<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>EKSPRESI ONLINE</title>
	<atom:link href="http://ekspresionline.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekspresionline.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 Feb 2012 15:03:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pilwarek UNY Tidak Demokratis</title>
		<link>http://ekspresionline.com/2012/02/18/pilwarek-uny-tidak-demokratis/</link>
		<comments>http://ekspresionline.com/2012/02/18/pilwarek-uny-tidak-demokratis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Feb 2012 14:58:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lpm_ekspresi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekspresionline.com/?p=688</guid>
		<description><![CDATA[UNIVERSITAS Negeri Yogyakarta (UNY) akan mengadakan pemilihan Wakil Rektor II, Wakil Rektor III, dan Wakil Rektor IV pada Senin 5 Maret 2012. Pemilihan Wakil Rektor (Pilwarek) UNY telah sampai pada tahap pendaftaran bakal calon Wakil Rektor yang dibuka sejak hari Senin 13 Februari 2012 dan ditutup Kamis 16 Februari 2012. Uraian kegiatan tersebut tertera pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a rel="attachment wp-att-692" href="http://ekspresionline.com/2012/02/18/pilwarek-uny-tidak-demokratis/uny/"><img class="alignleft size-medium wp-image-692" title="uny" src="http://ekspresionline.com/wp-content/uploads/2012/02/uny-300x225.gif" alt="uny" width="300" height="225" /></a>UNIVERSITAS Negeri Yogyakarta (UNY) akan mengadakan pemilihan Wakil Rektor II, Wakil Rektor III, dan Wakil Rektor IV pada Senin 5 Maret 2012. Pemilihan Wakil Rektor (Pilwarek) UNY telah sampai pada tahap pendaftaran bakal calon Wakil Rektor yang dibuka sejak hari Senin 13 Februari 2012 dan ditutup Kamis 16 Februari 2012. Uraian kegiatan tersebut tertera pada rencana kegiatan pemilihan Wakil Rektor UNY  yang ditandatangani ketua senat UNY Prof. Dr. H. Wuradji, M.S. dan ketua panitia pelaksana Prof. Suparwoto, M.Pd. pada 30 Januari 2012.</p>
<p style="text-align: justify;">“UNY juga akan memilih Wakil Rektor IV yang dipersiapkan untuk mengurus hubungan dengan jaringan luar negeri,” terang Wakil Rektor III Prof Herminarto Sofyan yang jabatannya akan berakhir per 1 April 2012. Surat Keputusan pembentukan panitia Pilwarek sudah beredar sejak tanggal 1 Februari 2012.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah pembentukan panitia Pilwarek dibutuhkan adanya sosialisasi. Sosialisasi di tingkat sivitas akademia UNY diakui oleh panitia Pilwarek kurang dan tidak diatur dalam peraturan Pilwarek. Deni Hardiyanto selaku sekretaris panitia Pilwarek  mengungkapkan, “Saya sempat mengusulkan sosialisasi pada <span id="more-688"></span>sivitas akademia, tetapi memang tidak diatur dalam peraturan. Sosialisasi ini hanya di tingkatan fakultas lewat pimpinan-pimpinan fakultas ini, praksis tidak ke karyawan dan mahasiswa.” Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak dilakukan sosialisasi Pilwarek yang akan dilaksanakan pada tanggal 5 Maret 2012 untuk karyawan dan mahasiswa.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain kurangnya sosialisasi, Pilwarek juga dilakukan dengan rapat tertutup dan porsi suara Rektor 35%. Mengenai  suara rektor 35%  menurut Deni Haryanto dapat menciderai demokrasi di UNY, akan tetapi dapat juga sebaliknya, tergantung sudut pandang yang dipakai.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Panitia Pilwarek Kurang Sosialisasi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Panitia Pilwarek tertuang dalam Pasal 30  ayat 2 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2011 tentang Statuta Universitas Negeri Yogyakarta. Peraturan tersebut menjelaskan bahwa panitia pemilihan terdiri atas tiga orang anggota senat yang tidak mencalonkan diri menjadi Wakil Rektor, satu dosen usulan dari setiap fakultas yang tidak mencalonkan diri menjadi Wakil Rektor, dan satu usulan dari setiap biro.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Deni Hardiyanto, panitia Pilwarek UNY terdiri Prof. Suparwoto, M.Pd.,  Prof. Dr. Sukadianto, dan Prof. Dr. Ruskiyanto. Ketiganya merupakan anggota senat dan Prof. Suparwoto, M.Pd. selaku ketua panitia Pilwarek.  Sedangkan dari dosen ada Ekram Prawiroputro, M.Pd. dari FIS, Amat Komari, M.Pd. dari FIK, Nur Khadarisman, M.Si. dari FMIPA, Deni hardiyanto, M.Pd. dari FIP, dan Suparman, M.Pd. dari FT. Selain itu, Darsono, S.E. dari biro BPUPK  dan Dr. Wedho Krisnarno dari BAKI. “Untuk dosen tidak ada kriteria khusus, tetapi ditunjuk pimpinan fakultas masing-masing,” tambahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sivitas akademia seperti karyawan dan mahasiswa tidak mengetahui tentang Pilwarek, terutama dari panitia Pilwarek sendiri. “Tahu dari obrolan kawan-kawan karyawan,” ujar Lamiadi karyawan penjaga parkir Student Center. “Kalau  itu cuma <em>denger-denger,</em> tapi aku <em>nggak</em> tahu teknisnya, calon-calonnya,” tambah Rosalia Hera Novitasari mahasiswa Pendidikan Matematika angkatan 2009.</p>
<p style="text-align: justify;">“Untuk sosialisasi sendiri panitia bersedia diundang mahasiswa, tetapi waktunya terbatas. <em>Emang</em> kita tidak punya waktu banyak dengan banyaknya agenda,” ungkap Deni Hardiyanto</p>
<p style="text-align: justify;">Alasan yang disampaikan oleh panitia pilwarek ini sangat normatif dan mengabaikan keberadaan sivitas akademia UNY sendiri yang akan merasakan kepemimpinan dari proses Pilwarek ke depannya. “Kalau bicara normatif semua bisa jadi alasan dari kesibukan, waktu, tapi kita harus katakan proses ini adalah hajat kita bersama. Hal ini karena orang-orang yang terpilih akan berada pada level ke dua di pimpinan kampus ini,” sanggah Halili Hasan dosen Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum FIS.</p>
