Home » Sastra » Cerpen (page 6)

Cerpen

Tuhan Hanya Ingin Bermain

Praaak…praaak .. Kwak..kwaaakk .. “Ayah, kita sudah berjalan jauh, tapi belum sampai juga di Tanah Hijau?” “Tenang Gabriel, sudah dekat kok Tanah Hijau itu!” kata Ayah. “Tapi, seperti hanya pasir dan pasir saja di depanku ini Ayah!” kata anak satunya. “Tinggal kita hanya melalui bukit pasir itu, anakku!” kata Ayah sambil menunjuk sebuah bukit. Panas terik matahari sangat menyengat, tak …

Read More »

Suara Sunyi Midori

Petugas memanggil satu per satu perempuan-perempuan yang ada di ruang tunggu sementara aku berdiri termangu tak jauh dari jendela. Sekumpulan ikan berenang berputar-putar mengelilingi kolam. Mereka tidak bisa diam, dari sudut kolam satu menuju ke tengah kemudian berkejaran di bebatuan. Aku masih asyik memperhatikan mereka bermain, ketika seseorang memegang pundakku perlahan. Dia Harum. Aku bertemu dengannya seminggu yang lalu. Dia …

Read More »

TUTI

Aku menangis semalaman karena perkara sepele: diputus Tuti. Semalaman suntuk hanya tersungkur di atas kasur dengan menindihkan bantal di atas kepala supaya tak terdengar orang-orang di luar, walau pun tidak keras tetapi bagiku menangis adalah memalukan. Entah kenapa malam itu rasanya begitu sedih, sampai soal kerjaan besok pagi untuk membenahi beberapa motor yang menumpuk tidak kupikirkan. Beberapa hari yang lalu, …

Read More »

Sistem Pendidikan Itu Bernama Lempar, Caci, Buang

Diterima di universitas negeri merupakan kebanggan bagi kalangan pelajar. Selain karena biaya yang lebih hemat daripada saat masih belajar di bangku SMA, fasilitas kampus negeri biasanya cukup memadai. Namun, ada yang mengganjal. Seperti halnya ada kerikil yang terselip di kantong belakang saat kita duduk mengenakan celana mewah. Tidak nyaman. Hal ini dirasakan oleh seorang pelajar yang berasal dari daerah cukup …

Read More »

Lintang

Terik. Udara memang sangat panas hari ini. Penuh peluh aku berjalan terseok membawa beban berat di punggung. Laptop dan beberapa buku kuliah, yang kusam karena sering ku bawa tanpa ku baca. Cepat saja ku langkahkan kaki menyusuri jalur khusus pejalan kaki di lingkungan kampus. Suara bising kendaraan yang berlalu lalang, serta debu dan asap yang ditimbulkannya menambah suramnya suasana siang …

Read More »