Home » Sastra (page 5)

Sastra

Rindu yang Belum Terobati

Sebenarnya aku mulai bosan memandang dinding kamarku yang dingin. Apakah benar aku harus berbincang dengan dinding yang sebenarnya adalah batu yang di tata rapi? Meskipun demikian tapi tak dapat membuatku kagum karena ia hanya dinding yang bisu. Tapi setidaknya dia melindungiku dari angin. Seketika kelopak mataku yang masih menampung banyak air kini tumpah lagi, masih mengingat apa yang terjadi, yakni …

Read More »

Najis

“Apakah alam semesta diciptakan hanya untuk kalian?” Segerombolan kucing melintas kemudian mengerubungi sisa-sisa makanan yang baru saja dibuang seseorang dari dalam benda kotak yang bisa berjalan cepat. Sempat aku terkejut dibuatnya. Sebenarnya aku ingin makan nasi itu, namun aku lebih memilih untuk mencari makanan yang lain, sebab tak tega jika aku harus bertengkar terlebih dahulu dengan mereka. Dan apakah aku …

Read More »

Terakhir

Kukira, ini terakhir kali. Bayang-bayang abadi, katamu Tak lama dikenang. Cerita berangsur memucat Menunggu kelanjutan yang tersirat. Menghabiskan usia Itukah mengapa, kubilang. Cinta barangkali tinggal kerangka   Tapi masih entah. Pada satu waktu kau berbalik arah Di sana tak ada apa yang kau cari. Terkatung kalimat berbulan-bertahun Para pendongeng menggamit cerita. Aku mimpikan Mengapa tidak berlari saja. Dalam pagi yang …

Read More »

Kesalahan

Merenung adalah kesalahan, kata Johanna Mesti berlumpur, turun ke jalan. Seperti tak berpengetahuan bila nangkup di pikiran Obrolan menguap. Nggantung, menjajakan harapan Bagaimana kau mengartikan hujan Keburu lari, basahnya tak kau sentuh sama sekali?   Di samping malam. Angin-angin nampak Menggigil geli atas sentuhan Kau ucap tak berarti?   Kadang, Johanna Aku tak peduli pada apa-apa yang membelai Pinggiran cukup …

Read More »

Dia, Si Musuh

“Aku sangat membenci orang yang memiliki banyak rahasia. Mereka makhluk yang penuh dengan kejutan karena rahasia yang mereka miliki. Mereka bukan teman atau sahabat, mereka dengan rahasianya adalah musuh.” Aku menangis di koridor rumah sakit, dengan buku catatan berwana coklat yang kudekap. Aku memandanginya dari jendela kaca, pintu rumah sakit. Dia masih saja berbaring di atas ranjang pesakitannya dan dengan …

Read More »