<p style="text-align: justify;">Kecaman muncul dari berbagai pihak dengan tidak adanya sosialisasi ini. Mereka kecewa tidak mempunyai suara untuk memilih pemimpinnya ditambah tidak diberi tahu calon-calon pemimpinnya. “Pertama teman-teman itu kenal atau <em>nggak</em> dengan calon-calon tersebut. Kalau kenal ya bagus kalau<em> nggak</em> ya <em>nggak</em>,” ujar Khaeruf Fuadi mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin angkatan 2010.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal senada diungkapkan Lamiadi bahwa masalah Pilwarek lebih baik disosialisasikan ke sivitas akademia UNY. “Kalau memilih saja tidak bisa, masa mengetahui secara masif tidak boleh. Sudah celaka dua kali, sudah jatuh tertimpa tangga pula, ini persoalan,” kecam Halili Hasan, S.Pd Dosen Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum FIS.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sistem Oligarkis Pemilihan Wakil Rektor</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Menurut sekretaris panitia Pilwarek, ketentuan Calon Wakil Rektor berasal dari Statuta UNY ditambah surat edaran Rektor. “Ketentuan-ketentuan Calon Wakil Rektor dari Statuta UNY, syaratnya tidak dari panitia. Syarat ini ditambah dari surat edaran Rektor,” ujarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Statuta UNY pasal 28 syarat Wakil Rektor  mempunyai masa kerja di fakultas sekurang-kurangnya lima tahun berturut-turut, menyatakan kesanggupan sebagai Wakil Rektor, menyampaikan portofolio, dan menyatakan secara tertulis bersedia bekerja sama dengan Rektor dan Wakil Rektor. Sedangkan menurut surat edaran Rektor nomor: 01/SE/2012 tentang penghargaan pengalaman manajerial terhadap mantan ketua program studi dan mantan staf ahli Pembantu Rektor bahwa jerih payah dan kerja keras pengalaman manajerial terhadap mantan ketua program studi dan mantan staf ahli Pembantu Rektor diberi penghargaan dengan diakui sebagai salah satu penghargaan dalam pendaftaran Calon Wakil Rektor. Khusus untuk staf ahli Pembantu Rektor harus sesuai dengan bidang masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">Surat edaran dari Rektor menunjukkan bahwa Statuta UNY bukan merupakan acuan peraturan yang sempurna dan masih dapat dikurangi dan ditambahi jika ada yang tidak sesuai. “Dengan adanya surat edaran itu menunjukkan bahwa Statuta kita ada yang bolong dan bisa disulam. Jika ada kelompok sivitas yang merasa statuta kita ada yang bolong, lakukan upaya yang sama untuk menambal dengan memperhatikan kemaslahatan dan secara proporsional,” ungkap Halili Hasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai waktu penutupan pendaftaran Bakal Calon Wakil Rektor UNY pada Kamis 16 Februari 2012 pukul 15.00 WIB terjaring sebelas Bakal Calon Wakil Rektor. Bakal Calon Wakil Rektor II sebanyak tiga orang, Dr. Muh. Farozin M.Pd. dari FIP, Dr. Edi Purwanto M.Pd. dari FIP, dan Dr. Moch. Alib dari FT. Bakal calon Wakil Rektor III sebanyak lima orang, Dr. Suharno, M.Si. dari FIS, Drs. Sumaryanto, M.Kes. dari FIK, Dr. Tomoliyus, M.Si. dari FIK, Prof. Dr. Hari Amirullah dari FIK, dan Prof. Dr. Djumadi dari FMIPA. Sedangkan Bakal Calon Wakil Rektor IV sebanyak tiga orang, Prof. Suwarsih Madya, Ph.D. dari FBS, Prof. Anik Ghufron dari FIP dan Dr. Senam dr FMIPA.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari kesebelas calon hanya satu Bakal Calon Wakil Rektor III yang didaftarkan oleh kalangan mahasiswa yang diwakili oleh Wahyu Iman Satria ketua BEM FIS, yaitu Soeharno. Menurut Wahyu Iman Satria, Soeharno adalah figur yang dekat dengan mahasiswa melihat rekam jejaknya sebagai Pembantu Dekan III FISE periode 2007-2011. Wahyu Iman Satria mengumpulkan dukungan dari ketua Ormawa, Kajur, dan Kaprodi FIS dengan melakukan penggalangan tanda tangan dukungan.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk pemilihan Wakil Rektor akan dilaksanakan pada 5 Maret 2012 melalui rapat tertutup Senat dengan suara dari Rektor sebanyak 35%.  “Pemilihan melalui rapat tertutup senat dengan 35% rektor,” terang Deni Haryanto.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jika kita berbicara <em>one man one vote</em> ini tidak bisa dikatakan demokrasi, tapi sebagai lembaga pemerintah ini juga bisa bagian yang demokratis, “ujarnya. Hal demokratis ini menurutnya dapat dilihat dari masih dibukanya peluang untuk semua yang ingin mencalonkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rektor menurut Statuta UNY selain mempunyai suara 35% untuk menentukan Wakil Rektor juga mempunyai hak penuh untuk menambah dan mengurangi bakal calon di setiap posisi yang kurang ataupun lebih, menjadi tiga calon untuk masing-masing Wakil Rektor. “Posisi yang kurang dari tiga akan ditambah oleh Rektor, sedangkan yang lebih dari tiga akan dipangkas. Ini merupakan hak penuh dari Rektor,” terang Deni Hardiyanto.</p>
<p style="text-align: justify;">Lain halnya pendapat Halili Hasan, menurutnya sistem seperti itu merupakan sistem oligarkis yang terlalu banyak celanya jika prinsipnya adalah kemaslahatan. “Ke depan mekanisme 35% suara rektor untuk memilih jajaran dibawahnya harus ditinjau ulang karena potensial menumbuhkan sistem oligarkis.  Siapapun yang mendaftar mestinya diberikan porsi yang setara untuk tidak dipangkas dalam ‘ruang rahasia’ itu. Kalau ada 2 calon, 3 calon, 4 calon, biarkan saja, tidak masalah kan,” pungkasnya. <em>(Efendi Ari Wibowo, Jurnalis Ekspresi)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekspresionline.com/2012/02/18/pilwarek-uny-tidak-demokratis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malam Tak Bergairah</title>
		<link>http://ekspresionline.com/2012/01/12/malam-tak-bergairah/</link>
		<comments>http://ekspresionline.com/2012/01/12/malam-tak-bergairah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 13:54:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lpm_ekspresi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekspresionline.com/?p=588</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Taufik Nurhidayat



 
