Home » Opini » Nasib Nahas Seorang Vincent

Nasib Nahas Seorang Vincent

Dokumen istimewa.

Melalui ratusan suratnya, yang berjumlah sekitar 820 pucuk, publik dunia mengenal Vincent van Gogh, seorang pria yang dianggap tidak waras yang hingga ajal menjemput tetap percaya bahwa seni rupa merupakan jalan hidupnya.

 “Aku senang kita berdua sekarang bekerja untuk galeri yang sama. Tapi Anda juga harus sering ke museum. Sebaiknya Anda juga berkenalan dengan karya-karya lama. Dan kalau ada waktu, sebaiknya juga Anda bacai buku-buku seni,” kata Vincent pada surat yang dikirim kepada adiknya, Theo van Gogh, pada 19 November 1873. Vincent dan Theo memang mulai bekerja di sebuah galeri seni Goupil & Cie. Vincent mulai mencari nafkah pada 1869 di Den Haag, sedang Theo pada 1873 di Brussels, Belgia.

Vincent, menurut laporan Tempo edisi 2-8 April 2018, memang sangat memercayai Theo. Bahkan, dalam suratnya pada 1883, ia menyebut, “Sebenarnya saya ini tidak punya teman, kecuali Anda. Dan kalau saya merasa begitu pedih, Andalah yang selalu muncul dalam ingatan.” Vincent memang kerap memanggil Theo dengan sebutan “Anda”, bukannya “kamu”, walau itu terkesan sangat formal.

Theo, sampai saat ini, diketahui sebagai orang yang terbanyak menerima surat dari Vincent. Dari 820 surat Vincent, 650 di antaranya tertuju pada Theo. Berdasar temuan surat-menyurat inilah, diketahui cuplikan kisah hidup Vincent, yang akhirnya membuat Dorotea Kobiela dan Hugh Welchman, membuat film tentang Vincent berjudul Loving Vincent.

Loving Vincent ini juga masuk nominasi Oscar tahun lalu untuk kategori film animasi terbaik, bersanding bersama Coco, Ferdinand, The Boss Baby serta The Breadwinner. Namun, sayang, Loving Vincent tak berhasil menggondol piala Oscar yang dimenangkan oleh Coco.

Penggarapan yang Massal dan Kolosal

Dorota Kobiela, sutradara film ini, merupakan pelukis asal Polandia yang tertarik dengan animasi dan film. Mulanya, film ini bakal dijadikan film pendek berdurasi sekitar 7 menit dan untuk frame-nya bakal dikerjakan Kobiela sendiri.

Seiring berjalannya waktu, ternyata proyeknya ini berkembang jadi proses yang jauh lebih besar ketimbang ide mulanya. Maka jelas, Kobiela tak sanggup mengerjakannya sendirian. Berkat dana patungan dari Institut Film Polandia, film ini diputuskan menjadi film panjang. Tak tanggung-tanggung, pembuatan film ini dilakukan selama empat tahun.

Dalam pengerjaanya, ia dibantu oleh  Hugh Welchman. Mulanya, tim produksi menyeleksi nyaris 5000 orang pelukis yang melamar, tetapi hanya 125 saja yang lolos. Tim sengaja memilih pelukis yang sudah teruji kemampuannya daripada sekadar animator. Selanjutnya, mereka harus dilatih di Museum van Gogh selama 18 bulan untuk mengakrabi serta belajar teknik sapuan kuas van Gogh. Belum cukup sampai di situ, gelanggang para pelukis dari 20 negara itu baru akan tiba.

Proses pembuatan tidak kalah rumit. Langkah pertama, harus ada terlebih dahulu rekaman adegan yang diperankan aktor secara langsung. Lantas, menggunakan latar belakang lukisan Vincent, akhirnya tiap adegan yang sudah direkam tadi dilukis. Lukisan yang dijadikan latar belakang itu seperti, Starry Night, The Café, dan Wheatfield with Crows, dan masih banyak lagi. Tak ayal, Kobiela mengklaim bahwa mereka telah membuat film terlama dengan proses yang panjang serta rumit. Bayangkan, untuk satu frame yang panjangnya hanya satu detik saja, mereka bisa menghabiskan waktu selama satu bulan. Film yang berdurasi 94 menit itu tak ayal menghasilkan 65.000 lukisan. Itu pun tidak semua lukisan, karena ada lukisan yang harus ditimpal untuk adegan lain. Tak tanggung-tanggung, demi menghasilkan persembahan untuk sang maestro, mereka menghabiskan 3.000 liter cat air dan lebih dari 800 kanvas.

