Home » Sastra » Cerpen » Dua Perempuan

Dua Perempuan

pinterest.com

Bukan hanya sekali perempuan tua itu membujuk Rima untuk segera melangsungkan pernikahan. Ia sudah berkali-kali memperkenalkan anak gadisnya ke teman-teman sepuhnya yang memiliki putra yang sudah dewasa. Dan beberapa kali pula Rima tak menganggap penting hal itu. Berkali-kali, ia seolah merasa bahwa Rima menyetujui perkenalan itu hanya sekedar untuk menyenangkan perasaannya saja, agar ia tak sakit hati.

Sebenarnya ia bukan sosok ibu pemaksa. Tentu, orang tua manakah yang tak ingin anaknya bahagia, maka baginya tolak ukur kebahagiaan bagi seorang wanita itu tak usah lah muluk-muluk, tak perlu juga mapan dalam pekerjaan, bukan juga diukur dari tingginya karir yang ia miliki, cukuplah menjadi isteri yang baik bagi suaminya, menjadi ibu yang santun kepada anak-anaknya, syukur-syukur beroleh suami yang mapan dan kaya, tapi yang terakhir itu bukanlah tujuan utama.

Bagaimana kriteria yang diminta Rima lah yang membuatnya bingung. Biasanya anak gadis zaman sekarang lebih agresif dari zaman mudanya dulu, namun Rima tidak. Empat atau lima tahun lalu, ketika gadis-gadis lain memperkenalkan pacar-pacar mereka ke orang tua yang ada di rumah, Rima tak pernah sekalipun membawa teman laki-laki ke rumah mereka. Saat ditanya pun jawabannya selalu sama, “masih ingin fokus kuliah,” dan setelah ia lulus kuliah, ia selalu punya alasan untuk menghindari pembicaraan dari topik lelaki. Memang ada adik perempuannya yang belum menikah seperti Rima, namun hal itu tidak membebani nuraninya, karena usia mereka terpaut delapan tahun. Dan apabila diukur dari anggapan ketika ia muda dulu tentulah Rima yang sekarang sudah dikategorikan perawan tua.

***

Rima bukannya tidak mau menuruti keinginan ibunya, bahkan ia juga ingin menjalani hubungan serius dengan lelaki, tapi selalu saja, setiap kali ia jatuh hati dengan seseorang pasti orang tersebut tak bisa memiliki atau dimilikinya. Dalam banyak keadaan, walaupun ia belum mengungkapkan perasaannya, ia tahu bahwa cintanya akan bertepuk sebelah tangan. Setiap kali ia menunjukkan ketertarikannya, ia sadar bahwa hanya ia seorang yang memberikan sinyal dan isyarat-isyarat kecil bahwa ia siap didekati, tapi selalu saja sinyal dan isyarat itu gagal ditangkap oleh lawan jenisnya.

Rima sangat sadar bahwa wajahnya tidak bisa dikategorikan cantik, hidungnya terkesan pesek, sepasang matanya juga tidak bisa digambarkan seperti bintang kejora layaknya puisi yang ditulis penyair-penyair sastra itu. Bila ukuran kecantikan seorang gadis adalah dari putihnya kulit yang dimiliki maka kulit Rima berwarna coklat, malahan cenderung hitam.

Mungkin karena kondisi fisik yang ia miliki, Rima menjadi tidak percaya diri dengan pribadinya. Wajar apabila ia merasa bahwa tak ada lelaki yang serius mendekati dan ingin menjalin hubungan dengannya. Pernah ia mencurahkan gundah gulananya ke salah seorang sahabat yang ia miliki. Dengan raut kasihan, sahabatnya memberikan solusi yang sempat beberapa lama Rima turuti. Tetapi bukannya banyak lelaki yang mendekatinya malahan mereka makin minder dan takut tersaingi.

“Cewek itu tidak harus cantik seperti artis, cukuplah pintar dan percaya diri,” nasihat sahabatnya bijak “tapi jangan lupa, kita ini perempuan, haruslah pandai-pandai juga merawat badan.”

Rima yang berkali-kali gagal membina hubungan hanya mengangguk-angguk seperti kerbau yang dicocok lubang hidungnya. Ia tahu sahabatnya ini telah malang-melintang dalam dunia persilatan cinta. Tak ada alasan untuk membantah nasihat-nasihat yang ia sampaikan.

