Home » Sastra » Cerpen » Perempuan yang Melamar Setan

Perempuan yang Melamar Setan

Jangan pernah datang wahai malam, aku tak sanggup melihat warnamu yang selalu menggambarkan kepiluan. Pergilah, bawaserta semua tangis yang tertumpahkan kepadamu. Juga cumbu rayu yang dihadiahkan angin laut kepadamu. Biarkan aku terus bersama siang, karena dengannya aku merasa aman.

Dengan langkah gontai seorang gadis muda menyusun langkah demi langkah untuk mencapai sebuah batu di ujung pantai. Batu yang menjadi titik pertemuan antara lautan dan daratan. Menurut petunjuk yang ia dapatkan, di tempat itulah ia bisa menemui setan. Sosok yang sudah ia nantikan perjumpaannya. Dipundaknya ia menaruh harapan akan kebahagiaan. Sesampainya disana, ia rapalkan mantra pemanggil setan yang telah diajarkan kepadanya. Dengan bekal keberanian, ia selesaikan bait mantranya. “Datanglah, temui aku yang haus akan cumbumu”.

Seketika muncul sosok pria bertubuh besar, kulitnya merah seperti darah yang baru saja keluar dari wadahnya. Kepalanya tercipta dari perpaduan antara manusia dan hewan. Ada tanduk yang tumbuh menjulur ke depan, posisinya siap diadu dengan kerbau bertanduk paling kuat. Hampir seluruh tubuhnya kecuali kepala di selimuti oleh jubah kebesarannya.

“Permisi, apakah anda setan?” tanya sang gadis memastikan.

“Ya, Aku setan. Sang penggoda manusia” jawab setan.

“Ada perlu apa denganku?” tanya setan.

“Aku ingin menikahimu” jawab sang gadis mantap.

“Apa? Kau ingin aku menikahimu? Sinting!” ucap setan dengan menunjukkan ekspresi kegetnya.

Sang setan pun menenangkan dirinya dari kaget yang disebabkan gadis nekat ini. Baru kali ini dia mendapatkan permintaan yang tak seperti biasanya. Biasanya ia hanya dimintai harta atau tahta, bukan malah dirinya sendiri! Setan mencoba berpikir jernih dan mengubah gaya bicaranya setenang mungkin. Ia kibaskan jubahnya yang besar untuk mengibarkan kesan kewibawaannya.

“Begini nona, umurku sudah ratusan tahun. Dalam ratusan tahun ini aku mempunyai tugas yang sama. Menggoda manusia. Kau tahu itu bukan?” lanjut setan dengan lebih pelan.

“Justru itu wahai setan, yang membuat aku semakin yakin bahwa bersamamu adalah jalan terbaik bagiku.”

“Bagaimana bisa begitu?” tanya setan keheranan.

“Sudah ratusan tahun kau melakukan tugas yang sama dan kau terus melakukannya. Sudah banyak ku temui lelaki, tetapi tak ada satupun yang sesetia kamu dalam satu hal” jawab sang Gadis.

“Lihatlah rupaku, aku buruk rupa. Bahkan ayam saja berkokok ketakutan melihatku.”

“Tak soal bagiku, aku sudah kapok digoda para lelaki yang parasnya rupawan. Mereka pikir karena mereka berparas menawan lantas bisa seenaknya selingkuh. Seenaknya mengobral mukanya yang fana untuk menimbulkan luka dihati kami, para gadis” ungkap sang gadis.

Mata sang gadis mulai berkaca, dia baru saja menceritakan pengalaman buruk yang baru saja dialaminya. Setan mulai tahu kehidupan sang Gadis. Setan menghela nafas. Mencoba cara lain untuk menghindar. Menerima pinangan sang gadis bukan suatu hal yang mudah baginya. Menerima sang gadis sama artinya menambah satu tanggung jawab baru baginya. Tanggung jawabnya untuk menggoda manusia sepanjang hayat saja sudah membebaninya, masa iya menambah satu beban lagi. Duh, sungguh berat kehidupan setan jika menerima sang gadis.

Setan mulai menata lagi pertanyaannya, setan tidak boleh sembarangan. Ini adalah perkara hidup mati setan.

“Bagaimana mungkin kamu yakin bahwa aku tidak akan selingkuh?”

“Aku sangat yakin bahwa kamu melihat manusia bukan cuma karena parasnya, kau bahkan bisa tahu lubuk hatinya. Itu bukan yang membuatmu banyak akal untuk menggoda kami?” jawab sang gadis sambil memutar rambutnya yang lurus panjang.

“Sekarang kau lihat hatiku, sangat baik bukan? Aku yakin bahkan kebaikan ini bisa menyilaukanmu ketimbang seribu wajah menawan yang disajikan di depanmu” lanjut sang Gadis.

