Home » Sastra (page 2)

Sastra

Sehari Menjelang Kirab

Suasana menjelang diadakannya Kirab Apem Sewu sudah mulai terasa. Aroma apem yang dibuat oleh ibu-ibu mulai tercium di beberapa titik kampung. Pemuda-pemudi terlihat semakin aktif berlalu-lalang, sedang membuat rancangan gunungan, kata mereka. Ada juga yang latihan marching band. Bapak-bapak pengurus desa sibuk berkumpul dan berbincang demi memantapkan konsep kirab tahun ini. Kirab Apem Sewu adalah tradisi dengan upacara membagi-bagikan kue …

Read More »

Jazz Untuk Nada

Kota gelap mendung seperti gerhana Dan angin turun dari gunung tengah kota Berhembus menuju selatan Penuh bayang menakutkan Seperti cinta, cinta yang penuh kepura-puraan Penuh ketidak normalan, kebohongan. Seperti drama, drama akrobat yang akan diselesaikan Seseorang dengan pistol dan status sosial di jalanan Hujun turun dari langit. Ya. Hujan turun dari langit Mengguyur aspal gerhana, seperti Gadis pengendara motor dilanda …

Read More »

Panut

Waktu itu matahari tampak telah condong ke arah barat. Seperti biasanya saat jam pulang sekolah, gerbang depan SMA Nusantara tampak ramai. Tak jauh dari situ tiba-tiba terdengar suara yang memecah suasana. “Brrrrng, brrrrrng.” Suara tersebut berasal dari sebuah sepeda motor yang dikendarai oleh dua siswa SLTA lain. Mereka berkendara melewati jalan di depan SMA Nusantara. “Woih, woih, gegembel woih!” teriak …

Read More »

Kerinduan Anakmu, Sayang

  Wajahmu memang tak asing, sayang. Ketika paku menjatuhkan runcingnya untukmu, sebuah pilihan. Yang terjadi hanya beribu berita pencintraan, demi kemenangan. Kemudian datanglah berbagai cerita Berbagai peristiwa Juga serangkaian pertikaian kata-kata. Sekali lagi Demi kemenangan sayang. Demi mewakilimu di kancah kepemimpinan. Demi itu pula rela memecah belah anak-anakmu, sayang. Wajah bertopeng mulai berkeliara. Mengelabui anak-anakmu yang masih awam. Hingga mereka …

Read More »

Malam ke 1000 untuk Kunang-Kunang

“Aku merasa berdosa meninggalkan desa,” kata Si Baju Ungu. “Aku tidak. Merantau kan pilihan hidup kita,” Merah Muda menanggapi. “Tidakkah kau memikirkan kampung halamanmu, bila sewaktu-waktu kau diminta untuk pulang?” tanya Si Baju Ungu. “Tentu saja. Hanya orang egois yang lupa dengan kampung halamannya sendiri.” “Apa yang kamu persiapkan untuk kepulanganmu?” “Tidak tahu.” Dua wanita tanggung itu, yang disebut Si …

Read More »