Pada bulan-bulan berikutnya, Rima sedikit demi sedikit tampak berubah. Ia kini belajar banyak hal baru, mulai dari gadis yang sendu menjadi periang. Ia belajar menyembunyikan kesedihan-kesedihannya, membungkus kekurangan fisiknya dengan otaknya yang cemerlang. Ia memang berhasil, dosen-dosen tahu bahwa ia gadis yang bisa diandalkan, selain berprestasi ia juga aktif di satu organisasi yang cukup penting di kampusnya. Tapi cinta memang hal yang rumit. Tak ada rumus pasti dalam perkara hubungan antarmanusia yang satu ini. Rima memang menjadi semakin terkenal tapi lelaki mana yang mau merasa tersaingi dengan kepintaran seorang wanita. Tentunya ada lelaki yang lebih pintar dari dia, tapi sudah tentu pula para lelaki itu cukup pintar untuk tidak memilih perempuan dengan fisik sejelek dia.

***

Setelah lelah membujuk Rima untuk menikah akhirnya perempuan tua itu menyerah. Berbagai cara telah ia lakukan agar anak perempuannya sadar bahwa tak sepatutnya gadis seusia dia masih berstatus perawan. Ia pernah menyindir secara halus hingga terang-terangan tapi semua itu tak pernah digubrisnya. Setelah sindirian tak juga mempan, ia pun berusaha berbicara baik-baik, bertanya dengan halus tentang apa yang sebenarnya Rima inginkan namun gadis itu tetap diam membisu tak menjawab pertanyaan yang ia lontarkan.

Ia kadang-kadang tergugu sendiri melihat tetangga-tetangga rumah yang sudah memiliki cucu. Sejak meninggalnya sang suami, rasa kesepian yang menggelayuti kalbunya terasa seperti sembilu. Dahulu, ketika Rima dan adiknya masih kecil, ia tak merasa sesepi ini. Ia masih bisa bercanda dengan mereka, atau memarahi anak-anak itu kalau-kalau berbuat sesuatu yang menjengkelkan hatinya, tapi sejak Rima telah bekerja dan adiknya sibuk di sekolah, ia kerap sendiri ditinggal di rumah. Pada saat-saat seperti itulah, ia merindukan hadirnya cucu yang bisa mengobati rasa sepi yang mendera di hari-hari tuanya.

Kadang ia berpikir bahwa perempuan setua ia tak lagi bisa mengikuti pergaulan anak-anak muda sekarang. Pola pikir yang ia miliki rasanya selalu berseberangan dengan lajunya jalan zaman. Ia terheran-heran menemukan ada gadis yang berkomitmen untuk tidak menikah seumur hidup, atau dua orang berlainan jenis yang hidup serumah tanpa diikat simpul perkawinan. Bahkan ada yang saling suka dengan orang yang berjenis kelamin sama dan dengan bangga mengakuinya. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala ketika semua hal yang tampaknya tabu terlihat wajar dan tak dianggap masalah bagi banyak orang. Duniakah yang edan atau ia yang sudah ketinggalan zaman?

***

Semakin berlalunya waktu, Rima kasihan juga dengan ibunya. Apalah dayanya ingin membahagiakan sang ibu kalau perempuan tua itu meminta hal yang tak kuasa ia turuti. Memang, berkali-kali ia diperkenalkan dengan para lelaki dari keluarga teman-teman sepuh ibunya. Bukan juga ia ingin selalu menolak perjodohan yang  ibunya rencanakan. Ia hanya tak bisa menyetujui pernikahan dengan lelaki dari keluarga yang erat memegang adat mereka.

Tentu saja ia tak bisa berterus terang lalu mengatakan kepada ibunya bahwa ia dulu pernah berpacaran tapi gagal dan ia ditinggalkan. Hal tersebutlah yang membuatnya sedih dan trauma. Apalagi ia tak ingin membuat ibunya bersedih hati kalau ia menyampaikan kebenaran..

Bahwa ia bukan lagi gadis perawan.

Yogyakarta, Januari – Maret 2017

Abdul Hadi

Check Also

Wanita dan Kafe Seberang Taman Kota

Petang ini langit mendung. Padahal baru kemarin selesai musim kemarau. Berita dari televisi mengatakan bahwa …