Kucing lapar matanya mengolok-olok keraguanku
Bintang-bintang liar kemana perginya
Tembok tua kaku diam tiada berkata
Aku sepi aku bungkam, mengadu pada hati

Pentas malam tiada berkarya
Kucing lapar itu,
hanya biarkan tikus permisi dihadapan mata liarnya
Anjing jalan itu,
kali ini tak menyalak, saat ini tak mengajak tikai pada kucing
Bukan berarti mereka damai
Anjing, kucing, tikus sedang tidak berkarya saja

Sama dipikirku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><em>Oleh: Taufik Nurhidayat</em></p>
<p style="text-align: left;"><em><br />
</em>
</p>
<p style="text-align: left;"><em> </em></p>
<p style="text-align: left;">Kucing lapar matanya mengolok-olok keraguanku</p>
<p style="text-align: left;">Bintang-bintang liar kemana perginya</p>
<p style="text-align: left;">Tembok tua kaku diam tiada berkata</p>
<p style="text-align: left;">Aku sepi aku bungkam, mengadu pada hati</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Pentas malam tiada berkarya</p>
<p style="text-align: left;">Kucing lapar itu,</p>
<p style="text-align: left;">hanya biarkan tikus permisi dihadapan mata liarnya</p>
<p style="text-align: left;">Anjing jalan itu,</p>
<p style="text-align: left;">kali ini tak menyalak, saat ini tak mengajak tikai pada kucing</p>
<p style="text-align: left;">Bukan berarti mereka damai</p>
<p style="text-align: left;">Anjing, kucing, tikus sedang tidak berkarya saja</p>
<p style="text-align: left;"><span id="more-588"></span></p>
<p style="text-align: left;">Sama dipikirku jua</p>
<p style="text-align: left;">Tiada inspirasi malam</p>
<p style="text-align: left;">Hanya berlalu kosong</p>
<p style="text-align: left;">Sampai kapan?</p>
<p style="text-align: left;">Berharap pagi, semoga gairah datang lagi</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Jogja, 2 Desember 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekspresionline.com/2012/01/12/malam-tak-bergairah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>106</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyanyian Para Gelas</title>
		<link>http://ekspresionline.com/2012/01/12/nyanyian-para-gelas/</link>
		<comments>http://ekspresionline.com/2012/01/12/nyanyian-para-gelas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 13:53:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lpm_ekspresi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekspresionline.com/?p=586</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Taufik Nurhidayat



Apakah gelas-gelas mengenal dosa?
Gelas-gelas bagai bernyawa di sisi pembaringanku tiap malam.
Bisik berbisik hingga aku tak bermimpi.
Apa yang mereka sembunyikan?
Apa salahku?

Mungkinkah gelas-gelas merindukan pesta?
Taka da jawabnya. Tetap saja diam.
Kukira mereka protes atas sisa-sisa noda melekat pada kilaunya sucinya.

Aku berpura pejam mata tertidur pulas.
Dengar lirih-lirihnya nyanyian para gelas.
Lelaguan tentang keberantakan pemuda dan gelas-gelasnya.
Mengertilah aku.
Gelas-gelas ingin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><em>Oleh: Taufik Nurhidayat</em></p>
<p style="text-align: left;"><em><br />
</em>
</p>
<p style="text-align: left;">Apakah gelas-gelas mengenal dosa?</p>
<p style="text-align: left;">Gelas-gelas bagai bernyawa di sisi pembaringanku tiap malam.</p>
<p style="text-align: left;">Bisik berbisik hingga aku tak bermimpi.</p>
<p style="text-align: left;">Apa yang mereka sembunyikan?</p>
<p style="text-align: left;">Apa salahku?</p>
<p style="text-align: left;"><span id="more-586"></span></p>
<p style="text-align: left;">Mungkinkah gelas-gelas merindukan pesta?</p>
<p style="text-align: left;">Taka da jawabnya. Tetap saja diam.</p>
<p style="text-align: left;">Kukira mereka protes atas sisa-sisa noda melekat pada kilaunya sucinya.</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Aku berpura pejam mata tertidur pulas.</p>
<p style="text-align: left;">Dengar lirih-lirihnya nyanyian para gelas.</p>
<p style="text-align: left;">Lelaguan tentang keberantakan pemuda dan gelas-gelasnya.</p>
<p style="text-align: left;">Mengertilah aku.</p>
<p style="text-align: left;">Gelas-gelas ingin disucikan.</p>
<p style="text-align: left;">Maafkan aku wahai gelas-gelas.</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Jogja, 17 Desember 2011</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekspresionline.com/2012/01/12/nyanyian-para-gelas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>102</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kinerja Buruk BEM-FISE</title>
		<link>http://ekspresionline.com/2012/01/12/bem-fis-berkinerja-buruk/</link>
		<comments>http://ekspresionline.com/2012/01/12/bem-fis-berkinerja-buruk/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 13:51:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lpm_ekspresi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekspresionline.com/?p=584</guid>
		<description><![CDATA[BADAN Eksekutif Mahasiswa-Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi (BEM-FISE) UNY sebenarnya adalah suatu wadah yang berfungsi untuk menampung aspirasi mahasiswa FISE (kini FIS). Akan tetapi kinerja yang terlihat sepanjang tahun kemarin sungguh memprihatinkan. Sepanjang tahun ajaran 2010-2011, banyak kalangan yang menilai BEM-FISE tak profesional. Mulai dari program–program kerja yang banyak tidak ketahui oleh teman-teman mahasiswa,  sampai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">BADAN Eksekutif Mahasiswa-Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi (BEM-FISE) UNY sebenarnya adalah suatu wadah yang berfungsi untuk menampung aspirasi mahasiswa FISE (kini FIS). Akan tetapi kinerja yang terlihat sepanjang tahun kemarin sungguh memprihatinkan. Sepanjang tahun ajaran 2010-2011, banyak kalangan yang menilai BEM-FISE tak profesional. Mulai dari program–program kerja yang banyak tidak ketahui oleh teman-teman mahasiswa,  sampai pada perihal hal cukup ironis yang terjadi dalam rapat LPJ tanggal 24 Desember dan 27 Desember 2011 kemarin: banyak anggota yang ikut terlibat mengatur keuangan BEM yang sebenarnya adalah tugas dari bendahara BEM.</p>
