Home » Resensi » Film

Film

Kartini, Pelopor Kemajuan Peradaban Rakyatnya

Lantunan tembang Jawa pada malam yang senyap dan kelam menjadi pembuka sebuah latar abad-19. Keributan malam terjadi. Terdengar suara tangisan bayi. Ialah Kartini, seorang anak dari Bupati Jepara yang dilahirkan pada 21 April 1879. Kisah beranjak pada Kartini kecil. Ia menangis karena tidak diizinkan lagi tidur bersama Ngasirah muda (Nova Eliza), Ibu kandungnya. R.M.A. Sosroningrat, ayah Kartini (Deddy Sutomo), mengatakan kepada …

Read More »

Lavender: Halusinasi yang Membongkar Rahasia

Apakah ada orang di dunia ini yang ingin kehilangan ingatannya atau lebih sering disebut amnesia? Saya rasa tidak ada. Penyakit seperti itu sangat dihindari oleh banyak orang, begitu pula dengan Jane (Abbie Cornish) dalam film Lavender. Tahun 1985 silam, keluarga Jane ditemukan tewas di dalam rumahnya. Traumatik dan tujuh retakan di otak membuat ingatan Jane tentang kejadian tersebut buyar. Setelah …

Read More »

Pink: Inferioritas dalam Panduan Keselamatan Perempuan

Panduan keselamatan perempuan: Seorang perempuan seharusnya tak pernah bersama seorang pria seorang diri. Tidak untuk ke penginapan maupun ke toilet. Jika mereka melakukannya, maka mereka sudah bersedia untuk diperlakukan dengan tidak pantas (1:10:49). Perempuan tidak boleh mengobrol dengan pria sambil tersenyum ataupun menyentuhnya karena akan dianggap sebagai “kode” (1:16:45). Jam kerja menentukan karakter seseorang. Saat perempuan berjalan sendiri di malam …

Read More »

Manchester by the Sea, Drama tanpa Dramatisasi

Lee Chandler, petugas kebersihan merangkap tukang reparasi di Boston, menerima panggilan telepon yang mengabarkan bahwa abangnya, Joe Chandler, tengah kritis di rumah sakit. Sementara Lee menempuh 90 menit perjalanan dari Boston ke Manchester, Joe tutup usia. Joe meninggalkan pesan terakhir: Lee harus menjadi wali bagi kemenakannya yang berusia 16 tahun, Patrick Chandler. Dan, mengharuskan Lee pindah ke Manchester, Massachusetts—tempat yang …

Read More »

Captain Fantastic, Surat dari Rimba Raya

“How did you kill those chickens?” Nai, anak berusia lima tahun, dengan polos bertanya kepada Harper, tantenya, bagaimana ayam yang disajikan di meja makan dibunuh. Dengan kapak atau pisau? Tantenya tentu saja kelimpungan menjawab pertayaan itu. Ia tak pernah repot membunuh ayam. Ia hanya perlu ke super market dan membeli daging yang siap dimasak. Tidak seperti Nai yang harus berburu …

Read More »