Home » Margin (page 2)

Margin

Sejarah May Day ialah Penuntutan Kesejahteraan

Tiba-tiba Reva merengek ingin pulang. Entah karena tak tahan panas terik matahari atau karena riuhnya orang-orang berteriak dengan speaker keras-keras di atas mobil bak terbuka. Reva belum tahu kalau orang-orang yang berteriak di sekitar Reva tengah aksi memperingati Hari Buruh sedunia. “Bu, muleh yuk,” rengek Reva sambil menarik-narik baju ibunya. Reva, anak laki-laki berusia lima setengah tahun itu ikut berpeluh …

Read More »

Pramoedya: Indonesia, “Orang Sakit” Asia Tenggara

*Pertama kali dimuat di Majalah EKSPRESI Edisi XVI Tahun 2003 “Sastra Pinggiran”. Kekejaman Orde Baru memang tak pernah hilang dari ingatan seorang novelis sejarah terbesar di Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Ia tidak dibiarkan lagi mendengar kicauan burung, gemerisik angin menyapa pepohonan, bahkan suara pencuri-pencuri kecil yang menjamah kebun di samping rumahnya, kawasan pinggiran Bogor, karena pukulan keras Tentara Indonesia telah …

Read More »

Perempuan Jangan Hanya di Rumah Saja!

Hari Kartini, 21 April, sebagai pengingat kembali emansipasi, bukan malah memperingati Kartini-nya. Begitu kalimat pembuka dari Rhoma Dwi Aria, Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta. Dosen yang sering dipanggil Rhoma ini menekankan bahwa kesadaran terhadap sejarah itu yang terpenting. “21 April, sebagai hari siapa itu subjektif. Namun, yang paling penting, hari itu harus dimaknai sebagai hari perlawanan perempuan terhadap penindasan,” …

Read More »

Kala Aksi Terjawab Represi

 GNP mendapat represivitas aparat setelah dituduh merusak mobil salah satu panitia FRI. Jalur hukum yang tengah ditempuh tak membuat tuntutan utama mereka soal pendidikan mengendur. Berbeda dengan biasanya, halaman Gedung Student Center (SC) UNY ramai oleh polisi dan petugas keamanan kampus pada Sabtu malam (30/1). Salah satu anggota UKM Ekspresi, Rinda Zakaria, menghitung tak kurang dari 20 anggota petugas keamanan …

Read More »

Seolah Budaya Harus Teralienasi dari Agama

K.H. Abdul Muhaimin, salah satu pembicara dalam Sarasehan Budaya BEM FBS, menuturkan persoalan agama dan budaya yang muncul dalam masyarakat dewasa ini. Sabtu (7/11), dengan mengusung tema “Jalan Sunyi Menuju Religiositas”, di awal perbincangan ia menyampaikan satu kritik terhadap pemilihan tema. Mestinya menggunakan kata “hening” bukan “sunyi” tanpa alasan panjang lebar ia lanjut dengan penyempurnaan, “Harusnya menggunakan Jalan Hening Menuju …

Read More »