Ruang Kota

Rp25,000.00

Sekian puluh tahun yang lalu, sebagian masyarakat kita bermimpi untuk mengembangkan ruang dan lingkungannya seperti kota. Kota dan seluruh isinya menjadi ukuran budaya moderb. Buku kumpulan tulisan anak-anak muda ini mencoba mengkritisi kota sebagaimana mereka alami di berbagai tempat di Indonesia seperti di Yogyakarta dan Surabaya. Seluruh tulisan ini sangat berharga karena ditulisa anak muda yang tidak tunduk menerima kota begitu saja melainkan justru mau memaknainya secara kritis. Mereka tidak segan-segan membahas hal-hal sederhana seperti nama jalan, pedagang kaki lima, sungai, sampai hal seserius relokasi dan ruang publik.

St. Sunardi

Dosen Program Magister Ilmu Religi dan Budaya

Unisversitas Sanata Dharma

Kota kian lama memerankan tokoh antagonis dalam teater sosial. Membayangkan kota tak seindah dulu saat anda masih mendengarkan lagu naik delman. Kota, tiba-tiba sering membuat jenuh. Namun, tetap dapat menyodorkan penasaran. Ragam manusia telah mendandani rupa kota. Banyak warga dibuat tersesat dengan kotanya sendiri. Terlupa dengan identitas dan keperluannya.

Membaca ruang-ruang warga di kota, ibarat berkenalan dengan diri sendiri. Membuka jalinan kata lembar demi lembar buku ini merupakan ikhtiar lanjutan memaknai kembali tampang kota yang terbelah oleh sekat-sekat ruang. Ruang-ruang yang cenderung mengekang warga untuk menikmati kotanya secara bebas.

Mula-mula buku ini menyuguhkan konsep ruang dan lika-liku lanskap ruang kota di Indonesia. Sekadar bekal awal pembaca menjelajah bagian yang akan menjelang. Berupaya membukakan jalan supaya pembaca jangan sampai tersesat menyerap maksud-maksud tulisan selanjutnya. Meninggalkan lanskap dan konsep ruang kota, fenomena-fenomena ruang kota di Indonesia tidak boleh diceraikan dari pembentuknya di kala lewat, renik-renik seperti mal, sungai, kampung, makam, baliho sampai peta lota yang hanya terpancang di perempatan jalan atau depan pos polisi. Barangkali deretan bangunan dan area tadi bagi sebagian kalangan sebatas rupa itu. Namun, siapa kira mereka semua terbentuk—membentuk—warga kota.

Setelah berplesir dengan berbagai renik kota, penyikapan warga terhadap ruangnya sendiri dihadirkan ke ruang baca pembaca. Pembacaan yang lebih tepat adalah memakai pengamatan langsung dengan terjun ke lapangan. Menanyai mereka satu-satu. Menggali apa-apa yang dirasa dan diperbuat sesungguhnya. Catatan perjalanan ini sengaja diletakkan pada bab terakhir, sebagai pelengkap konsep dan wacana kota. Di sini akan terkuak bagaimana masyarakat sebagai pelaku menyikapi keberadaan kota dengan segala tetek-bengeknya dan menjadikan hal-hal tersebut menjadi bagian dari pola hidup mereka.

Sejilid buku yang disulam oleh sekawan muda ini menawarkan sketsa pambacaan ruang kota kekinian. Pemaknaan yang tidak beranjak dari asumsi tetapi melalui perasaan yang diakibatkan oleh pertautan setiap saat antar manusia dengan kotanya. Kehendak warga untuk turut serta berpartisipasi aktif, terwakilkan dengan peliputan lapangan.

Rasakan perlahan ajakan untuk singgah di ruang-ruang kota tatkala anda mengenggam buku ini. fenomena-fenomena kota bisa anda dapatkan tanpa perlu manjadi sok kota. Silakan menyusuri “RUANG KOTA”!

 

Untuk pemesanan, silahkan hubungi 085643356050 (Arde Candra) atau klik tombol di bawah ini.

Additional information

Judul

Ruang Kota

Penulis

Ardyan M. Erlangga, dkk.

Terbit

Februari 2011

Tebal

243 Halaman

Penerbit

EKSPRESI Buku

ISBN

978-979-99631-4-7