Home » Opini » Anarkisme dan Obsesi pada Ketertiban

Anarkisme dan Obsesi pada Ketertiban

Ilustrasi oleh Sunardi/EKSPRESI

Oleh Hysa Ardiyanto

(Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Keolahragaan UNY 2017)

Saya tertarik untuk menanggapi opini Sunardi yang berjudul “Perjuangan Anarkisme yang Tidak Mudah” (ekspresionline.com, 4/4/2018). Melalui tulisan ini, saya ingin urun rembuk pada kata anarkis yang digunakan secara serampangan oleh media massa dan penegak hukum. Selanjutnya, saya akan mencoba menarik permasalahan ini ke dunia pendidikan dan obsesinya pada ketertiban.

Memulai pembahasan anarkisme, dengan terlebih dahulu mengarahkan pandangan pada media massa, menurut saya adalah langkah yang cermat. Media massa dianggap memiliki kekuatan mempengaruhi pemahaman masyarakat atas suatu konsep, kondisi, fenomena atau berita sekalipun. Ini juga yang menimpa suatu pandangan politik bernama anarkisme. Dalam media massa, sebagaimana disimpulkan oleh Sunardi, anarkisme—media massa lebih sering menggunakan kata “anarkis” yang merujuk pada aksi atau tindakan—selalu diartikan secara negatif.

Media massa memang sering menampilkan pengertian anarkis secara tidak tepat. Namun saya kira media massa bukan gagal dalam memahami anarkisme. Lebih tepatnya, media massa tidak peduli. Memeriksa pengertian suatu ideologi berdasarkan literatur yang sahih hanya buang-buang waktu saja, apalagi bagi mereka yang selalu dikejar-kejar tenggat.

Pada jenis media massa tertentu bahkan akurasi berita pun kadang diabaikan, yang penting lebih cepat daripada media lain. Toh, nanti juga bisa diralat pada berita berikutnya. Kita lihat sendiri bagaimana kebanalan terus-terusan diproduksi oleh televisi kita. Jadi, media massa memang tidak peduli pada urusan anarkisme ini. Celakanya, mereka sering lebih dipercaya oleh masyarakat kita.

Selain media, ada pihak-pihak lain yang tidak kalah ngawur dalam menggunakan istilah anarkis. Salah satunya adalah para penegak hukum. Lihat saja judul artikel berita: “Demi Keamanan Bersama, Kapolsek Tugu Himbau Para Suporter Bola Tidak Anarkis” (polrestrenggalek.com, 3/2/2018) dan “Kapolsek Tangerang Himbau Buruh untuk Tidak Anarkis” (restrotangerang.info, 27/4/2016). Hal yang sama dinyatakan oleh Kabag Ops Polres Jayawijaya, “… selain itu masyarakat jangan melakukan aksi anarkis yang merugikan masyarakat sekitar ….” (tribratanews.papua.polri.go.id, 22/2/2018). Pengertian anarkis yang dimaksud tentu jauh menyimpang dari pengertian sebenarnya.

Saya menduga polisi dan media massa saling meminjam kata anarkis ini. Entah polisi yang memakai istilah yang sudah dipopulerkan oleh media massa, atau media massa mereplikasi pernyataan polisi tanpa verifikasi. Apapun itu, seharusnya penegak hukum menggunakan istilah dengan disiplin. Tindakan rusuh dan kriminal disebut sebagai aksi anarkis itu pengertian dari mana? Bahasa hukum seharusnya mengandung pengertian yang tepat dan memiliki kesatuan makna yang jelas.

Saya kira kedua hal yang berkaitan dengan penggunaan kata anarkis ataupun anarkisme di atas tidak lepas dari pendidikan. Pendidikan sering disebut-sebut sebagai faktor yang menentukan karakter sebuah bangsa. Bagaimana pendidikan bersinggungan dengan anarkisme?

