Karnaval Caci Maki

Rp25,000.00

Setujukah Anda bahwa memaki itu buruk? Bila jawabannya “iya”, maka ada baiknya Anda membaca buku ini. Inilah saatnya kita menelusuri ulang makian sebagai sebuah fenomena banal yang laten sekaligus sarat justifikasi. Sesuatu ini bertebaran di mana-mana, di sekitar kita, tiap hari. Sementara Anda menganggap buruk, kenyataannya Ken Arok telah menyerapah “Jagad Pramudhita!” ratusan tahun yang lalu dan di milennium ketiga ini, Presiden juga memaki, “tidak waras!”. Mungkin makian memang buruk, dan dahsyatnya lagi, ia tetap bertahan dalam bahasa kita hingga ratusan tahun.

Sejarah membuktikan, makian lebih sering dianggap sebagai aberasi; penyimpangan dari yang normal, dari norma. Namun ada kalanya memaki dimaklumi. Makian ditoleransi, tapi hanya sampai batas-batas tertentu yang kita sepakati. Kita sepakat, musuh memang pantas dimaki, untuk tidak dihargai. Tapi kita—atas pendidikan moral yang diterima sejak anak-anak—tidak akan sepakat jika orang tua dimaki oleh orang yang lebih muda. Juga tak sepakat jika seorang pemimpin keagamaan memaki di depan forum. Memaki—atau lebih luas lagi; berkata-kata, ternyata adalah soal kesepakatan.

Ikhwal sepakat tak sepakat itu pula yang membuat buku ini kemudian ada sekarang, mewujud di depan Anda. Mulanya adalah kesadaran bahwa ternyata makian yang bertebaran di sekitar kita ternyata tak mesti dilontarkan dengan kegaranga. Puncak paradoks makian adalah ketika makian digunakan dalam nuansa persahabatan. Bila banyak yang mengatakan—bahkan kamus bahasa—makian adalah hal yang kental unsur negatif, buku ini dengan pasti tak sepakat.

Jadi, apa kini makian telah berevolusi menjadi sesuatu yang “baik-baik”?

Nyatanya tidak. Ketika Anda menekuri buku ini, Anda akan mendapati bahwa makian telah dipakai sebagai pengungkap beragam ekspresi sejak dulu. Yang paling sederhana adalah sebagai katarsis yang efeknya paliatif; melegakan.

Bagi Anda yang tidak setuju bahwa makian itu buruk, atau mungkin abstain sama sekali. Makian bukan cuma masalah bagaimana Anda berkata dengan “benar”, tapi juga serangkaian persoalan. Mulai dari soal psikologis, linguistik, sejarah, wacana kekuasaan, budaya perlawanan, kapitalisme, agama hingga yang terbesar—tentu saja – moralitas.

Buku ini memaparkan pembacaan terhadap makian dengan prespektif baru. Mengupasnya sejak dari hasrat sampa anggapan moral yang ditempelkan padanya. Inilah buku berbahasa Indonesia pertama yang utuh membahas makian semata. Menyelaminya akan serasa berada dalam sebuah karnaval: Karnaval Caci Maki.

 

Untuk pemesanan, silahkan hubungi 085643356050 (Arde Candra) atau klik tombol di bawah ini.

Additional information

Judul

Karnaval Caci Maki

Penulis

Prima Sulistya W., dkk.

Terbit

Januari 2012

Tebal

278 Halaman

Penerbit

EKSPRESI Buku

ISBN

978-979-99631-5-4