<p style="text-align: justify;">BEM-FISE UNY terkesan hanya mengembangkan kepentingan di luar kampus, baik itu di wilayah regional maupun nasional. BEM-FISE seolah tutup mata terhadap permasalahan kampus yang dinilai jauh lebih penting. Semisal masalah beasiswa yang dinilai beberapa kalangan tidak tepat sasaran. Lalu masalah PKL yang dahulu berjualan di depan kampus FE. Sebenarnya BEM punya andil yang penting dalam membangun peranan sosial mahasiswa karena BEM adalah wadah mahasiswa tanpa terkait kepentingan kelompok tertentu, maupun kepentingan individu.</p>
<p style="text-align: justify;">Lebih lanjut lagi, bahwa BEM-FISE di akhir periode kerjanya masih punya dua masalah yang belum diselesaikan. Pertama adalah kasus balik badan pada <em>display </em>UKM yang hingga kini tidak ada pernyataan minta maaf apalagi pertanggungjawaban dari pihak BEM-FISE sebagai salah satu pihak perencana dan pengkoordinir insiden tersebut. Selanjutnya yaitu kasus pemilu mahasiswa di mana panitia yang selalu direkrut adalah para mahasiswa baru. Langkah ini dinilai kurang tepat karena para mahasiswa baru tersebut belum pernah terlibat atau belum berpengalaman pada kegiatan politik kampus. Akibatnya terdapat kesalahan yang cukup fatal, yaitu secara tidak langsung mengajarkan politik praktis pada mahasiswa tersebut. Nyatanya juga mahasiswa baru yang menjadi Panwaslu atau berada di KPU tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Buktinya jelas: tingkat golput pada pemilwa lalu sangat tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini, BEM yang baru telah terbentuk. Namanya pun berganti menjadi BEM-FIS saja sebab Fakultas Ekonomi telah memiliki kedaulatan ormawa-nya sendiri. Otomatis BEM-FIS mesti lebih fokus dan awas terhadap ruang lingkup yang lebih kecil. Mereka  harus belajar dari pengalaman BEM terdahulu. Semoga BEM-FIS yang baru dapat menjalankan fungsinya dengan lebih baik lagi. Bukannya menjalankan fungsi yang keluar saja sembari melupakan fungsi utamanya, yaitu wadah aspirasi mahasiswa. <em>(Joseph Sebastian Nazareno S)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekspresionline.com/2012/01/12/bem-fis-berkinerja-buruk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>101</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pentas &#8220;Pada Suatu Ketika&#8221;</title>
		<link>http://ekspresionline.com/2012/01/12/pentas-pada-suatu-ketika/</link>
		<comments>http://ekspresionline.com/2012/01/12/pentas-pada-suatu-ketika/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 13:48:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lpm_ekspresi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekspresionline.com/?p=581</guid>
		<description><![CDATA[BERTEMPAT di Stage Tari Tedjokusumo FBS UNY pada 3 Januari 2011, kelas L  PBSI 2009 menyelenggarakan pementasan teater bertajuk “Pada Suatu Hari” karya Arifin C. Noer. Pementasan dimulai sekitar pukul 19.30 WIB dengan durasi sekitar satu setengah jam.
Pementasan tersebut menceritakan bagaimana sepasang kakek-nenek yang telah menjalani hubungan romantikanya hingga mereka mampu mencapai peringatan ulang tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify; ">BERTEMPAT di Stage Tari Tedjokusumo FBS UNY pada 3 Januari 2011, kelas L  PBSI 2009 menyelenggarakan pementasan teater bertajuk “Pada Suatu Hari” karya Arifin C. Noer. Pementasan dimulai sekitar pukul 19.30 WIB dengan durasi sekitar satu setengah jam.</div>
<p style="text-align: justify; ">Pementasan tersebut menceritakan bagaimana sepasang kakek-nenek yang telah menjalani hubungan romantikanya hingga mereka mampu mencapai peringatan ulang tahun emas pernikahan mereka. Cinta mereka nyaris hancur akibat kehadiran seorang janda teman dekat kakek bernama Nyonya Wenas, hingga menimbulkan kecemburuan luar biasa pada nenek. Novia, anak kedua dari pasangan kakek-nenek juga <span id="more-581"></span>mengalami masalah yang sama. Namun, mereka berdua berusaha untuk menghibur anaknya bahwa semua akan baik-baik saja dan seolah-olah tidak ada masalah diantara mereka.</p>
<p style="text-align: justify; ">Pesan yang kita dapat dari pementasan tersebut bahwa hal apa saja dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin akibat dari prasangka atau kegelisahan. Semua tergantung bagaimana kita dalam menyikapi dan menghadapinya. “Cemburu itu suci. Hanya dengan modal itu kau mampu bercinta”, Begitulah kira-kira pemaknaan pentas teater tersebut. <em>(Taufik Nurhidayat)</em></p>
<p style="text-align: justify; ">
<p style="text-align: justify; ">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekspresionline.com/2012/01/12/pentas-pada-suatu-ketika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>63</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Talkshow pencegahan HIV/ AIDS di UNY</title>
		<link>http://ekspresionline.com/2011/12/22/talkshow-pencegahan-hiv-aids-di-uny/</link>
		<comments>http://ekspresionline.com/2011/12/22/talkshow-pencegahan-hiv-aids-di-uny/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 08:53:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lpm_ekspresi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekspresionline.com/?p=577</guid>
		<description><![CDATA[Senin (19/12) malam pukul 19.00 WIB KP2N menyelenggarakan Talkshow HIV AIDS di Pendopo Tedjokusumo FBS. Talkshow  dengan tema JAUHI AIDS, BERSAHABAT DENGAN ODHA ini dikatakan oleh   Drs. Pujiwiyana, M.Pd selaku pembina KP2N mengatakan acara ini bertujuan untuk menyebarkan pengetahuan tentang bahayanya AIDS.