Judith Suissa, seorang pakar filsafat politik dan teori pendidikan, mengangkat anarkisme dan pendidikan dalam bukunya yang berjudul “Anarchism and Education: A Philosophical Perspective” (2006). Menurutnya, anarkisme memiliki nilai-nilai inti yang positif seperti persamaan dan persaudaraan. Bukunya sendiri lebih banyak membahas  tataran ide dibandingkan bagaimana anarkisme dipraktikkan dalam pendidikan.

Sekolah anarkis—atau pseudo-anarkis—pada kenyataannya tidak bertahan lama. Escuela Moderna Barcelona (1904-1907) dan The Ferrer School New York and Stelton (1911-1953) adalah contohnya. The Walden Center and School Berkeley yang masih bertahan sampai sekarang tidak menampilkan prinsip anarkis secara eksplisit. Menerapkan anarkisme dalam pendidikan diakuinya memang tidak mudah karena bagaimanapun keberadaan otoritas yang menjamin pendidikan nasional masih dianggap penting.

Terlepas dari gagasan Suissa, secara umum pendidikan kita masih alergi dengan ide-ide anarkisme. Sistem sekolah sedikit-banyak menunjukkan hal itu. Obsesi terhadap ketertiban dengan guru dan kepala sekolah sebagai pemegang otoritas masih melekat. Ditambah lagi satu gagasan bernama kedisiplinan.

Masalah pada media massa dan penegak hukum dalam menggunakan kata anarkis terletak pada kedisiplinan dalam menggunakan istilah. Sayangnya, berpikir logis melalui penggunaan istilah-istilah secara ketat tidak termasuk dalam kedisiplinan. Makna disiplin telah direduksi ke dalam baris-berbaris, pakaian seragam, dan potongan rambut.

Sekolah sangat terobsesi pada ketertiban. Tertib, teratur, dan menuruti aturan adalah hal yang baik. Masalahnya adalah ketika ketertiban ini diciptakan dengan menghadirkan otoritas secara berlebihan tanpa adanya pemberdayaan, bukan menumbuhkan kesadaran jika siswa mampu mengatur dirinya sendiri. Akibatnya, ketika otoritas tidak hadir, semua bentuk ketertiban menjadi berantakan. Tawuran, klithih, atau tindakan yang sering disebut kenakalan remaja di luar sekolah mencerminkan hal tersebut.

Obsesi pada ketertiban sudah menjangkiti sejak dini. Saya pernah memperhatikan anak-anak TK yang berlatih untuk lomba drum band. Para pendidik mungkin akan mengatakan jika drum band dapat melatih kecerdasan bermusik anak, atau setidaknya mengajarkan kekompakan. Bagi saya, itu lebih menunjukkan obsesi pemegang otoritas (guru atau pelatih) atas ketertiban, keteraturan dan disiplin yang semu. Bunyi instrumen musik menjadi alat untuk mengukur kepatuhan siswa pada aturan yang dibebankan kepadanya.

Saya sependapat dengan pernyataan Sunardi, “… ketika anarkisme susah untuk diterapkan, bukan berarti kita tidak mendapatkan sebuah pelajaran dari aliran filsafat yang satu ini.” Membayangkan sebuah tatanan masyarakat anarkis harus diakui terdengar utopis, tetapi bukan berarti tidak ada manfaat dari mempelajari filsafat politik ini. Anarkisme berharga sebagai suatu gagasan yang merangsang untuk berpikir.

Sebagaimana aliran-aliran filsafat politik lainnya, anarkisme justru menarik karena bermain pada tataran gagasan. Anarkisme memberi inspirasi untuk berdaulat dalam berpikir dan melawan otoritas-otoritas imajiner yang kita hadapi sehari-hari. Anarkisme menunjukkan bahwa ada jalan lain yang mungkin. Bukankah ini begitu menggairahkan?

Editor : Riri Rahayu

Check Also

Project Manager Pembangunan NYIA Dilaporkan ke Polisi

Ekspresionline.com – Sujiastono, Project Manager Pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) PT Angkasa Pura (AP) …