“Kau tahu wahai gadis, menikah denganku sekarang sudah tidak menarik lagi?” kata setan mencoba menggugurkan niat sang gadis.

“Kenapa wahai setan?” tanya sang gadis.

“Aku sekarang hampir jadi pengangguran, aku sedang dalam bahaya.” kata setan dengan penuh kekhawatiran.

“Bagaimana bisa, kamu yang abadi berada dalam ancaman?” sergah sang gadis.

“Pekerjaanku untuk menggoda manusia sekarang berkurang drastis”

“Apakah karena manusia sekarang sudah bijak semua? Hingga membuatmu menyerah untuk menggoda mereka?” selidik sang gadis.

“Bukan nona manis, justru sebaliknya. Manusia zaman ini amatlah bobrok akhlaknya. Tanpa aku goda mereka sudah membuat dirinya dalam kehancuran.”

“Mereka minum arak, mereka perkosa anak dibawah umur bahkan hingga anak mereka sendiri jadi korban.”  terang setan.

“Tapi itu tidak semua setan” sanggah sang gadis.

“Iya, tapi coba kau lihat. Berapa banyak orang yang membiarkan itu semua terjadi?” jawab setan.

“Mendiamkan perbuatan jahat juga merupakan kejahatan” lanjut setan.

“Tunggu dulu setan, aku tak peduli kau masih bekerja atau tidak. Aku cuma butuh kamu.”

Sang gadis rupanya mampu membaca upaya sang setan untuk menghindari lamarannya. Ia sudah maju sejauh ini. Perempuan yang mengungkapkan perasaan terlebih dahulu, di masyarakat tempat ia berada dianggap sebagai sebuah kejanggalan, aib. Sekarang, Ia sudah melewati itu. Apa boleh, sudah kepalang basah.

“Dasar gadis keras kepala! Sejujurnya, aku ini belum pernah menikah. Tak mungkin aku membahagiakan kamu yang memimpikan kesempurnaan pernikahan.” ungkap setan.

“Apa? Kau serius?” tanya sang gadis kaget.

“Ya, kuhabiskan hidupku dengan menggoda manusia. Ketika aku hampir kehilangan pekerjaan dan kiamat terasa begitu dekat. Aku belum pernah memikirkannya. Sampai kau mendatangiku tadi.”

Setan melanjutkan “Aku sudah menjalani hidup ini dengan begitu panjang, sejak zaman moyangmu masih disurga. Ku hibur diri bahwa aku memiliki segalanya. Tak pernah terpikirkan bagiku untuk kawin. Apalagi dengan gadis berhati baik macam kau ini.”

“Aku awam perkara kawin hai nona.” Sang setan mencoba memberikan alasan penolakan.

“Kenapa kau tak kawin saja dengan manusia yang sudah pernah kawin. Cari saja duda muda. Tak sulit bagimu untuk mendapatkannya.” Sang setan mencoba memberi saran.

“Tak semudah itu hai setan, lelaki didunia yang ku diami ini, ingin segalanya dalam perkawinan itu berjalan menurut perintahnya saja. Menurut kemauan nafsunya saja. Menurut pikirannya saja!” ungkap sang gadis kesal

“Aku mencintaimu wahai setan! Terimalah pinanganku.” Desak sang gadis.

“Tahu apa kau tentang cinta wahai gadis muda!” setan terlihat marah.

“Memangnya kau tahu apa tentang cinta wahai setan? Bukannya bisamu cuma membenci dan menimbulkan perang?” Balas sang gadis, mencoba mengorek lebih dalam diri sang setan.

“Menimbulkan perang kau bilang? Jangan gila. Aku tak mengingkan perang.” Ungkap setan.

“Kau peduli pada manusia?” tanya sang gadis agak kaget.

“Ya, aku peduli. Jika manusia perang dan mereka saling melenyapkan. Bagaimana nanti aku hadir? Kehadiranku masih membutuhkan kehadiran manusia. Semakin sedikit manusia yang hidup, semakin sedikit pula manusia yang bisa ku goda.

“Lalu tentang cinta?” sang gadis bertanya.

“Ah, ini terlalu pahit untk diceritakan.”

Setan berjalan melewati gadis, dentak kakinya sangat perlahan. Satu meter dari gadis ia berhenti dan membuang nafas perlahan. Ada beban berat jika ia harus bercerita tentang cinta. Akan tetapi ia harus ceritakan, tak lain untuk membuat gadis ini mengerti, tak seenak udelnya sendiri bilang cinta. Tak semudah dia pacaran dan dia bilang cinta-cintaan. Memang dasar manusia.

Setan mulai berkata dengan pelan, perasaannya seakan tertekan.

“Aku sangat mencintai Tuhan.”

“Bagaiman bisa kau bisa mencintai Tuhan, sedangkan engkau terus berbuat kebalikan dari perintah-Nya?” potong sang gadis.

“Siapa Bilang? Aku menggoda manusia atas perintah-Nya. Pernah aku ingin mengajukan permintaan kepada Tuhan,  kumohonkan sebuah pertaubatan. Aku lelah dengan kehidupan ini. Biarlah kuabdikan hidupku yang tersisa untuk mencintai-Nya. Bahkan aku rela jika seandainya aku dijadikan malaikat terendah. Bahkan menjadi apapun, yang penting aku bisa mendapatkan cintaNya, setidaknya secuil dzarrah saja.

Tampak mata setan yang merah kini digenangi oleh air berwarna merah darah, seperti matanya.

“Lantas, kenapa engkau tak mengatakannya?” sang gadis mulai penasaran.

“Bagaimana aku mengatakannya jika hasilnya hanya akan merusak tatanan-Nya.”

“Memangnya kau yakin Dia akan menerimamu?” tanya sang gadis.

“Aku yakin, cinta-Nya yang amat teramat luas mampu pasti mampu mengampuni dosaku yang tak kalah jumawanya.”

Setan melanjutkan, “Namun apa yang akan terjadi bilamana Ia menerima aku? Aku membayangkan para agamawan akan bingung. Siapa yang akan mereka jadikan objek untuk menakuti pengikutnya jika bukan aku? Berapa banyak kitab suci yang harus diubah karena menempatkan aku sebagai tokoh utama dalam kejahatan, dan kini aku dipihak mereka? Biarlah, biarlah kunikmati cinta ini, sebuah cinta yang memaksa diriku untuk rela memakai pakaian dosa. Bersandiwara, seolah diriku adalah pembangkang-Nya.”

Kini gantian sang gadis yang menangis sejadinya. Ia tak pernah mengira akan menemukan seseorang pecinta yang begitu dalam hingga melakukan pengorbanan yang sungguh besar, cintanya sendiri. Ia merasa sangat bodoh dan tolol. Ia melakukan kesalahan besar, mencoba merayu sang setan untuk menikahinya. Seseorang yang tidak dicintainya.

Bagaimana mungkin ia dapat menggantikan posisi-Nya dalam hati si setan. Sungguh, ingin sekali ia mendapati seseorang yang mencintainya begitu besar. Akan tetapi rasanya, itu cinta yang hanya mahluk seperti setan yang mampu memikulnya.

Ia tatap sang setan, matanya masih mengeluarkan air mata. Ia dekati sang setan, dan dipeluknya dengan perlahan. Ia ingin memberikan ketenangan, serta tidak ingin mengganggu setan yang baru saja melepas bebannya.

“Terima kasih setan, telah engkau kenalkan padaku tentang arti mencintai tanpa syarat. Sebuah cinta yang dalam romanpun tak pernah kubaca. Dan juga kau menunjukkan padaku bahwa cinta bukanlah kata yang bisa diwakili oleh kata ‘cinta’.” Kata sang gadis sambil terisak.

“Aku mendatangimu karena kekecewaanku terhadap lelaki yang kujumpai di dunia ini. Awalnya aku mengira cinta hanya bisa dipersambahkan kepada sesama mahluk, tak pernah terpikirkan dalam benakku bahwa cinta bisa kita curahkan sepenuhnya kepada ia yang bukan mahluk. Ia yang telah menjagaku dengan tanpa kusadari keberadaa-Nya. Kau telah mengajariku semua ini. Aku sungguh berterima kasih, dan sebagai ungkapan terima kasihku padamu, aku akan pergi. Tak lagi kupinta yang macam-macam darimu. Biarlah kususuri sendiri jalan ini. Berharap akan kujumpai lelaki yang mau mencintaiku seperti itu, atau biarlah aku menjalani hidup ini sendiri. Biar kucurahan sepenuhnya perhatianku pada diri-Nya. Sebelum itu, Boleh kutanya satu hal wahai setan?

“Katakan wahai nona” Jawab sang setan.

“Dimana aku dapat menemukan-Nya?”

Setan berfikir sesaat. Tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti ini. Sesaat kemudian ia menjawab, “Ia dapat kau temui dalam diri orang-orang yang tertindas, dalam diri orang yang disakiti, dan dalam dirimu sendiri! ungkapkan cintamu pada-Nya lewat mereka. Berdayakan mereka yang tertindas dan bantu mereka yang tidak mampu. Kiranya disitu kau akan menemui-Nya.”

Setan pergi dan gadis itu kini sendiri.

Ubaidillah Fatawi