Home » Sastra » Cerpen (page 4)

Cerpen

Perempuan yang Melamar Setan

Jangan pernah datang wahai malam, aku tak sanggup melihat warnamu yang selalu menggambarkan kepiluan. Pergilah, bawaserta semua tangis yang tertumpahkan kepadamu. Juga cumbu rayu yang dihadiahkan angin laut kepadamu. Biarkan aku terus bersama siang, karena dengannya aku merasa aman. Dengan langkah gontai seorang gadis muda menyusun langkah demi langkah untuk mencapai sebuah batu di ujung pantai. Batu yang menjadi titik …

Read More »

Rindu yang Belum Terobati

Sebenarnya aku mulai bosan memandang dinding kamarku yang dingin. Apakah benar aku harus berbincang dengan dinding yang sebenarnya adalah batu yang di tata rapi? Meskipun demikian tapi tak dapat membuatku kagum karena ia hanya dinding yang bisu. Tapi setidaknya dia melindungiku dari angin. Seketika kelopak mataku yang masih menampung banyak air kini tumpah lagi, masih mengingat apa yang terjadi, yakni …

Read More »

Najis

“Apakah alam semesta diciptakan hanya untuk kalian?” Segerombolan kucing melintas kemudian mengerubungi sisa-sisa makanan yang baru saja dibuang seseorang dari dalam benda kotak yang bisa berjalan cepat. Sempat aku terkejut dibuatnya. Sebenarnya aku ingin makan nasi itu, namun aku lebih memilih untuk mencari makanan yang lain, sebab tak tega jika aku harus bertengkar terlebih dahulu dengan mereka. Dan apakah aku …

Read More »

Dia, Si Musuh

“Aku sangat membenci orang yang memiliki banyak rahasia. Mereka makhluk yang penuh dengan kejutan karena rahasia yang mereka miliki. Mereka bukan teman atau sahabat, mereka dengan rahasianya adalah musuh.” Aku menangis di koridor rumah sakit, dengan buku catatan berwana coklat yang kudekap. Aku memandanginya dari jendela kaca, pintu rumah sakit. Dia masih saja berbaring di atas ranjang pesakitannya dan dengan …

Read More »

Di Suatu Sore yang Dingin

Mungkin benar, perlu biaya besar untuk mengucap sayang di waktu malam hari kau di sampingku. Ketika itu kusadar akan keberadaanku sebagai siapa, dan juga waktu perkenalan yang sebentar itu cukup menjelaskan mengapa kau menganggap hal-hal yang terlewati adalah biasa dan wajar. Jangankan bersama orang lain, ketika kuketahui kau menyapa pacarmu dengan manis, aku tidak rela. Dengan senangnya kau bercerita sehabis …

Read More »