Home » Resensi » Buku » Empat Piring di Hari Minggu Keluarga Laut

Empat Piring di Hari Minggu Keluarga Laut

Laut Bercerita. Foto oleh Khansa/EKSPRESI.

Judul : Laut Bercerita

Penulis : Leila S. Chudori

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Cetak : Cetakan I, Oktober 2017

Tebal : 379 halaman, 13,5×20 cm

ISBN : 9786024246945

Minggu menjadi sebuah ritual bagi keluarga Laut. Kepulan asap beraroma rempah-rempah dari dapur menguar. Meja makan yang ditata untuk empat orang. Tak lupa pula lagu klasik, seperti lagu-lagu The Beatles melantun sebagai penutup ritual. Minggu adalah waktu yang tidak dapat diganggu gugat. Bahkan oleh rezim diktaktor yang saat itu melanggengkan kekuasaannya selama berdekade-dekade lamanya.

Ritual tersebut bermula dari Biru Laut dan Asmara Jati yang disibukkan oleh kegiatan masing-masing. “Karena kami tumbuh menjadi remaja yang sibuknya melebihi kaum eksekutif, Bapak membuat peraturan bahwa hari Minggu tak boleh diganggu gugat. Kami harus menyediakan waktu untuk keluarga: memasak dan makan malam bersama.” (hal. 67).

Kebiasaan tersebut mulai berubah saat Laut memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Yogyakarta. Hari-hari keluarga hanya berlangsung sebulan sekali. Kebersamaan mereka masih diringkas karena Laut sibuk dalam kegiatan organisasi yang dirahasiakannya. Ia menjadi jarang pulang ke rumah. Pergolakan batin dialaminya: Laut menjadi harus berhati-hati saat berbicara. Tentunya, berbohong kepada orang tua tentang kegiatan yang disembunyikannya agar “aman”. Asmara menjadi satu-satunya anggota keluarga yang mengetahui kegiatan kakaknya.  Ia menekan Laut untuk berterus terang saja kepada Bapak dan Ibunya.

Setelah adanya perintah tembak ditempat, Biru Laut menjadi buronan. Ia hanya bisa mengabarkan keluarganya lewat surat dengan nama samaran. Tak sempat pulang. Laut tidak dapat kembali setelah telepon terakhir bersama ayahnya. Saat-saat penahanan, memoar akan kerinduan berkumpul bersama keluarga muncul di detik-detik terakhir kehidupan Laut. Kehilangan akan memoar berkumpul bersama orang-orang terkasih disisipkan dalam prolog.

Minggu tetap menjadi ritus yang tidak dapat diganggu gugat. Bahkan oleh pemimpin diktaktor yang berkuasa berdekade-dekade lamanya. Leila S. Chudori menceritakan trauma orang tua yang kehilangan anaknya. Adegan Ibu yang memasak makanan kesukaan Laut saat sore hari. Begitu pula adegan Bapak yang tertatih-tatih menyediakan empat piring. Lalu mereka menanti Biru Laut yang tak kunjung datang untuk makan malam, menjadi ironi: “ … kami duduk dihadapan piring masing-masing. Menanti. Ibu. Bapak. Aku. Dan satu kursi serta satu piring yang kosong. Satu piring yang menanti pemiliknya.” (hal. 233).

Ritual itu terus berulang, penerimaan akan perginya Biru Laut tak kunjung hadir dalam keluarganya. Asmara yang sadar akan ketidaksehatan kondisi orang tua mencoba untuk menyadarkan mereka bahwa abangnya itu tak akan kembali. Sayangnya ia gagal, orang tuanya tetap beputar dalam kebiasaan lama. Trauma yang dialami oleh keluarga korban yang lain, Ibu Sunu, yang bangun dari tidur dan mendapati cantringan kupu-kupu yang hanya bisa dibuat oleh Sunu.

Tidak terjadinya rekonsiliasi antara orang tua dan Asmara sungguh menguras energi. Kondisi psikologis keluarga yang sakit setelah Laut hilang sangatlah terasa. Deskripsi yang kental tentang betapa menguras energinya kondisi trauma ada pada surat imajiner Asmara untuk Laut: “ Bapak bukan lagi sosok yang sama yang engkau kenal. Gerak dan lakunya sepenuhnya didorong oleh pencarian dirimu, pencarian jejak anak sulungnya yang sudah jelas diambil secara paksa, ditahan, disiksa keji, dan kini tidak diketahui nasibnya. Bersama ibu, karena keduanya memang pasangan yang kompak, mereka menciptakan sebuah jagat dimana engkau masih ada didalamnya. Masih hidup, segar, dan setiap hari Minggu datang dan masak bersama mendengarkan lagu-lagu The Beatles atau Louis Amstrong.” (hal. 348).

Keluarga yang dinarasikan sebagai keluarga sederhana bahagia direnggut oleh negara saat Laut menghilang. Mereka masih percaya bahwa Laut masih hidup dan akan kembali. Padahal ia telah mati dibunuh; ditendang merasuk ke laut. Minggu yang menyedihkan milik mereka terus berulang.

Berbeda dengan kesan hari Minggu yang terstigma di benak kita sehari-hari sebagai hari libur yang menyenangkan. Minggu merupakan hari santai, sebelum akhirnya kita menemukan kepanikan kita sendiri untuk memulai hari Senin. Sedangkan ada paradoks perihal hari libur: hari di mana orang masih ada yang bekerja seperti pedagang asongan.

Hari libur yang dikonkretkan dalam Tempo 14 Juli 1979, di berita berjudul Libur Telah Selesai. Apa yang Terjadi? melegitimasi adanya “pembinaan mental-fisik dan pembinaan rekreasi.” Implementasinya tidak sesuai dengan apa yang dijalankan. Buktinya masih banyak peserta didik yang menggunakan hari libur untuk membantu mencari nafkah bersama orang tua, atau meringankan beban keluarga.

Begitu pula bagi keluarga yang kehilangan anak mereka karena tragedi saat Orde Baru. Hari libur – hari minggu, libur lebaran, libur natal, libur tahun baru, dan lainnya – dirundung kesedihan. Bisakah kita membayangkan? Hari libur yang seharusnya menyenangkan menjadi kesedihan mendalam seperti yang diungkapkan Makam Keempat dari Linda Christanty.

Ritual hari Minggu tak lagi ada. Penerimaan keluarga atas kematian Laut diceritakan melalui Ibu dan Anjani yang menghadiri Kamisan. Mereka menerima Kamisan sebagai hari berkabung, hari menolak lupa atas tindakan kejahatan kemanusiaan terhadap aktivis yang hilang hingga saat ini. Meski novel ini seperti menceritakan ulang Anak-Anak Revolusi namun sajian simpati dan empati yang dituturkan melalui Asmara Jati membekas. Bekas kesedihan itu masih menetap di hari Minggu: menanti Laut tak kunjung kembali, namun bercerita dari dasar laut.

Khansa Nabilah

Editor: Danang S

Check Also

Menyikapi Kebenaran yang Beragam dan Bertebaran

Identitas Buku Judul : Bilangan Fu Penulis : Ayu Utami Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer …