Pemain Kedua Belas

Rp40,000.00

“Tak banyak di negeri ini yang sadar bahwa sepak nola adalah budaya dan agama baru. Buku ini ditulis oleh orang-orang yang mengantisipasi hal tersebut sebelum para elit semakin sadar bahwa permainan terindah ini bisa menjadi kendaraan politik yang sangat manjur.”

Andibachtiar Yusuf

Sutradara dan Sepakbolais

 

JIka jutaan orang menganggap menonton langsung pertandingan sepak bola sewajib menjalankan ritus keagamaannya, maka stadion telah menjelma menjadi kuil pemujaan. Di sanalah ratusan ribu umat mendaraskan puja-puji beserta doa-doa kepada dewa-dewa kecil bercelana pendek.

Begitulah suporter sepak bola hadir selama ini. Namun, mendukung klub bukanlah sekedar berlelah-lelah nyanyi di tribun. Menjadi suporter dapat juga berarti merumuskan identitas diri, dimanfaatkan oleh politik, bahkan terjebak dalam pusaran kapitalisme global.

Buku ini hadir untuk memposisikan suporter sebagai sekumpulan orang yang terlibat dalam satu pengalaman kolektif. mereka bukan hanya bisa menonton. Namun, dapat juga menjadi subjek yang berperan dalam hal-hal yang sepintas terlihat jauh dari sepak bola.

Setidaknya ada lima hal mendasar yang coba ditawarkan dari wacana yang dibangun dalam buku ini. Pertama, adalah sejarah sepak bola dan evolusi struktural fungsionalnya, serta akar ontologis keber”ada”an suporter. Bab-bab dari buku ini akan membawa kita pada pemahaman yang mengantarkan kenapa sepak bola saat ini menjadi begitu populer dan mengambil posisi tersendiri dari berbagi tren budaya yang senantiasa datang silih berganti. Secara implisit pula tergambar dalam buku ini bagaimana proses metamorfosis yang dialami oleh olahraga, terutama sepak bola.

Kedua, suporter sepak bola dan kapitalisme. Tidak bisa dipungkiri bahwa tatanan dunia saat ini dimenangkan oleh ideologi kapitalisme. Melalui perspektif ini, suporter ditempatkan sebagai korban dengan yang oleh para pemilik modal dengan cerdik memanfaatkan loyalitas suporter terhadap kesebelasan yang didukungnya,

Ketiga, suporter selalu terkait dengan kekerasan dan kemiskinan. “Frustasi dalam hidup masyarakat adalah sumber yang melahirkan agresi. Tidak banyak sarana untuk dapat menyalurkan agresi. Pertandingan sepak bola di stadion yang dipadati secara massal adalah sarana yang paling memungkinkan untuk menyalurjan agresi tersebut,” demikian yang diungkapkan Sindhunata dalam Air Mata Bola.

Keempat, suporter dan sistem reproduksi kekuasaan. Suporter mempunyai kekuatan loyalitas yang tinggi terhadap kesebelasan yang dibelanya. Mereka terikat pada ideologi semu yang direalisasikan dalam bentuk sistem tanda yang berbentuk simbol-simbol, baik gambar maupun warna. Ikatan penanda ini pasa suatu saat mampu berguna selayaknya sumpah prajurit dalam medan laga. Orang menjadi tidak takut apapun, yang ada hanya kawan dan dukungan terhadap kesebelasan yang dibelanya.

Kelima, upaya penanganan dan revitalisasi peran suporter dalam pembangunan masyarakat dan budaya olahraga. Bukan lagi sepak bola seandainya tidak diwarnai teriakan yel-yel, sorak-sorai, dan koreografi dari penontonnya. Kebisingan dalam pentas persepakbolaan merupakan khazanah tersendiri. Dalam sepak bola kemeriahan penonton dan kepiawaian dari para pemain bersatu sekaligus dalam ruang dan waktu yang sama. Celakanya, paduan yang semestinya menjadi tontonan yang apik, seringkali menjadi tidak sejalan. Posisi suporter seringkali lebih mendominasi, ricuh, kasar, dan ribut.

Ya, merekalah para suporter, pemain kedua belas yang selalu bermain dengan hidup, sampai pada batas waktu yang tidak ditentukan, setelah lolongan peluit panjang.

 

Untuk pemesanan, silahkan hubungi 085643356050 (Arde Candra) atau klik tombol di bawah ini.

Additional information

Terbit

Februari 2013

Penerbit

EKSPRESI Buku

ISBN

978-979-99631-5-4