Acara yang diselenggarakan turut mengundang Yanuar Amien, SH dari Kespro UNY. Lumwah Sebastianus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Senin (19/12) malam pukul 19.00 WIB KP2N menyelenggarakan Talkshow HIV AIDS di Pendopo Tedjokusumo FBS. Talkshow  dengan tema <em>JAUHI AIDS, BERSAHABAT DENGAN ODHA </em>ini dikatakan oleh  <a href="http://staff.uny.ac.id/dosen/drs-pujiwiyana-mpd"> Drs. Pujiwiyana, M.Pd</a> selaku pembina KP2N mengatakan acara ini bertujuan untuk menyebarkan pengetahuan tentang bahayanya AIDS.</p>
<p>Acara yang diselenggarakan turut mengundang Yanuar Amien, SH dari Kespro UNY. Lumwah Sebastianus dari KPA dan Agus sebagai Odha.</p>
<p>Yanuar Amien menyampaikan bagaimana istilah-istilah dalam HIV/ AIDS dan apa saja penyebabnya. Yanuar Amien juga mengatakan ada faktor budaya juga yang kemudian menstigma Odha secara negatif. “maka dari itu tidak semua hal dari Odha dapat menularkan virus dari odha,” kata Yanuar sewaktu diskusi berjalan.</p>
<p>Pembicara kedua Lumwah Sebastianus menyampaikan perihal bagaimana pencegahan-pencegahan yang sebaiknya dilakukan. Seperti contohnya sosialisasi penggunaan kondom. Sebastianus juga melakukan simulasi penggunaan kondom, dicontohkan kondom pria dan kondom wanita.</p>
<p>Lumwah juga membahas tentang berbagai kasus yang semakin memojokkan Odha. Seperti kasus penularan dari terapi ikan yang sedang marak menjadi usaha perawatan kulit. Lumwah menolak hal itu,”sebab yang dimakan oleh ikan itu adalah kulit mati dan di bawah kulit mati masih ada kulit ari dan lapisan lain,” katanya.</p>
<p>Agus sebagai Odha pun mengaku bahwa dia baru mengetahui dirinya mengidap HIV/ AIDS semenjak 2009. Karena sejak 1995 Agus menggunakan jarum suntik untuk keperluan pribadinya, dia pun ragu darimana mendapatkan virus ini.</p>
<p>Pujiono M.Pd. Mengatakan bahwa bahaya penularan HIV/ AIDS ini masih harus selalu disosialisasikan. “Sebagai wadah untuk menyebarkan nilai-nilai mengenai bahayanya AIDS dan penyakit penyertanya,” kata Pujiwiyana.</p>
<p>Penyelenggaraan acara ini menurut Pujiwiyana untuk kemudian mencegah penyebaran dari masyaraat enengah keatas.” Sebab yan paling berbahaya adalah orang-orang &#8216;di atas&#8217; sana yang mempunyai jaringan kuat dan akses lancar dalam penyebarluasan narkotika atau penyakit HIV/ AIDS ini.(Jaka Hendra Baittri)  <em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekspresionline.com/2011/12/22/talkshow-pencegahan-hiv-aids-di-uny/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>145</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sistem Antrean Pembayaran KKN-PPL Bermasalah</title>
		<link>http://ekspresionline.com/2011/12/13/sistem-antrean-pembayaran-kkn-ppl-bermasalah/</link>
		<comments>http://ekspresionline.com/2011/12/13/sistem-antrean-pembayaran-kkn-ppl-bermasalah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 17:53:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lpm_ekspresi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekspresionline.com/?p=573</guid>
		<description><![CDATA[
SISTEM antrean pembayaran KKN PPL di BANK BPD , Selasa (13/12) di Jalan Gejayan merugikan mahasiswa. “Ini baru ambil nomor antre, habis itu mulai jam satu siang nanti mulai antre lagi buat pembayarannya,” ungkap Sasiana, mahasiswa Sosiologi yang ditemui setelah melakukan pengambilan nomor antre pembayaran. Sasiana menambahkan bahwa antrean pembayaran KKN hari ini terkesan tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-574" href="http://ekspresionline.com/2011/12/13/sistem-antrean-pembayaran-kkn-ppl-bermasalah/kkn-ppl/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-574" title="kkn-ppl" src="http://ekspresionline.com/wp-content/uploads/2011/12/kkn-ppl-300x225.jpg" alt="kkn-ppl" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">SISTEM antrean pembayaran KKN PPL di BANK BPD , Selasa (13/12) di Jalan Gejayan merugikan mahasiswa. “Ini baru ambil nomor antre, habis itu mulai jam satu siang nanti mulai antre lagi buat pembayarannya,” ungkap Sasiana, mahasiswa Sosiologi yang ditemui setelah melakukan pengambilan nomor antre pembayaran. Sasiana menambahkan bahwa antrean pembayaran KKN hari ini terkesan tidak jelas dan mengecewakan karena pembayaran baru bisa dilakukan setelah harus mengambil nomor antrean.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini berbeda dengan hari kemarin yang hanya antre menggunakan KTM saja. Alhasil Sasiana yang sudah mengantre dari jam 5 pagi menjadi sia-sia. Antrean juga menimbulkan kemacetan di wilayah area pintu gerbang masuk FIP. “Jalan masuk sini kemarin penuh buat parkir motor, macet, sehingga saya kan ditegur dari atas supaya untuk disini jadi lancar”, terang Suyatno, komandan satpam UNY yang sedang bertugas menjaga pintu gerbang akses dari jalan gejayan ke FIP. <em>(Irawan Sapto Ody)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekspresionline.com/2011/12/13/sistem-antrean-pembayaran-kkn-ppl-bermasalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>125</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Payung Teduh: Berteduh di Bawah Sendunya Malam</title>
		<link>http://ekspresionline.com/2011/12/13/payung-teduh-berteduh-di-bawah-sendunya-malam/</link>
		<comments>http://ekspresionline.com/2011/12/13/payung-teduh-berteduh-di-bawah-sendunya-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 05:33:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lpm_ekspresi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekspresionline.com/?p=569</guid>
		<description><![CDATA[Album : Payung Teduh
Band   : Payung Teduh
Rilis     : 16 Desember 2010
Sudah banyak yang bilang: musik Indonesia tak bergerak linear ke arah kebobrokan. Saya setuju, memang, bahwa kehadiran musik populer ala Dahsyat, Derings, dll. adalah tanda-tanda buruk. Tapi masih ada band-band bawah tanah yang memberikan optimisme jika musik memang berkembang lebih baik. Tak percaya? Dengarkanlah Payung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_570" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-570" href="http://ekspresionline.com/2011/12/13/payung-teduh-berteduh-di-bawah-sendunya-malam/img_1921/"><img class="size-medium wp-image-570" title="IMG_1921" src="http://ekspresionline.com/wp-content/uploads/2011/12/IMG_1921-300x246.jpg" alt="dari http://adriarani.blogspot.com/2010/12/payung-teduh.html" width="300" height="246" /></a><p class="wp-caption-text">dari http://adriarani.blogspot.com/2010/12/payung-teduh.html</p></div>
<p>Album : Payung Teduh</p>
<p>Band   : Payung Teduh</p>
<p>Rilis     : 16 Desember 2010</p>
<p>Sudah banyak yang bilang: musik Indonesia tak bergerak linear ke arah kebobrokan. Saya setuju, memang, bahwa kehadiran musik populer ala Dahsyat, Derings, dll. adalah tanda-tanda buruk. Tapi masih ada band-band bawah tanah yang memberikan optimisme jika musik memang berkembang lebih baik. Tak percaya? Dengarkanlah Payung Teduh dalam album <em>self titled-</em>nya. <span id="more-569"></span></p>
