Majalah EKSPRESI Edisi XXVIII – Memburu Aliran Emas Biru

Rp15,000.00

Kebutuhan air adalah sebuah keharusan. Paling tidak semua orang butuh minum untuk tetap hidup. Kalau simpul kehidupan ini dikelola atau bahkan dikuasai oleh pihak swasta dan diberi harga untuk setiap liternya, artinya ini akan jadi penjajahan gaya baru. Penjajahan atas kemampuan untuk hidup secara harfiah. Tema Analisis Utama dalam majalah yang Anda pegang saat ini berakar pada kekhawatiran hal itu.

 

Terlebih, praktik­praktik penjualan air bersih melalui air minum dalam kemasan (AMDK) sudah mencengkeram masyarakat Indonesia. Dari kota hingga desa, kini mulai marak masyarakat yang menggunakan AMDK. Pada 2014, Badan Pusat Statistik menyebut 30 persen rumah tangga di Indonesia bergantung mutlak pada AMDK sebagai sumber air minum. Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) sebagai satu­satunya instansi pemerintah yang bertanggung jawab dalam penyediaan air bersih juga tidak menjalankan peranya dengan baik. Nyatanya air PDAM juga tidak layak untuk langsung dikonsumsi. Pada beberapa kasus, air PDAM mengandung terlalu banyak zat kapur atau kaporit yang mengganggu konsumen. Bahkan, PDAM sendiri mengakui bahwa air yang dialirkan tidak layak dikonsumsi.

 

Secara geografis dan klimatologis, alam Indonesia menjamin ketersediaan akan air. Bahkan di daerah yang rawan kekeringan sekalipun, menyimpan potensi air yang berlimpah. Di Kabupaten Gunungkidul misalnya, sumber air permukaan memang sulit ditemukan. Namun, di wilayah yang hampir setiap tahun kekeringan tersebut ternyata menyimpan kekayaan air di sungai­sungai bawah tanahnya. Bahkan, muncul wacana menjadikan Gunungkidul sebagai lumbung air untuk memenuhi kebutuhan air Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

Di Indonesia, krisi air bukanlah persoalan tidak adanya sumber daya air. Permasalahannya adalah tidak ada keseriusan negara dalam memberikan pelayanan atas sumber daya air tersebut. Negara tidak boleh menyerahkan pengelolaannya kepada swasta yang tidak punya konsekuensi publik secara langsung. Pembatalan Undang­Undang Nomor 7 tahun 2004 oleh Mahkamah Konstitusi merupakan energi luar biasa besar untuk mendorong terjadinya gerakan pemulihan kedaulatan air asalkan diikuti oleh diterbitkannya peraturan­peraturan maupun implementasinya yang sejalan. Di tatataran paling bawah, negara juga wajib menjamin pengelolaan air berbasis komunitas sebagai salah satu solusi permasalahan pengelolaan air.

 

Penelusuran pesisir Pantai Watu Kodok yang tengah menjadi sengketa akan Anda temukan di rubrik Telusur. Pantai yang puluhan tahun lalu dibuka oleh masyarakat sekitar, kini diperebutkan dengan investor asal Jakarta. Berencana membuat resort di Watu Kodok, investor tersebut berhasil mengantongi hak pakai Sultan Ground (SG) di Watu Kodok.

 

Namun, sampai dengan majalah ini diterbitkan dasar hukum yang mengatur tentang pengaturan tanah SG belum kunjung diselesaikan DPRD DIY. Hal inilah yang kemudian menjadi faktor pendorong warga untuk terus mempertahankan Pantai Watu Kodok. Warga menepis investor yang secara legal­formal telah didukung oleh jajaran pemerintah dari tingkat kelurahan hingga provinsi. Selain itu, warga juga harus berjuang mengatasi konflik horizontal antarwarga. Kisah mereka menjadi laporan Jurnalisme Sastrawi di majalah ini.

 

Pada rubrik Laporan Khusus kami menyajikan beragam narasi dari kamar kost. Ribuan mahasiswa yang nge­kost di Yogyakarta punya banyak cerita yang bisa dibagikan kepada Anda. Bisnis kost merajalela, utamanya di Sleman. Pemerintah Kabupaten Sleman sampai harus membuat peraturan beragam hanya untuk kost­kostan. Alasannya juga dapat Anda temui di tulisan kami, adanya tindakan rasis, kriminalitas, kost bebas, stigma, bahkan prostitusi di kost.

 

Apa yang kami terbitkan ini kami sadari masih jauh dari sempurna. Sehingga, kami meyakini majalah ini belum mampu memenuhi keinginan semua pihak. Namun di atas itu semua, proses ini kami telah kami rampungkan dengan bantuan berbagai pihak. Untuk itu, kami ucapkan terima kasih untuk semua pihak yang telah meluangkan waktu, mendukung kami menyelesaikan majalah ini. Akhir kata, semoga majalah ini mampu mewarnai refleksi pemikiran intelektual Anda! Selamat membaca

 

Untuk pemesanan, silahkan hubungi 085740599145 (Triana Yuniasari) atau klik tombol di bawah ini.

Category: Tags: , , , , ,