Home » Berita » Film ‘HAM, Aku Nang Kene’ Mempertanyakan Pembangunan

Film ‘HAM, Aku Nang Kene’ Mempertanyakan Pembangunan

Pemutaran film “HAM, Aku Nang Kene” dan diskusi di Student Center UNY. Foto oleh Riri/EKSPRESI.

Paguyuban Warga (PW) UNY mengadakan pemutaran film “HAM, Aku Nang Kene” pada Kamis (15/3) di Student Center UNY, lantai 1. Film dokumenter garapan Jogja Darurat Agraria dan Omah Kreatif ini merupakan gabungan video dokumentasi yang diambil saat terjadi penggusuran rumah warga oleh Angkasa Pura I dan aparat di Temon, Kulon Progo. Pada sesi diskusi setelah pemutaran film, Wisnu Utomo, selaku Teman Temon sekaligus pembicara, mengungkapkan bahwa film ini ialah gambaran nyata tentang kondisi yang terjadi di wilayah terdampak proyek bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA), Kulon Progo.

“Itu bukan film yang disetting untuk nangis-nangis. Itu benar-benar natural, respon yang keluar saat mereka (korban penggusuran) dianggap tidak ada. Dan yang menganggap tidak ada ini adalah negara, dan kemudian negara memaksa mereka harus tunduk,” kata Wisnu tegas.

Wisnu, lebih lanjut, menjelaskan alasan kawan-kawan bersolidaritas dan merapat ke Kulon Progo lantaran terdapat realitas seperti yang terdapat dalam film tersebut. Seperti diceritakannya, kejadian pencabutan listrik, perusakan pohon, sawah, dan mata pencaharian merupakan kenyataan yang ada di Kulon Progo. “Menolak bandara tanpa syarat salah satunya dengan mempertahankan tanah dan pohon-pohon yang ada di atasnya,” terangnya.

Soejatnoe, Mahasiswa S2 Ketahanan Nasional, sebagai pembicara lain, mencoba membedah persoalan pembangunan bandara di Kulon Progo. Menurutnya, upaya perampasan ruang hidup saat ini berbeda dengan masa kolonial. Jika dulu dilakukan perampasan secara fisik, sekarang menggunakan instrumen hukum sebagai dalih untuk mewujudkan perampasan tanah. “Hukum dibuat untuk melanggengkan sistem yang kapitalistik atau untuk mewujudkan tanah partikelir. Itu kondisi yang terjadi.” ujarnya.

Ia menambahkan, “Saya bukan berarti menolak pembangunan, bahwa pembangunan itu perlu, tapi pembangunan yang seperti apa, itu yang kita tegaskan. Pembangunan untuk siapa? Tetapi jika pembangunan itu untuk pemodal, itu sama saja blunder.”

Soejatno juga membantah anggapan bahwa pembangunan bandara dapat menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Baginya, hal itu adalah mitos. “Kalau memang akan disediakan lapangan pekerjaan, kira-kira pekerjaan apa yang akan diperoleh? Apakah masyarakat terdampak akan menjadi manajer? Atau office boy? Atau tukang parkir?” Menurutnya, parkir pesawat saja harus bersertifikasi. Ia pun melanjutkan, “Lebih sejahtera mana ketika dia bertani, berdaulat secara mandiri, menjadi tuan untuk dirinya sendiri, ataukah menghamba bagi bangsanya sendiri atau kepada kaum pemodal?”

Sebagai pernyataan sikap, PW UNY dalam rilisnya menolak pembangunan bandara NYIA didasarkan atas fakta adanya perlakuan keji dari aparatur negara dan pembangunan yang sedari awal sudah cacat hukum. PW UNY juga mengajak seluruh sivitas akademika UNY untuk mendukung perjuangan warga Kulon Progo dalam upaya menolak NYIA. Acara pemutaran film dan diskusi ini dihibur oleh penampilan UNSTRAT, Sicma, dan Loemintu.

Ahmad Yasin

Editor: Danang S

Check Also

Gerbang Bintang Selatan Nyatakan Pro Bandara

Sejumlah massa yang mengatasnamakan dari organisasi masyarakat (ormas) Gerbang Bintang Selatan (GBS), sekitar pukul satu …