<p>Payung Teduh adalah band yang beranggotakan Is (vokal, gitar), Comi (<em>contrabass</em>), Cito (drum), dan Ivan (Guitalele). Formasi ini adalah formasi terakhir setelah sebelumnya sempat berganti personel. Didirikan oleh Is dan Comi tahun 2007, mulanya Payung Teduh hanyalah pengisi musik latar untuk Teater Pagupon Universitas Indonesia, sambil terkadang iseng bermain music di kantin sastra (Kansas) UI. Meski mereka disebut memadukan keroncong dan jazz ala tahun 60-an, namun genre apa yang mereka bawa diserahkan pada pendengar mereka.</p>
<p>Wajah vokalisnya memang tak tampan. Tapi apa pentingnya? Tangannya, bagi kita—para penyimak musik, lebih berharga. Gitarnya lah yang pertama-tama akan menyihir. Lalu suaranya: tenor yang maskulin namun mampu menanjaki nada-nada tinggi.</p>
<p>Kita semakin beruntung ketika mendengarkan Payung Teduh lewat rekaman-rekamannya (rekaman live!). Saya menebak, mereka tidak melakukan edit suara yang berarti, sehingga suara-suara “kotor” khas piringan hitam dan kaset masuk semua—hal-hal yang muskil kita jumpai di rekaman-rekaman digital sekarang.</p>
<p>Yang paling menyihir dari Payung Teduh, terutama bagi Anda yang menghargai lagu berkat liriknya yang puitik, adalah kenikmatan utnuk menyesapi puisi-puisi dalam lagu mereka.</p>
<p>Gabungan ketiga sihir itu bermula sejak lagu pertama “Angin Pujaan Hujan”. Lagu bermula dengan intro getir sepuluh detik yang lembut yang ditimpali pukulan lembut <em>cajòn</em> (alat music pukul khas Peru berupa kotak kayu dengan lubang), yang segera disusul dengan petikan <em>kencrung</em> alias guitalele yang membuat kita, tanpa sempat menduga, terlempar ke nostalgia  kenangan-kenangan cinta. Nuansa klasik ala keroncong hadir pula berkat petikan <em>contrabass</em> yang megah sekaligus sederhana. Kombinasi <em>cajòn</em> dan suara tenor Is, sang vokalis, menjadikan lagu ini tak jatuh dalam suara cempreng alat musik petik. Kata-kata indah lalu berjatuhan:</p>
<p><em>Datang dari mimpi semalam/Bulan bundar/Bermandikan sejuta cahaya/Di langit yang merah/Ranum seperti anggur/</em>&#8230;</p>
<p>Kata <em>anggur</em> adalah puncak sihir itu. bayangkan, berapa banyak penyair yang mengatakan langit semerah anggur, bukan biru atau hitam!</p>
<p>Namun di balik nada-nada indahnya, “Angin Pujaan Hujan” adalah lagu sendu. Dalam <em>reff</em>-nya, bulan dan langit yang ranum bagaikan anggur ternyata hanya mengingatkan pada&#8230; <em>sang pujaan (</em>yang<em>) tak juga datang/angin berhembus bercabang/rinduku berbuah lara.</em></p>
<p>Sendunya lagu pertama adalah dera pertama. Lagu kedua, “Resah”, yang sudah terdengar menyakitkan sejak judulnya, adalah dera yang lebih dahsyat. Dibuka dengan petikan gitar yang sedih yang menyiapkan kita untuk memejamkan mata, lalu satu per satu lirik datang bagai menetes:</p>
<p><em>Aku ingin berjalan bersamamu/dalam hujan dan malam gelap/tapi aku tak bisa/melihat matamu/aku ingin berdua denganmu/di antara daun gugur/aku ingin berdua denganmu/tapi aku hanya melihat keresahanmu.</em></p>
<p>Sepertinya Payung Teduh menyenangi lagu-lagu kelam yang khas dengan kesenduan yang sendiri. Dari sepuluh lagu, delapan di antaranya bicara tentang penantian yang sia-sia (“Angin Pujaan Hujan”), kematian (“Kita adalah Sisa-sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan”), kemurungan (“Cerita Gunung dan Laut”), ketersingkiran (“Resah”), kehilangan harapan (“Malam”), pencarian yang berakhir tragis (“Kucari Kamu”), dan hubungan yang akhirnya berakhir (“Tidurlah”). Hanya satu lagu yang mengisahkan romantisme yang manis, yaitu “Untuk Perempuan yang Sedang dalam Pelukan”. Namun dalam keduanya (kesenduan dan romantisme), Payung Teduh mampu menjadikannya begitu berkesan. Coba lihat perbandingan lirik antara “Kucari Kamu”</p>
<p><em>Aku cari kamu </em></p>
<p><em>Di setiap bayang kau tersenyum</em></p>
<p><em>Aku cari kamu</em></p>
<p><em>Kutemui</em></p>
<p><em>Kau berubah</em></p>
<p>dan “Untuk Perempuan yang Sedang dalam Pelukan”:</p>
<p><em>Tak terasa gelap pun jatuh</em></p>
<p><em>Di ujung malam</em></p>
<p><em>Menuju pagi yang dingin</em></p>
<p><em>Hanya ada sedikit bintang malam ini</em></p>
<p><em>Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya</em></p>
<p>Kesedihan ketika pencarian yang penuh harap berakhir dengan “&#8230;kutemui/kau berubah” dibalas tuntas dengan sebuah tanya retoris: <em>mengapa hanya ada sedikit bintang malam ini? Ah, mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya!</em> Ini sejenis romantisme yang melayangkan ingatan kita pada pertemuan-pertemuan sunyi dengan kekasih, di mana kata tak ada, hanya bahasa mata dan alam.</p>
<p>Setelah memutar <em>track</em> dalam album ini, kita akan menemukan fakta lain: bahwa Payung Teduh tergila-gila pada <em>malam</em>. Kata itu disebut dalam tujuh lagu, seakan hendak menegaskan kesenduan dalam tema-tema lagu mereka.</p>
<p>Hampir semua lagu dalam album ini patut diulas, karena kesemuanya menawarkan sihir-sihir. “Cerita Gunung dan Laut” yang dinyanyikan seperti mantra—intro yang lambat dan rendah kemudian semakin naik, naik, dan naik—lebih layak disebut musikalisasi puisi. Satu-satunya hal yang saya anggap cacat dalam album ini adalah munculnya lagu “Amy” sebagai penutup. Bangunan lagu-lagu liris yang sudah terbangun dirusakkan oleh lagu yang lebih mirip rekaman gitar akustik tanpa lirik (hanya ada lirik “amy.. amy..” yang diulang-ulang).</p>
<p>Namun yang pasti, cacat itu tidaklah berarti dibanding sembilan lagu lainnya. Kita digiring pada sebuah oksimoron sensasi: antara keindahan musik dan kesenduan lirik-lirik yang menusuk. Keduanya tetaplah meneduhkan kita sejenak dari serbuan lagu-lagu banal yang memekakkan. (<em>Prima SW</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekspresionline.com/2011/12/13/payung-teduh-berteduh-di-bawah-sendunya-malam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>86</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sangat</title>
		<link>http://ekspresionline.com/2011/12/08/559/</link>
		<comments>http://ekspresionline.com/2011/12/08/559/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 19:05:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lpm_ekspresi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekspresionline.com/?p=559</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Jaka Hendra Baittri
Hold me,
You shall never ever shee me
Blankets will notn hesitate me
Flowers shan’t even wake
(Glow by Frau)
Lani, aku akan tetap menuliskan puisi untukmu. Karena aku merindukanmu. Jangan bersabar dalam keragu-raguan. Aku sangat merindukanmu. Setiap pagi seperti nyanyian yang menyuruhku kembali ke Yogyakarta. Setiap malam seperti lolongan anjing yang mencoba memanggil bulan untuk dipeluk.
Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Jaka Hendra Baittri</p>
<p>Hold me,<br />
You shall never ever shee me<br />
Blankets will notn hesitate me<br />
Flowers shan’t even wake</p>
<p>(Glow by Frau)</p>
<p style="text-align: justify;">Lani, aku akan tetap menuliskan puisi untukmu. Karena aku merindukanmu. Jangan bersabar dalam keragu-raguan. Aku sangat merindukanmu. Setiap pagi seperti nyanyian yang menyuruhku kembali ke Yogyakarta. Setiap malam seperti lolongan anjing yang mencoba memanggil bulan untuk dipeluk.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku ingin memelukmu, cukup dengan kebisuan kita dan pesan-pesan aneh yang seringkali kita lakukan. Seperti sepasang alien yang berbahasa Mars.</p>
<p style="text-align: justify;">Tadi malam, ketika venus terlalu cepat menjadi bintang timur. Ketika itu pula aku melihat sebuah kecelakaan dipersimpangan jalan. Sayang aku sedang menumpang dengan temanku yang terburu waktu. Aku khawatir. Kahawatirku padamu.</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah kau baik-baik saja disana? Aku harap begitu. Kau tahu, aku sudah bertemu dengan adik perempuanku. Banyak perkembangan yang terjadi padanya. Nilai-nilainya seperti biasa, bagus dan diatas rata-rata. Tap bukan it yang aku sebut perkembangan. Kau kenal aku. Ya, aku yang tak suka menilai seseorang melalui angka-angka. Karena selalu kubilang angka-angka terlalui rigid menilai kemanusiaan yang fluktuatif.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali pada perkembangannya. Dia, adik perempuanku, semakin rajin melahap bacaan. Entah apapun bacaannya. Itu hal yang baik bagiku, juga baginya menurutku. Aku jadi ingat ketika pertamakali kuberikan puisiku padamu. Beberapa kali kau suruh aku baca itu puisi. Tapi, ah lupakan, itu hanya membuatku semakin rindu padamu, bukankah itu bagus? Ya, kau membuatku semakin gila.^^</p>
<p style="text-align: justify;">Aku ingin  kembali menuis, disebelahmu yang selalu asik berdialog dengan Oscar, berdialog melalui jari-jari lentikmu pada tuts bernada Oscar. Mendengar senandungmu selalu memaksaku untuk berpindah tempat, duduk di sampingmu. Memperhatikanmu bernyanyi satu lagu atau beberapa lagu, lalu kembali duduk di sofa. Dalam keadaan seperti itu, aku masih berpikir kau tetap misteri. Aku ingin tahu lebih tentangmu: menelanjangi semua hal tentangmu. Tapi taklah. Lebih baik semuanya begini dulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kau tahu, Lani? Beberapa hari jauh darimu sulitku tidur. Selimut tak bisa menentramkan suhu tubuhku dengan suhu malam. Terkadang memang ak tak peduli berapa jam aku tidur dalam sehari. Bahkan tak tidur sekalian pun tak masalah. Kali ini tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku ingin cepat tidur. Menarik waktu agar ku bisa berpindah ruang. Ah, sudah seperti Einstein saja aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Terkadang aku muak dengan keadaan sekitar ketika aku pulang. Pemerintahan yang aku tuduh masih sangat orde baru, korupsi dimana-mana dan halal, apresiasi seni terbatas, mall bertambah banyak, anak-anak muda Hedon. Tapi terkadang aku terpikir, aku merindukan rumah  dukan hanya pada ibu dan semuanya, tapi iklim propinsi itu pun berkonspirasi membuatku menjadi ingin pulang.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana kesibukanmu? Sedang sibuk apa? Jangan bilang kau sibuk merindukanku. Karena itu tak perlu untuk dilisankan. Besar kepala sekali ya aku, haha.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayang. Terlampau dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Syahdan ku bertemu dengan seorang kawan lama. Dia membincangkan musisi-musisi indie Jogja. Salah satu disebutnya namamu. Proyekmu bersama Oscar itu. Ya, kau dan Oscar telah terdengar sampai kemana-mana. Membuatku takut. Takut bertambah gilaku.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: right;">Yogyakarta, 23-3-2011<br />
Kamarkossempit.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekspresionline.com/2011/12/08/559/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>71</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NOSTALGIA BERSAMA TINTIN 3D!</title>
		<link>http://ekspresionline.com/2011/12/08/nostalgia-bersama-tintin-3d/</link>
		<comments>http://ekspresionline.com/2011/12/08/nostalgia-bersama-tintin-3d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 17:46:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lpm_ekspresi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekspresionline.com/?p=552</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Jaka Hendra Baittri



Banyak orang yang 	yakin bahwa kau akan kalah, bahwa kau akan jadi pecundang. Tapi 	jangan pernah katakan itu dari dan pada dirimu sendiri &#8230;


(Dialog Haddock dengan Tintin)

Selasa pagi, tepatnya hari ke 29 November. Saya membeli satu majalah Tempo edisi 28 November 2011. Saya membolak balik halaman sambil sekali-kali membaca per lembar kisah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom: 0cm" align="JUSTIFY">Oleh: Jaka Hendra Baittri</p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="JUSTIFY">
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="JUSTIFY"><em>Banyak orang yang 	yakin bahwa kau akan kalah, bahwa kau akan jadi pecundang. Tapi 	jangan pernah katakan itu dari dan pada dirimu sendiri &#8230;</em></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="JUSTIFY"><em>(Dialog Haddock dengan Tintin)</em></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0cm" align="JUSTIFY">Selasa pagi, tepatnya hari ke 29 November. Saya membeli satu majalah Tempo edisi 28 November 2011. Saya membolak balik halaman sambil sekali-kali membaca per lembar kisah Koalisi Ibas-Aliya. Hingga saya terhenti di kolom catatan pinggir Goenawan Mohamad: Tintin.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="JUSTIFY">Judul itu kemudian membuat saya tertarik kemudian berencana menonton The Adventure of Tintin. Ya, tokoh ciptaan Georges Prosper Remi ini kemudian memaksa saya untuk mengingat-ingat kapan terakhir kali saya melihat serial Tintin di salah satu televisi swasta Indonesia. Tertarik, ba&#8217;da maghrib saya menuju Empire XXI yang bertempat di Jalan Solo.