Home » Opini (page 5)

Opini

April, 2017

  • 30 April

    Musik Melayu: Tak Sekadar Mendayu

    Berbicara tentang musik artinya membicarakan selera. Setiap orang pasti memiliki gaya musiknya sendiri. Di dunia ini terdapat bermacam-macam jenis musik. Sebut saja musik Rok, Pop, R&B, Hip-Hop, Jaz—yang notabene masuk dalam gugus musik populer. Musik-musik populer tersebut begitu digandrungi remaja Indonesia. Akan tetapi, di sini saya tidak ingin membahas jenis-jenis musik di atas. Barangkali jenis musik tersebut sudah terlalu populer …

  • 30 April

    Tren Kepedulian pada Hari Peduli Autisme Sedunia

    “Normal people have an incridible lack of empathy. They have good emotional empathy, but they don’t have much empathy for the autistic kid who is screaming at the baseball game because he can’t stand the sensory overload. Or the autistic kid having a meltdown in the school cafetaria because there’s too much stimulation.” —Temple Grandin— Autisme pada Mulanya Merupakan pengetahuan …

  • 8 April

    Dangdut: dari Qosidah hingga NDX AKA

    Sejarah Singkat Perkembangan Dangdut Konon, gendang yang dipukul dan menghasilkan suara “dang” dan ”dut” menjadi awal kata “dangdut” tercipta. Salah satu jenis musik Indonesia ini mampu membuat para penggemar dari pelbagai usia menyukainya. Dari lagu, para artis, hingga goyangannya yang bisa menghipnotis. Awal mulanya, musik dangdut ini datang ke Nusantara dibawa oleh para saudagar Arab sekitar tahun 635. Selain itu, …

March, 2017

  • 27 March

    Memelihara Ketakutan

    Oleh Geger Riyanto (Peneliti sosiologi, bergiat di Koperasi Riset Purusha) Saya paham betapa mengerikannya penguasaan tanah satu negeri oleh segelintir orang. Saya paham, tak ada pikiran waras yang dengan sendirinya dapat membenarkan angka dari Badan Pertanahan Nasional. Angka yang menunjukkan, 56 persen properti, tanah, dan perkebunan di Indonesia dikuasai oleh 0,2 persen penduduk. Namun begitu, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, yang …

  • 26 March

    Delusi Agen Perubahan

    Oleh Windu Jusuf (Kolumnis Indoprogress.com) Saya hanya bisa geleng-geleng kepala saat mendengar istilah “hipokrisi mahasiswa saat ini”. Sebabnya sederhana: bukannya kesimpulan itu selalu didasari prasangka bahwa generasi mahasiswa hari ini dan yang akan datang selalu saja lebih bodoh, cetek, lembek, tidak peduli masyarakat, dan hanya kepingin bersenang-senang? Kata “lebih” di sini menjadi problematis. Lebih dari siapa? Jika hanya “kita” yang …