Bunuh diri?

Narasi di film itu sebetulnya biasa-biasa saja. Akan tetapi, yang menarik adalah film ini berniat mempertanyakan kembali kematian Vincent—bunuh diri atau dibunuh? Alur film ini memang didasarkan pada surat-surat Vincent yang dikirimkan kepada adiknya, Theo van Gogh. Tercatat lebih 820 buah surat yang berhasil dikumpulkan. Alurnya cenderung linear, mengikuti Armand, seorang anak kepala sebuah kantor pos yang menjadi tokoh utama dalam film ini. Di film ini, Vincent tidak menjadi tokoh utama, akan tetapi Armand-lah yang menjadi titik tumpu film ini.

Armand, yang merupakan anak dari seorang kepala kantor pos, Joseph Roulin, berupaya mengirimkan surat terakhir Vincent kepada adiknya, Theo, yang belum terkirim. Armand sejatinya merasa ogah untuk memenuhi keinginan ayahnya itu. Namun, pak tua Roulin yang mengetahui kematian van Gogh beberapa waktu sebelumnya, merasa ada yang aneh. Bagaimana mungkin Vincent yang beberapa pekan sebelum kematiannya terlihat sehat dan ceria, bisa bunuh diri. Ia bersikukuh bahwa Vincent tak mungkin bunuh diri. Memang, Vincent pernah disangka mempunyai penyakit kejiwaan. Hal itu didasari oleh peristiwa percekcokan antara dua pelukis, Paul Gauguin dan Vincent. Saat itu, Vincent mengejar Gauguin dengan membawa silet, dan berujung pada Vincent memotong telinganya lantas diberikan kepada seorang pelacur bernama Rachel.

Berkat sedikit paksaan dari sang ayah, akhirnya Armand mau mengantarkan surat itu dan berangkat ke Paris, tempat Vincent bermukim selama beberapa waktu. Dari situlah, kepingan demi kepingan kehidupan Vincent van Gogh mulai terkuak.

Auvers, sebuah kota kecil di pinggiran Paris, menjadi latarnya. Bagai seorang detektif, Armand menggali kepingan-kepingan itu—mulai dari mengunjungi tempat di mana Gogh pernah membeli peralatan lukis, tempatnya menginap, hingga berbicara dengan Gachet, dokter yang merawat Vincent.

Dari Dokter Gachet lah, Armand memperoleh penyebab kematian Gogh. Menurut keterangan Gachet, beberapa pekan sebelum Vincent memilih mengakhiri hidupnya, ia pernah berdebat hebat dengan Gachet. Pada akhirnya, perdebatan itu membuat Gachet mengatakan bahwa Gogh tidak pernah berpikir, apakah dia menyusahkan keluarga atau setidaknya orang terdekatnya. Seketika itu pula Vincent teringat saudaranya, yakni Theo. Sejak itulah, Vincent jadi berpikir, apakah dia sudah menyusahkan orang lain dalam hidupnya yang hanya kenal melukis dan melukis itu?

Pada suatu siang di penginapan Auvers, tiba-tiba Vincent berjalan memasuki penginapan dengan terhuyung-huyung. Sebuah timah panas bersarang di perut sebelah kiri. Apakah Vincent lebih memilih bunuh diri daripada harus menyusahkan saudara laki-lakinya? Film ini tidak memberikan jawaban pasti.  Enam bulan sejak kematian Vincent, 29 Juli 1890, Theo pun menyusul Gogh ke alam baka.

Vincent Van Gogh, pelukis yang justru dikenal tatkala ia sudah tiada. Berkat surat-suratnya yang berjumlah ratusan itu, ia dapat ditelusuri. Dan dari surat-suratnya itulah, film ini dibangun. Vincent, hingga ajal menjemput masih percaya pada seni lukis, bahwa di sanalah ia dapat berpegang. Namun, selama hidupnya, hanya satu lukisan saja yang terjual. Ini ironi. Vincent yang semasa hidup menghasilkan sekitar 2000-an lukisan, 860 lukisan cat minyak, 1.300-an cat air, gambar dan sketsa.

A.S. Rimbawana

Editor: Ikhsan Abdul Hakim

Check Also

Project Manager Pembangunan NYIA Dilaporkan ke Polisi

Ekspresionline.com – Sujiastono, Project Manager Pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) PT Angkasa Pura (AP) …