Home » Opini » Menekan Angka Kelahiran Manusia Bukan Solusi untuk Mengurangi Kerusakan Alam

Menekan Angka Kelahiran Manusia Bukan Solusi untuk Mengurangi Kerusakan Alam

https://healthitanalytics.com

Rabu, 21 Juni 2017, Departemen Populasi Divisi Urusan Sosial dan Ekonomi PBB menyusun sebuah laporan yang memperkirakan bahwa populasi manusia di dunia saat ini mencapai hampir 7,6 miliar. Jumlah ini akan meningkat menjadi 8,6 miliar pada 2030; 9,8 miliar pada 2050; dan 11,2 miliar pada 2100.

Meledaknya jumlah penduduk dipandang sebagai ancaman terbesar kerusakan lingkungan di dunia. Kemiskinan, kelaparan, dan berkurangnya ruang hidup juga dianggap akibat dari ledakan penduduk. Hal inilah yang menyebabkan beberapa negara (khususnya negara-negara dengan jumlah penduduk tinggi) mengeluarkan kebijakan untuk menekan angka kelahiran.

Berdasarkan data dari CIA World Factbook Tahun 2016, Indonesia yang menempati posisi 4 besar dunia dalam jumlah penduduknya telah melakukan terobosan untuk menekan angka kelahiran. Dikutip dari CNN Indonesia, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Surya Candra Surapaty mengatakan BKKBN sudah membuat kampung KB (Keluarga Berencana) di daerah-daerah terpencil.

Cina, yang menempati posisi pertama dalam jumlah penduduk di dunia, juga mempunyai kebijakan untuk menekan angka kelahirannya. Salah satu kebijakan yang paling populer adalah One-Child Policy, yaitu kebijakan satu anak dalam satu keluarga. Kebijakan ini sangat kontroversial di mata para ahli kependudukan karena saat ini hanya pemerintah Cina yang mengatur secara detail mengenai masalah perkawinan, pernikahan, waktu kehamilan, dan jarak kelahiran setiap bayi.

Akan tetapi, apakah dengan menekan angka kelahiran di dunia, kerusakan lingkungan, kemiskinan, kelaparan, serta berkurangnya ruang hidup dapat teratasi? Meledaknya jumlah penduduk memang suatu persoalan yang penting. Namun, hal tersebut bukanlah faktor utama masalah-masalah di atas. Justru kemajuan zaman dan pembangunan gedung-gedung yang tidak terkendali dapat memperparah rusaknya lingkungan.

Menurut data Badan Pusat Statistik, tahun 2013-2015 hampir seratus ribu hektare lahan pertanian di Indonesia lenyap dengan begitu saja. Hal tersebut menyebabkan berkurangnya pasokan pangan di Indonesia sehingga berdampak pada kelangkaan dan naiknya harga pangan.

Berkurangnya lahan pertanian juga berdampak pada semakin tingginya angka kelaparan di Indonesia. Penelitian terakhir Organisasi Pangan Dunia (FAO) menyatakan, diperkirakan sebanyak 19,4 juta penduduk Indonesia masih mengalami kelaparan. Tentu ini menjadi ironi mengingat Indonesia dikatakan sebagai negeri agraris tapi masih ada jutaan masyarakatnya yang kelaparan.

Berdasarkan data dari Global Forest Resources Assessment (FRA) yang dirilis FAO pada 2015, Indonesia menempati peringkat kedua tertinggi setelah Brasil dalam tingkat kehilangan hutan. Dikutip dari kompas.com, data dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menjelaskan bahwa dari tahun 2010-2015 Indonesia sudah kehilangan hutan seluas 684.000 hektare tiap tahunnya.

Padahal Indonesia sering dikatakan sebagai  paru-paru dunia dan salah satu negara dengan hutan terluas di Asia. Yang seharusnya dapat menjaga keseimbangan alam di tengah-tengah tingginya tingkat pembangunan yang berdampak rusaknya lingkungan, Indonesia justru menjadi negara yang banyak menghilangkan lahan terbuka hijaunya.

Data lain mencatat jika miliaran pohon di dunia setiap tahunnya hilang. Dikutip dari mongabay.co.id, berdasarkan hasil penelitian tentang jumlah hutan dunia yang dilakukan oleh Netherlands Institute of Ecology, setiap tahun ada 15,3 miliar pohon menghilang dari 3 triliun pohon yang ada di seluruh dunia.

Menurut ilmugeografi.com, berkurangnya jumlah pohon dipicu karena banyaknya pembangunan-pembangunan di bidang industri, khususnya industri kayu.  Hal ini dapat menyebabkan berubahnya iklim yang lebih buruk, berkurangnya banyak spesies hewan, dan gangguan pada siklus air.

Beberapa fakta di atas membuktikan bahwa meledaknya jumlah manusia di dunia tidak begitu berpengaruh terhadap rusaknya lingkungan. Menekan angka kelahiran di beberapa negara dengan populasi manusia yang tinggi bukanlah solusi utamanya. Bagaimana bisa kerusakan lingkungan dapat ditekan dengan mengurangi angka kelahiran jika masih banyak pembangunan yang tidak terkendali dan merampas banyak ruang hidup?

