Home » Opini » Pemilwa dan Perburuan Massa

Pemilwa dan Perburuan Massa

ilustrasi oleh Andika/EKSPRESI.

Sesaat lagi kita akan merayakan pesta tahunan organisasi mahasiswa (ormawa): pemilihan ketua dan wakil ketua ormawa yang akan memimpin di tahun 2018. Kegiatan ini rutin dilaksanakan menjelang pergantian kalender tahun baru. Tentunya ini akan menjadi perhelatan dahsyat bagi mereka yang bertarung memperebutkan kursi kepemimpinan.

Ada banyak contoh yang kita saksikan betapa panasnya perebutan kursi kepemimpinan. Pada tahun 2014,terjadi persaingan menarik antara Prabowo dan Jokowi dalam merebut kursi presiden negara Indonesia. Media sangat ramai memberitakan tentang pemilihan presiden; setiap hari selalu menghiasi tv nasional. Tentunya, kita juga banyak membaca isu-isu kedua calon tersebut yang dibarengi dengan ujaran kebencian dari berbagai pendukung fanatik keduanya.

Tidak sampai di situ, tahun 2016 tv nasional dihebohkan dengan pemilihan gubernur DKI Jakarta; pertarungan antara Anis Baswedan, Ahok, dan Agus Yudhoyono yang didukung oleh partai-partai besar skala nasional. Kita saksikan pula ketiga calon ini saling serang tentang kebijakan yang akan dibuat serta saling adu argumen untuk memenangkan kontes pemilihan.

Apa yang menarik dari pemilu ini selain yang kita saksikan di berbagai media adalah saling serang antar calon. Di sisi lain, kita juga melihat tempelan poster, baliho, stiker dari masing-masing calon dengan tatapan ramah, tegas dan jargon-jorgon yang seakan berpihak kepada rakyat. Bukankah aktifitas-aktifitas ini dilakukan tiada lain untuk merebut massa agar memilihnya ketika waktunya tiba? Mungkinkah ini hanya spekulasi saya?

Dalam skala lokal pemilwa mahasiswa, aktifitas-aktifitas seperti di atas juga diikuti. Meskipun tidak sehebat skala nasional, tapi aktifitas-aktifitas adanya pendukung fanatik, tempelan poster, spanduk, ditambah jargon-jargon mendukung, dilakukan juga di ajang pemilwa. Bermacam label ditawarkan: ada yang mengaku nasionalis, agamis, demokratis, pluralis, liberalis, gerakanisme, dan lain-lain.

Saat-saat yang paling terlihat pertarungannya ketika massa kampaye tiba: para calon  memaparkan berbagai visi-misinya. Mereka saling beradu argumen dalam memutuskan suatu kebijakan, misalnya, perkara melakukan gerakan di kampus dan penurunan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Saat itulah para calon akan menunjukan dirinya layak untuk dipilih menjadi ketua maupun wakil ketua.

Menjadi seorang ketua dan wakil ketua dalam salah satu ormawa merupakan suatu kebanggaan. Namun, untuk memenangkan kontes pemilihan, mereka harus memiliki massa yang banyak untuk mendapat dukungan. Setidaknya para calon harus meraup suara 50 plus 1 saat penghitungan suara. Tentunya para calon harus memoles dirinya sedemikian rupa biar terlihat menarik, elegan, dan bersahabat. Singkatnya, menjadi populis di kalangan mahasiswa.

Pemilwa bagian dari seni kemungkinan. Itulah pemaknaan yang bisa ditarik di balik kemunculan baliho dan poster dari sejumlah orang yang sedang mendeklarasikan dirinya sebagai calon ketua dan wakil ketua ormawa. Ibarat adu peruntungan, para calon sedang mengirim nasib mereka ke mata publik.

Mereka akan berebut massa untuk menjadi basis pemilihnya pada saat pencoblosan. Massa akan menjadi perburuan liar bagi para calon dengan mengunakan berbagai metode tertentu. Dalam hal ini, Bourdieu melihat sebagai posisi individu yang tidak terdefinisikan oleh kelas, tetapi dengan sejumlah modal dengan berbagai jenisnya.

Bordieu berpendapat, dalam masyarakat modern terdapat dua sistem hierarki yang berbeda: pertama, sistem ekonomi yang ditentukan oleh uang dan harta; kedua, perolehan modal budaya sebagai jalan memperoleh kekuasaan simbolik dalam sebuah masyarakat. Modalitas sombolik ini sangat berguna sebagai sumber dominasi karena berhubungan dengan kepentingan status sosial.

Para calon yang memiliki kedua modal ini akan mampu memenangi kontes pertarungan. Dengan modal ini, para calon akan menjadi populer di kalangan mahasiswa untuk memenangkan kontes pertarungan. Sebab mereka cukup menyita perhatian massa untuk rela memilihnya.

Ada beberapa fragmentasi massa yang menjadi ajang perburuan para calon, khususnya dalam arena pertarungan pemilwa. Pertama, massa mengambang, yaitu massa yang buta politik. Massa mengambang jumlahnya cukup mendominasi mahasiswa di kampus. Mereka bersifat pasif dan apatis terhadap berbagai perpolitikan di kampus. Hal ini berkaitan dengan kebijakan “floating mass” Jenderal Ali Murtopo yang merupakan Menteri Penerangan pada masa Soeharto. Kebijakan “floating mass” adalah kebijakan di mana rakyat tidak perlu melibatkan dirinya dalam kancah perjuangan politik, tetapi menyibukan dirinya dalam usaha-usaha pembangunan.

Kedua, massa yang paham politik dan gerakan. Massa ini adalah massa yang berwawasan luas mengenai arena perjuangan politik dan gerakan. Akan tetapi, massa ini cukup terpinggirkan dalam ruang mahasiswa. Basis mereka sangat sedikit sehingga massa ini tidak terlalu populer untuk dijadikan perburuan massa para calon.

Bagi para calon, massa mengambang adalah massa yang laris untuk diperebutkan. Cukup memoles diri mereka sedemikian rupa, maka para calon akan mampu menyihir massa. Di sisi lain, dengan berburu massa mengambang, para calon tidak harus menguasai arena perpolitikan. Dengan menjadi sosok yang populer di kalangan mahasiswa, mereka akan memenangi kontes pertarungan pemilwa.

Akhirnya, pemilwa seperti melakukan kontes perburuan di hutan. Perserta yang memiliki kemampuan berburu, berkompetensi dalam hal memanah dan menggunakan senjata, maka dia yang akan mendapat buruan terbanyak. Dengan demikian, perserta tersebut akan memenangkan perburuan. Dalam pemilwa, calon yang memiliki modal dan kemampuan menjadi populer, dialah yang akan memenangkan pemilwa.

Fahrudin

Editor: Ahmad Yasin

Check Also

Wakil Dekan III FIS Sebut Spanduk Solidaritas Tidak Berizin & Provokatif

Muhammad Nur Rokhman, Wakil Dekan (WD) III Fakultas Ilmu Sosial (FIS) pada Senin sore (11/12), …