Home » Opini (page 2)

Opini

March, 2017

  • 27 March

    Memelihara Ketakutan

    Oleh Geger Riyanto (Peneliti sosiologi, bergiat di Koperasi Riset Purusha) Saya paham betapa mengerikannya penguasaan tanah satu negeri oleh segelintir orang. Saya paham, tak ada pikiran waras yang dengan sendirinya dapat membenarkan angka dari Badan Pertanahan Nasional. Angka yang menunjukkan, 56 persen properti, tanah, dan perkebunan di Indonesia dikuasai oleh 0,2 persen penduduk. Namun begitu, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, yang …

  • 26 March

    Delusi Agen Perubahan

    Oleh Windu Jusuf (Kolumnis Indoprogress.com) Saya hanya bisa geleng-geleng kepala saat mendengar istilah “hipokrisi mahasiswa saat ini”. Sebabnya sederhana: bukannya kesimpulan itu selalu didasari prasangka bahwa generasi mahasiswa hari ini dan yang akan datang selalu saja lebih bodoh, cetek, lembek, tidak peduli masyarakat, dan hanya kepingin bersenang-senang? Kata “lebih” di sini menjadi problematis. Lebih dari siapa? Jika hanya “kita” yang …

  • 26 March

    Transisi Tarian Daerah Menjadi Budaya Populer

    Tarian bisa diartikan dalam berbagai perspektif, tergantung di mana tarian tersebut berasal. Tarian biasa dipentaskan saat musim tanam atau panen, upacara adat, penyambutan tamu, bahkan saat acara pernikahan. Artinya, tarian di era global ini telah berkembang sebagai budaya multiguna. Dahulu tarian hanya dipentaskan pada acara tertentu saja. Melalui gerakan yang dinamis, energik, dan penuh makna, tarian merupakan sebuah ritual yang …

  • 24 March

    Mereka yang Menolak Mati

    Oleh Aunurrahman Wibisono (Jurnalis Tirto.id) “When you start thinking about what your life was like 10 years ago –and not in general terms, but in highly specific details– it’s disturbing to realize how certain elements of your being are completely dead. They die long before you do.” (Chuck Klosterman dalam Killing Yourself to Live: 85% of a True Story) Beberapa …

  • 19 March

    Dangdut: Kian Populer, Kian Miskin Makna

    Malam itu, tiga tahun lalu, alun-alun Pemda Gunungkidul penuh sesak dengan manusia. Ribuan orang berkumpul untuk berjoget. Semua turut ambil bagian, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga kakek-nenek. “Asli dari Kota Pete Sidoarjo, panggil sama-sama … Sumber Wulu bergoyang, Sumber Wulu bergetar! S E R A … seraaaa, Viaaaa Valen, masih bersama panjenengan semuanya!” teriak MC dengan suara khasnya pertanda …