Mengubah perspektif masyarakat dunia tentang hakikat kemajuan dan modernisme justru dapat menekan rusaknya lingkungan. Mengubah persepektif yang dimaksud adalah, bahwa segala sesuatu yang dapat dikatakan dengan kemajuan, perkembangan zaman, dan modern itu tidak melulu dengan banyak melakukan pembangunan. Namun, lebih pada cara manusia bertahan hidup di tengah peningkatan jumlah penduduk dunia, yaitu dengan selalu menjaga lingkungannya dan mengurangi pembangunan infrastruktur yang banyak menelan ruang hidup masyarakat.

Tidak dapat dimungkiri bahwa saat ini pada umumnya manusia memandang kemajuan hanya dari segi fisik, seperti kemajuan teknologi dan pembangunan infrastruktur yang setiap tahunnya selalu meningkat. Pertanyaannya, bagaimana jika teknologi dan pembanguan-pembangunan tersebut berdampak pada semakin rusaknya lingkungan? Apakah hal tersebut masih dapat dikatakan sebagai kemajuan? Apakah masyarakat hari ini lebih memikirkan tentang kemajuan tersebut dibandingkan dengan jumlah pangan dan ruang hidup yang setiap tahun semakin berkurang?

Pembangunan infrastruktur dan perkembangan teknologi dianggap sebagai upaya untuk meningkatkan daya tahan manusia. Alih-alih meningkatkan daya tahan manusia, justru peradaban manusia semakin terancam dengan adanya kemajuan dan perkembangan teknologi. Kasus kerusakan lingkungan banyak disebabkan oleh pembangunan-pembangun infrastruktur dengan dalih meningkatkan kemajuan teknologi dan mempermudah aksesibilitas manusia.

Jika kita kembali pada masa lalu, di saat teknologi manusia masih sangat sederhana, di mana manusia masih mengandalkan berburu dan meramu untuk bertahan hidup, kondisi alam pada waktu itu masih sangat lestari dan asri, jauh dari asap pabrik dan kendaraan bermotor. Semua yang dibutuhkan manusia dapat terpenuhi, jauh dari kata kelaparan dan kemiskinan.

Mereka tidak butuh yang namanya teknologi seperti ponsel, surel, atau pun kendaraan yang dianggap dapat mempermudah aksesibilitas manusia. Dari segi fisik, tubuh mereka sangat kuat, kulit-kulit mereka sangat tebal, dan pastinya masih sangat sedikit jenis penyakit yang mereka derita pada waktu itu.

Dari hal tersebut, sebenarnya siapa yang bisa dikatakan lebih maju dan modern? Manusia pada masa meramu dan berburu atau manusia yang saat ini hidup penuh dengan kemudahan dan kemanjaan? Mereka tanpa teknologi bisa hidup lebih lama dan kuat secara fisik. Namun, kita saat ini mungkin tidak akan bisa bertahan hidup tanpa bantuan teknologi.

Manusia saat ini akan kelaparan dan mati jika seluruh bahan pangan di dunia habis karena kita tidak pernah diajarkan membuat makanan kita sendiri (menanam). Kita pasti tidak akan mau jika harus berpergian jauh tanpa menggunakan sepeda motor atau kendaraan modern lainnya. Dan pasti manusia saat ini dari segi kekebalan tubuh jauh di bawah manusia pada zaman dulu.

Jelas bahwa permasalahan sebenarnya bukanlah pada meningkatnya jumlah penduduk dunia. Namun, ada pada pikiran manusia itu sendiri dalam menyikapi suatu kemajuan zaman. Manusia jadi terlena dengan kemajuan teknologi yang sebenarnya dapat membuat mereka semakin lemah. Dan tentu merenggut sumber daya yang ada di dunia untuk ketahanan manusia itu sendiri.

Oleh karena itu, kita sebagai manusia harus lagi berpikir, mempelajari, dan memahami apa itu sebenarnya yang dimaksud kemajuan atau modern. Kita juga harus lebih memperhatikan segala sesuatu yang kita perbuat dan dampaknya terhadap lingkungan di dunia. Sehingga segala sesuatu yang kita lakukan tidak membahayakan ekosistem di dunia.

Tentunya hal tersebut juga harus didukung oleh negara. Bagaimana mungkin bisa mengurangi rusaknya lingkungan jika negara tetap melakukan pembangunan-pembangunan yang selalu merusak lingkungan? Terlebih, jika negara terus memfasilitasi para pengusaha-pengusaha besar untuk merusak hutan demi mengambil keuntungannya sendiri. Jika hal ini terus terjadi, semuanya akan sia-sia. Di saat negara terus mengeluarkan kebijakan dalam menekan angka kelahiran manusia, negara justru jadi pelaku utama dalam merusak lingkungan.

Reza Egis

Editor: Ahmad Yasin