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="JUSTIFY">Format 3D film ini membuat saya kagum. Grafik para tokoh seperti orang-orang asli, sampai ketika pada kulit Tintin pun kelihatan bintik-bintiknya, kecuali Snowy yang masih sangat komikal. Debu- debu ruangan yang berterbangan serasa ada di depan mata. Ya, itulah keajaiban format 3D. Tapi mungkin bukan itu yang saya perhatikan. Saya semakin yakin menyangkal Goenawan Mohamad yang mengatakan dalam Catatan Pinggirnya bahwa tokoh Tintin adalah karakter yang tidak memikat untuk sekarang.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="JUSTIFY">Tokoh Tintin dengan segala biasa-nya sangat realistis. Gambaran tokoh utama yang realistis dalam film-film atau animasi untuk anak-anak sekarang sudah sangat kurang. Bisa diambil contoh kasus bagaimana <span style="font-style: normal">para </span><em>superhero</em><span style="font-style: normal"> Indonesia seperti Gatotkaca pun dibentuk tubuhnya menjadi berotot dan atletis badannya. Rental tubuh Superman untuk Gatot Kaca dan entah berapa biaya sewanya.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal" align="JUSTIFY">Bila pun melihat tokoh seperti Naruto dengan bentuk tubuh biasa saja, tapi dengan perubahan-perubahan wujudnya pun membawa anak yang menontonnya mempunyai keinginan untuk mendapatkan kekuatan yang mustahil itu. Realistis, itu kuncinya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal" align="JUSTIFY">Seperti pada pertengahan film ketika Tintin dan Haddock si keturunan bajak laut kalah cepat dengan lawannya ketika merebut tiga lembar petunjuk dari elang peliharaan musuhnya. Ketika itu musuhnya berhasil membawa kapal Haddock beserta tiga lembar petunjuk tersebut. Tintin putus asa dan Haddock mencaci Tintin dan mengatakan bahwa Tintin pesimis. Tintin menjawab: “Saya tidak pesimis, saya hanya bersikap realistis”.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="JUSTIFY"><span style="font-style: normal">Sikap realistis ini yang hampir hilang dalam </span><em>Roullete</em><span style="font-style: normal"> tokoh animasi sekarang. Terlalu banyak kekuatan super. terlalu banyak tubuh yang atletis atau yang “Amerika-sekali”. Seperti Ramboisme; Mengalahkan banyak orang dengan kekuatan fisik sendiri.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="JUSTIFY"><span style="font-style: normal">Khas film ini adalah bagaimana Tintin sebagai tokoh utama menggunakan nalarnya dalam memecahkan masalah. Rasionalitas. Garapan Steven Spielberg ini membuat saya segara ditengah hingar bingar </span><em>superhero</em><span style="font-style: normal"> dengan kekuatan super. Kecuali Detektif Conan tentunya, tapi jelas ini produk Jepang dan bukan Amerika.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal" align="JUSTIFY">Mulai dari awal film hingga akhir, banyak sekali humor yang terselip. Seperti ang saya katakan sebelumnya: bercak-bercak humor. Belum lagi saat sebuah kota di Afrika, tujuan Tintin dan Haddock, mempunyai raja yang mempunyai hobi mendengarkan lagu opera. Seorang raja yang saya kira lebih cocok sebagai raja dari Timur Tengah tersebut sangat menokmati sajian nyanyian opera yang memecahkan kacamatanya sendiri. Di sini budaya barat memainkan peran dalam hal diplomasi budaya penyanyi opera. Belum lagi ketika Haddock menjadi motivator bagi Tintin sendiri  ketika mereka didahului lawannya. Entah berapa kali penonton sekitar saya tergelak melihat tingkah polah Haddock dan juga Snowy. Belum lagi dua agen polisi yang sedikit bodoh: Thompson dan Thomson.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal" align="JUSTIFY">Haddock sendiri adalah tokoh yang menarik. Ia merupakan gambaran seorang pelaut yang suka mabuk dan pelupa. Hingga suatu waktu Haddock yang juga menjadi tokoh kunci disini berebut alkohol dengan Snowy pada saat yang sangat tidak tepat.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal" align="JUSTIFY">Haddock lupa akan pesan terakhir leluhurnya. Pesan yang menjadi kunci petualangan ini. Namun kelupaan itu akhirnya terobati oleh oase dari gurun tempat mereka terdampar. Haddock merasa berperan leluhurnya. Belum lagi ketika kapalnya menghadapi tetamu lain. Bajak laut lain.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="JUSTIFY"><span style="font-style: normal">Terlepas dari petualangan seru Tintin yang mempunyai </span><em>setting </em><span style="font-style: normal">di banyak tempat, film ini sangat dekat dengan keseharian. Dekat dalam artian tidak terlalu banyak kekuatan-kekuatan super yang tidak realistis. Ditambah lagi ada bercak-bercak humornya di banyak </span><em>scene</em><span style="font-style: normal">. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="JUSTIFY">Segi Grafis Tintin perlu dipertimbangkan. Adventures of Tintin menawarkan grafis yang begitu detail. Seperti debu-debu yang berterbangan hingga kilatan cahaya matahari mendekati bentuk &#8216;nyata&#8217;. Ya, bisa dikatakan sedikit transformasi dalam dinamika film 3D.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="JUSTIFY"><span style="font-style: normal">Bagi yang ingin bernostalgia dengan masa lalunya. Tintin menjadi pilihan yang tepat, bahkan sangat tepat. Namun, jikalau Anda orang yang mencari hal-hal yang baru maka Anda hanya akan menemukan cerita yang alurnya biasa dan dengan karakter yang biasa tapi jenius. kecuali pada efek 3D-nya yang tentu saja membuat penonton merasa berbeda dengan menonton serial kartunnya yang 2D dan dengan datar yang sangat datar, dalam hal ini adalah pembawaan Tintin sebagai tokoh utama. Tak ada tanda-tanda kalau Tintin berasal dari planet </span><em>namek</em><span style="font-style: normal"> atau planet yang hilang dari peta. Selamat menonton!</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0cm" align="JUSTIFY"><span style="font-style: normal"><a rel="attachment wp-att-553" href="http://ekspresionline.com/2011/12/08/nostalgia-bersama-tintin-3d/tintin/"><img class="alignleft size-medium wp-image-553" title="tintin" src="http://ekspresionline.com/wp-content/uploads/2011/12/tintin-300x240.jpg" alt="tintin" width="300" height="240" /></a><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekspresionline.com/2011/12/08/nostalgia-bersama-tintin-3d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>108</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

