Home » Sastra » Puisi

Puisi

Masak dalam Mimpi

Oleh Muhammad Lutfi (Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Sebelas Maret)   Masak dalam Mimpi Seorang ibu dengan tangan basah dan gemetar Memasukkan jari-jemarinya kedalam panci Tangisnya menyalakan bara api Di pangkuannya Diaduknya lembut dan berputar-putar butiran beras Dari lumbung yang sudah terbakar Sementara anaknya menangis dan memegang pasak dan pisau dapur Ditusukkan pada parit-parit tanah Mata mereka sudah tak kuasa …

Read More »

Jazz Untuk Nada

Kota gelap mendung seperti gerhana Dan angin turun dari gunung tengah kota Berhembus menuju selatan Penuh bayang menakutkan Seperti cinta, cinta yang penuh kepura-puraan Penuh ketidak normalan, kebohongan. Seperti drama, drama akrobat yang akan diselesaikan Seseorang dengan pistol dan status sosial di jalanan Hujun turun dari langit. Ya. Hujan turun dari langit Mengguyur aspal gerhana, seperti Gadis pengendara motor dilanda …

Read More »

Kerinduan Anakmu, Sayang

  Wajahmu memang tak asing, sayang. Ketika paku menjatuhkan runcingnya untukmu, sebuah pilihan. Yang terjadi hanya beribu berita pencintraan, demi kemenangan. Kemudian datanglah berbagai cerita Berbagai peristiwa Juga serangkaian pertikaian kata-kata. Sekali lagi Demi kemenangan sayang. Demi mewakilimu di kancah kepemimpinan. Demi itu pula rela memecah belah anak-anakmu, sayang. Wajah bertopeng mulai berkeliara. Mengelabui anak-anakmu yang masih awam. Hingga mereka …

Read More »

Orbit

Saat telah bersama mengapa tak kau berikan Ribuan perhatianmu padaku, yang bisa membuatku tersipu Malah kau abaikan aku, menganggapku tak ada dihadapanmu Saat telah bersama, mengapa tak kau berikan Limpahan kasih sayangmu padaku, yang selalu kurindu setiap waktu Malah kau tak hiraukanku , tak pernah tanya perasaanku Saat telah bersama, mengapa tak kau berikan Ratusan kata-kata indah, yang bisa membuatku …

Read More »

Kembali

Di selasar masjid, ubin-ubin retak menjerit bersahutan Pada tapak kaki sang peronta yang basah bersimbah darah Sumpah serapah bilik kacaukan gemuruh tikar Juga rak-rak yang ikut gaduh padahal yang punya mengaduh Malam kian sunyi, yang menjerit berganti sepi Yang gemuruh makin meresapi, menelusup cahaya temaram palung hati Tunduk kepala carikan maafnya tak kalah ruah samudera Maka bergetar arasy terima perintah …

Read More »