Sale!

Majalah Ekspresi Edisi XXVII – Reforma Agraria Gagal

Rp15,000.00 Rp0.00

Bertambahnya jumlah penduduk Yogyakarta, yang disebabkan oleh banyak faktor, mengakibatkan kebutuhan akan papan meningkat. Pembangunan rumah indekos, apartemen, dan perumahan elite marak terjadi. Ditambah lagi Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta ingin memaksimalkan potensi wisata sehingga pembangunan hotel-hotel pun turut marak. Pembangunan papan yang marak terjadi lantas menggusur lahan pertanian akan sangat mudah ditemui di daerah Sleman. Penolakan dari warga pun bermunculan, seperti penolakan pembangunan apartemen di Dusun Gadingan, Ngaglik, Sleman. Masalah yang begitu kompleks mulai dari peraturan perundangan yang tak dijalankan dengan semestinya, harga tanah yang tiap tahun terus naik hingga membuat petani tergiur untuk menjual lahannya, sampai ancaman terhadap ketahanan pangan dan kondisi Yogyakarta yang tak tertata kami sajikan dalam rubrik Analisis Utama.
Berlanjut ke rubrik Telusur, permasalahan yang diangkat tak jauh dari persoalan agraria, yakni mengenai konflik lahan di Rembang. Para petani Rembang menolak pabrik semen di bangun di kawasan Pegunungan Watuputih. Perjuangan mempertahankan kesejahteraan dan lingkungan dilakukan oleh semua lapisan masyarakat, tua-muda, lelaki-perempuan, semua turun tangan menghadapi perusahaan besar yang di dukung oleh TNI dan polisi. Kekerasan pun sering kali tak dapat dihindarkan, namun penolakan terus berlangsung. Mengharap dukungan dan keadilan dari pemerintah nampaknya hanya angan belaka. Warga terus berjuang dan hingga majalah ini terbit, masalah di Rembang belum juga usai. Pergerakan masih berlangsung, penolakan-penolakan terus disuarakan.
Ketika anda sudah cukup tegang membaca persoalan agraria, mari santai sejenak dengan membaca Laporan Khusus yang menyajikan berita unik dalam bentuk feature. Mengingat pernyataan Elizabeth  Wilson, “Pakaian merupakan perpanjangan dari tubuh, namun bukan benar-benar bagian dari tubuh yang menghubungkan dengan dunia sosial sekaligus memisahkannya.” Inilah yang akan anda temui ketika membaca rubrik Laporan  Khusus. Selembar kain penutup kepala bisa menentukan citra diri seseorang. Identik dengan Islam misalnya, bila kita melihat konteks Indonesia. Dulu ketika zaman Orde baru, pemakai kerudung masih jarang ditemui. Kini, pemakai kerudung malah semakin menjamur. Serba-serbi tentang kerudung ini akan anda nikmati sepanjang 19 halaman. hal-hal itulah yang bisa kami sajikan di majalah  EKSPRESI kali ini. Luput tak dapat dihindari meski kami telah berusaha seperti apa pun. Sebab kadang tak semua usaha berbuah manis. Ketika majalah ini sudah di tangan anda, yang bisa kami lakukan adalah menerima kritik untuk perbaikan majalah berikutnya. Selamat menikmati, selamat membaca.

Download Majalah Buka di Issu.com