Home » Sastra » Cerpen (page 5)

Cerpen

Pulang

Tiap kali aku melewati persawahan dan desa-desa pelosok pada sore hingga malam hari, selalu aku melihat orang sedang bekerja, dan ada juga yang bermain-main saja, berlalu-lintas, mondar-mandir, dan sekedar membeli sesuatu. Akan tetapi yang paling manis adalah melihat orang-orang bercengkerama. Aku hanya menyaksikan semua itu melalui jendela kereta api sewaktu menuju ke arah timur. Menghirup udara kampung halaman malam-malam, duduk …

Read More »

Topeng Monyet

Siang itu terasa terik sekali. Akan tetapi Ucil tetap tak beranjak dari muka aspal yang panasnya bagai membakar telapak kaki itu. Ia tampak tetap sibuk memainkan beberapa alat pertunjukan sederhana yang dibawa oleh seseorang yang duduk tak jauh dari tempat Ucil beraksi. Ucil beraksi dengan sangat lincah. Sesekali ia memainkan egrang kecil yang terbuat dari bambu. Sesekali ia mengenakan topeng …

Read More »

Café Gila

Aku terduduk dan merenung di sebuah café kecil. Awalnya café itu sepi, hanya akulah satu-satunya pengunjung kala itu. Aku sangat menikmati suasana itu, suasana yang serba hijau. Aku duduk di pojokan paling depan dan tepat di sampingku terhampar sehektar sawah. Sawah yang penuh dengan padi yang masih hijau. Beberapa kendaraan berlalu-lalang di depan café. Lama aku menatap langit, langit biru …

Read More »

Berakhir Bimbang

“Pyaaaaar!!” Sebuah piring yang kucuci jatuh dari tanganku yang licin karena sabun. Aku begitu kaget waktu itu. Dalam sinetron, kejadian macam ini merupakan pertanda akan datangnya suatu hal yang buruk. Bagiku, sebuah piring pecah itu pun sudah lah hal yang buruk. Jadi, aku tidak perlu berpikir terlalu panjang tentang aksiku merusak perabotan rumah tangga itu. Apalagi di hari yang spesial …

Read More »

Tuhan Hanya Ingin Bermain

Praaak…praaak .. Kwak..kwaaakk .. “Ayah, kita sudah berjalan jauh, tapi belum sampai juga di Tanah Hijau?” “Tenang Gabriel, sudah dekat kok Tanah Hijau itu!” kata Ayah. “Tapi, seperti hanya pasir dan pasir saja di depanku ini Ayah!” kata anak satunya. “Tinggal kita hanya melalui bukit pasir itu, anakku!” kata Ayah sambil menunjuk sebuah bukit. Panas terik matahari sangat menyengat, tak …

Read More »