Home » Opini (page 20)

Opini

April, 2014

  • 15 April

    Penyakit Kronis Menghinggapi PPMI

    Ketika saya mengikuti Kongres Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) yang ke-XII di Mataram, Nusa Tenggara Barat, terbesit dalam pemikiran saya tentang kebesaran PPMI. Menginjak usia yang ke-22 tahun, PPMI seakan berdiri di tempat. Sama halnya saat sebelum kongres, para pendahulu datang dan memaparkan bagaimana kondisi PPMI pada saat ia menjadi pengurusnya. Begitu pula pengurus periode sebelumnya yang memaparkan bahwasanya PPMI …

  • 15 April

    Reinkarnasi Belenggu Informasi

    Saya teringat pada esai Goenawan Mohammad dalam Catatan Pinggir edisi ke-5. Esai yang sebelumnya dimuat di Suara Independen pada September 1995 tersebut berjudul Egokarsi. Di dalamnya ada penggalan cerita dua wartawan yang dipenjarakan selama 32 bulan. Ahmad Taufik dan Eko Maryadi (Item) adalah wartawan yang dijebloskan ke penjara karena dituduh menerbitkan majalah Forum Wartawan Independen. Meskipun mereka tidak pernah disebut …

  • 15 April

    Jakarta yang Tidak Pernah Sabar

    Jika arti dari kampung halaman adalah tanah kelahiran, saya masih mengakui tempat kelahiran saya. Sayangnya, menurut saya arti kampung halaman bukan sekedar tempat kelahiran. Kampung halaman adalah tempat yang bisa memberikan kenyamanan, memberikan kepastian akan kebebasan hidup kita. Sehingga saya beranggapan, kota yang saya tinggali inilah sebagai kampung halaman saya saat ini. Berkali-kali pulang ke tanah kelahiran, berkali kali pula …

  • 15 April

    Kunjungan Caleg Lima Tahunan

    “Besok mau milih apa, Pak?” tanya seorang tetangga (baca: X) yang juga menjadi tim sukses salah satu calon legislatif (caleg) kepada Bapak saya. Bapak hanya tersenyum. Ternyata X mengira bahwa Bapak masih bingung hendak memilih siapa pada 9 April yang akan datang.  X lalu mengeluarkan dua potong kain batik yang dibungkus plastik lengkap dengan brosur profil caleg dan, tanpa banyak …

  • 6 April

    Sementara Melupakan, Hal Termudah untuk Mengingat

    Sejak umur lima setengah bulan, aku tinggal bersama Si Mbah. Aku dibesarkan dengan susu sapi dan manis gula sampai umur tiga tahun, kelas dua Madrasah Ibtidaiyah (MI). Tentu saja aku tidak pernah merasakan air susu Ibu dan kasih sayangnya yang katanya sangat menyenangkan. Sampai aku mengetahui bahwa aku memiliki adik perempuan. Aku tidak merasa senang, bahkan seakan tidak mengenalnya saat …