Home » Margin (page 2)

Margin

Orang-Orang yang Diperburuh

Lima tahun berjuang mempertahankan sumber penghidupan. Puncaknya, tanah resmi dirampas dengan penetapan Undang-Undang No. 2 Tahun 2012. Selasa, (20/09), hari masih dini, baru sekitar pukul lima lebih. Sepagi itu, seorang perempuan paruh baya menyusuri rel dari arah barat, menantang matahari. Dari kejauhan, tampak gubuk bambu didominasi warna merah dan kuning. Perempuan itu sempat berhenti di depan gubuk selama beberapa menit. …

Read More »

Laut Panas Nelayan Roban

Aktivitas melaut warga terusik. Berdirinya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Batang dinilai bakal merugikan mata pencaharian nelayan. Sekira lima belas meter jarak rumah itu dari galangan kapal. Sebelah kanan ada setapak kecil menuju Pantai Ujungnegoro yang bisa ditempuh berjalan kaki selama lima menit. Seberangnya lagi berdiri kamar mandi sekitar empat meter berdampingan dengan jembatan bambu yang menjadi penghubung ke …

Read More »

Di Tengah Keterbatasan Dana

Tidak adanya dana khusus untuk menjalankan berbagai kegiatan mahasiswa Bidikmisi membuat Bangun Tri Sudianto harus memutar otak. Fomuny tetap bisa menjalankan berbagai kegiatannya dengan dana yang belum jelas, terkadang pengurus Fomuny menggunakan dana pribadi meski keuangan mereka terbatas. Begitulah ungkapan Bangun Tri Sudiatno, koordinator Family Of Mahadiksi UNY (Fomuny) 2016. Bangun baru saja mengikuti kegiatan uji coba computer based test …

Read More »

Sejarah May Day ialah Penuntutan Kesejahteraan

Tiba-tiba Reva merengek ingin pulang. Entah karena tak tahan panas terik matahari atau karena riuhnya orang-orang berteriak dengan speaker keras-keras di atas mobil bak terbuka. Reva belum tahu kalau orang-orang yang berteriak di sekitar Reva tengah aksi memperingati Hari Buruh sedunia. “Bu, muleh yuk,” rengek Reva sambil menarik-narik baju ibunya. Reva, anak laki-laki berusia lima setengah tahun itu ikut berpeluh …

Read More »

Pramoedya: Indonesia, “Orang Sakit” Asia Tenggara

*Pertama kali dimuat di Majalah EKSPRESI Edisi XVI Tahun 2003 “Sastra Pinggiran”. Kekejaman Orde Baru memang tak pernah hilang dari ingatan seorang novelis sejarah terbesar di Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Ia tidak dibiarkan lagi mendengar kicauan burung, gemerisik angin menyapa pepohonan, bahkan suara pencuri-pencuri kecil yang menjamah kebun di samping rumahnya, kawasan pinggiran Bogor, karena pukulan keras Tentara Indonesia telah …

Read More »