutuhan mutlak.”

Ucapan Fletcher itu menunjukkan sosok perfeksionis dari dirinya. Ia menginginkan usaha yang maksimal kepada murid-muridnya. Walaupun amat mustahil, tapi usaha mendekati itulah yang diperlukan.

Fletcher berujar, “There are no two words in the English language more harmful than good job.” (Tidak ada dua kata dalam bahasa Inggris yang lebih berbahaya selain usaha yang bagus.). “Good job” bagi Fletcher merupakan tragedi besar. Ia secara tak langsung memberikan rasa cepat puas atas kinerja apa pun yang tidak seberapa.

Rasa cepat puas juga akan membatasi kemampuan seseorang untuk berkembang. Kepuasan itulah yang coba dihindari Fletcher supaya jangan sampai terlalu dini menghinggapi siapapun. Hal ini barangkali salah satu alasan kenapa ia memakai metode mengajar sangat keras.

Karakter Fletcher itulah yang membuat Neiman terpantik. Meskipun dengan amat depresif, ia dapat mengolah segala cercaan dan makian Fletcher untuk meningkatkan kemampuannya. Hal tersebut sepertinya menjadi titik temu kedua karakter tokoh yang berbeda ini.

Sesungguhnya, sikap keras Fletcher yang berdarah dingin itu hanya terjadi pada urusan professional. Di luar kelas, kita disuguhi pemandangan keramahan dan kehangatan Fletcher, bahkan kepada Neiman yang pernah cekcok dengannya. Sangat timpang jika kita membandingkannya dengan tokoh bersifat serupa, seperti Snape dalam Harry Potter.

***

Whiplash ditutup dengan bergabungnya Neiman pada band professional pimpinan Fletcher. Band itu tak terikat lagi dengan Shaffer karena mereka sudah tidak berada di sana. Kini, mereka menjadi band undangan untuk JVC, sebuah festival jaz.

Mencapai penutup, Fletcher masih memberikan konflik bagi Neiman yang membuatnya hampir putus asa dua kali. Janji Fletcher yang mengatakan bahwa band nya memainkan lagu-lagu andalan sewaktu di kelas ternyata cuma sebatas di bibir. Band malah memainkan lagu baru dengan notasi yang tidak diketahui oleh Neiman.

Alhasil, Neiman pun mati kutu. Niat Neiman untuk menyesuaikan nadanya justru mengacaukan lagu dengan improvisasi yang tidak tepat. Karena menanggung malu, ia akhirnya keluar panggung.

Akan tetapi, Neiman tak mau menyerah pada keadaan. Ia kembali lagi ke panggung. Kali ini dengan niat berbeda, yakni untuk melawan otoritas Fletcher sebagai konduktor. Neiman langsung membuka lagu “Caravan” dengan ketukannya saat sesi jeda setelah lagu pertama.

Peristiwa itu menunjukkan jika Whiplash sebenarnya bukan film yang semata menonjolkan relasi dua tokoh sentralnya, Andrew Neiman dan Terence Fletcher. Hubungan guru-murid bisa dibilang cuma pengantar karena latarnya memang di sebuah sekolah musik.

Whiplash pada akhirnya justru menggiring penonton seawam saya memperoleh tafsir lain, yaitu tentang kesetaraan. Walaupun beberapa kali Fletcher kedapatan murka, tapi sikap yang diperlihatkan Neiman seterusnya menunjukkan jika guru dan murid itu duduk sama tinggi.

Neiman mencoba meruntuhkan kekuasaan Fletcher sebagai konduktor dengan pemberontakan-pemberontakan kecil. Dimulai tatkala dia memprotes Fletcher saat kehilangan posisinya sebagai drumer inti. Hingga puncaknya, saat Neiman memberikan penampilan solo terbaik sewaktu konser di JVC. Bagian-bagian itulah yang menawarkan pandangan alternatif bagi saya mengenai Whiplash.

Selain materi film yang jempolan, backsound juga menambah aura musik jaz yang begitu kental Setiap ketukan dan alunannya bagai seiring-sebangun dengan alur film. Singkatnya, Whiplash akan membuatmu terangguk-angguk, kadang dengan perasaan senang, kadang juga depresif. Perasaan-perasaan itu menghinggap ketika menontonnya.

Ahmad Yasin

Editor: Danang

Check Also

Empat Piring di Hari Minggu Keluarga Laut

Judul : Laut Bercerita Penulis : Leila S. Chudori Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) …