Majalah EKSPRESI Edisi XXIX – Diskriminasi Rasial Pertanahan Yogya

Rasialisme punya porsi yang cukup panjang dalam bentangan sejarah peradaban duni a. Seiring majunya peradaban, muncul orang­-orang yang akhirnya mampu membawa suara bahwa perbedaan etnis maupun ras tidak jadi soal dalam kehidupan sehari­-hari. Revolusi penghentian diskriminasi rasial yang telah pecah di berbagai tempat akhirnya berujung pada Resolusi Persatuan Bangsa­Bangsa untuk menyetop diskriminasi ini. PBB sampai harus hadir, sebab tidak sedikit diskriminasi ini dilanggengkan oleh tokoh pemerintah bahkan negara. Diskriminasi sudah kadung tersistem.

 

Di Yogyakarta pun demikian. Seakan terjebak dalam stigma, pemerintah provinsi ingin melindungi warga pribumi dari warga nonpribumi. Fakta bahwa aset tanah yang tersebar di seluruh negeri ini hanya di miliki oleh segelintir orang memang benar. Namun, pemprov membaca akar ketimpangan ini bersumber bukan dengan dasar kelas sosial melainkan etnisitas. Warga yang di golongkan nonpribumi tidak boleh mempunyai surat hak milik tanah di Yogyakarta.

 

Tidak ada landasan yang jelas bagaimana pemprov mendikte yang mana pribumi dan nonpribumi. Terlebih pemerintah pusat telah melahirkan beleid yang melarang penggunaan istilah pribumi dan nonpribumi.  Komnas HAM yang sudah hadir sejak 4 tahun lalu, nyatanya tidak mampu mengubah sikap Gubernur DIY. Tema inilah yang kami sajikan di rubrik Analisis Utama.

 

Sementara itu, pemerintah pusat tengah mewacanakan pembangkit listrik super besar yang berlokasi di Kabupaten Batang. Mendapat gandengan investor dari Jepang, tenaga uap dipilih sebagai teknologinya. Sontak, masyarakat pesisir Kabupaten Batang protes. Selain karena polusi yang akan berdampak pada sawah dan laut mereka, ruang hidup dan pekerjaan juga kudu beralih. Pada rubrik Telusur, kami coba sajikan liputan masalah ini dengan gaya jurnalisme naratif.

 

Warga jelas tak mau jadi martir atas mimpi pemerintah punya PLTU terbesar se­-Asia Tenggara. Apalagi efeknya tak tanggung­-tanggung, angka polusi yang disumbangkan satu PLTU Batang setara dengan jumlah total polusi yang dipunya Myanmar dalam setahun. Para nelayan dan petani Batang lantas bergerilya mencoba menggagalkan mega proyek pemerintah ini. Langkah diplomatis hingga turun ke jalan hampir jadi ke seharian. Saat ini sawah para petani sudah di tutupi seng, kapal­-kapal besar pengangkut batu bara mengancam kapal kecil para nelayan.

 

Di­lan­jut­kan­ dengan­ mem­ba­has­ ke­bang­kit­an­ ri­lis­an­ fisik di rubrik Laporan Khusus, kami urai kan fenomena­-fenomena yang mengiringinya. Anda akan temukan bagaimana efektivitas­ dan­ efi­si­en­si­ tidak­ se­la­lu­ menj­a­di raja. Pasalnya, kecanggihan dan kepraktisan musik digital tidak otomatis membuat ril­is­an­ fisik­ mati.

 

Seabrek alasan masih dipunyai oleh orang­-orang yang tidak mau beranjak dari ril­is­an­ fisik.­ Mulai­ dari­ po­ten­si­ eko­nom­i sebagai bahan koleksi yang nilai jualnya dapat meningkat berkalilipat. Hingga kenikmatan batiniah dalam mendengar musik yang hanya dapat dicapai dengan ril­isa­n­ fisik­ dan­ barang-barang­ berk­ua­litas tinggi. Sampai di sini, piringan hitam dipuja-puja­ se­ba­gai­ me­di­um­ ri­lis­an­ fisik penghasil suara paling bagus.

 

Komunitas­-komunitas pencinta rilisan­ fisik­ pun­ mulai­ ber­munc­ul­an.­ Mulai dari sekadar kumpul­-kumpul dan tukar-men­uk­ar­ ril­isa­n­ fisik,­ hingga­ per­ay­aa­n­ sekaliber internasional pun dibikin. Mereka dikumpulkan dengan alasan yang kurang lebih sama: rilisan fisik.­ Be­gi­tu­ pula­ dengan­ ko­mu­ni­tas­ lain­ yang­ tak­ pernah berkumpul, bikin perayaan, tapi tak hilang­-hilang. Mereka adalah para penjaja musik bajakan. Bukti paling sederhananya adalah pelapak kaset dan CD bajakan yang sampai sekarang masih punya pangsa pembeli.

 

Tak ada alasan untuk menyebut majalah ini bagus. Apalagi delapan bulan adalah waktu yang terlampau lama. Prokrastinasi yang berujung ketidakdisiplinan para penggarap majalah menjadi alasan yang tak bisa di mungkiri. Namun, tentunya butuh kerja keras sampai majalah ini sampai ke tangan pembaca. Mulai dari membagi waktu, tenaga, dan pikiran sembari menjalani proses akademik. Akan lengkap rasa nya jika kerja keras tadi mendapat apresiasi dari para pembaca berupa kritik. Pada akhirnya, kami ucapkan selamat menikmati majalah ini. Semoga mampu membantu Anda se­ba­gai­ refleksi­ pe­mik­ira­n­ int­e­lek­tu­al.[]

 

Baca di sini.