Home » Resensi » Buku » Menyikapi Kebenaran yang Beragam dan Bertebaran

Menyikapi Kebenaran yang Beragam dan Bertebaran

Identitas Buku

Judul : Bilangan Fu

Penulis : Ayu Utami

Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Jumlah Halaman : x + 537 hlm

Tahun Terbit : 2008

Kota Terbit : Jakarta

Sembilan bulan lamanya Ayu Utami mengandung buah pikirnya dengan diberi asupan nutrisi riset, penelitian, observasi sana-sini juga bubuhan liar imajinya hingga berhasil melahirkan Bilangan Fu. Isi novel ini cukup sulit ditebak hanya dengan membaca judulnya. Ada sedikit tips untuk membaca dan memahami segala apa yang disampaikan penulis dalam 537 halaman ini, yaitu rendah hati dan mengesampingkan segala sentimen diri sendiri. Dalam barisan kata yang disusun Ayu terdapat banyak sudut pandang segar mengenai berbagai hal. Saking segarnya barangkali menjadi terasa terlalu dingin bagi sebagian pembaca. Maka untuk menjaga temperatur supaya tetap hangat, saya ulangi, bahwa bekal penting dalam membaca buku ini adalah rendah hati dan mengesampingkan segala sentimen diri.

Berangkat dari analisisnya menyoal konflik dan kekerasan-kekerasan yang terjadi di Indonesia, Ayu memilih menulis Bilangan Fu dengan latar belakang masa pascareformasi. Konflik dan kekerasan-kekerasan pada masa prareformasi banyak disebabkan karena ketidakpuasan masyarakat terhadap militer dan pemerintah, beserta kebijakannya. Sedangkan pada masa pascareformasi, yang banyak terjadi adalah konflik atas nama agama,—atas nama Tuhan. Mulai dari konflik Ambon antara umat Islam dan Kristen pada 1999, konflik Poso pada 1998-2001, peristiwa pengusiran penganut Ahmadiyah di Lombok pada 2006, dan banyak lagi. Berbekal optimisme akan ajaran suatu agama, manusia merasa paling benar lalu memaksakan kebenaran versinya. Maka tegaklah kebenaran dalam berbagai versi. Lahirlah perintah dan larangan dari sumber yang maha subjektif dan tak mutlak itu. Berkembangbiaklah konflik dan kekacauan atas pertentangan kebenaran tersebut.

Pun setelah 10 tahun novel ini terbit, isinya masih relevan dengan kondisi Indonesia. Nyatanya, agama masih menjadi isu yang sensitif di negeri ini. Dari sini pula dapat terlihat bahwa masyarakat Indonesia belum cukup dewasa dalam menghadapi diversitas yang ada. Intoleransi beranak pinak sedemikian hebat sampai 2018 ini. Masih terdengar riuh rendah berita pengusiran maupun kekerasan oleh umat beragama yang satu kepada umat beragama yang lain. Kalau boleh saya katakan intoleransi adalah suatu penyakit, maka Bilangan Fu saya kira mampu menjadi salah satu obat alternatif baginya.

Keberadaan agama yang semestinya menjadi sumber kebaikan dan kedamaian dalam kenyataannya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, terutama agama samawi—(agama langit). Obsesi pada langit telah membuat manusia abai dan merendahkan segala apa yang terdapat di bumi. Adalah semu, buruk, gelap, dan fana segala apa yang terdapat di bumi. Fokus terhadap hubungan vertikal membuat hubungan yang horizontal kehilangan perhatian. Lebih dalam lagi, ketidakacuhan manusia pada bumi diperjelas melalui tabiatnya yang gemar merusak alam raya. Sila lihat kanan-kiri sejenak,; bukankah pohon telah semakin sedikit? Bukanah udara sudah semakin panas? Bukankah air sungai menjadi semakin keruh? Dan bukankah pertanyaan-pertanyaan tadi dengan sendirinya telah memiliki jawaban pasti? Manusia, selaku penghuni temporer, kehilangan sikap tahu dirinya kepada bumi. Sadar atau tidak, manusia tumbuh perlahan menjadi makhluk beringas.

Maka, di dalamnya, dengan alur cerita maju-mundur dan bahasa yang mengandung banyak perumpamaan, Bilangan Fu mengkaji tiga hal secara mendalam yakni modernisme, monoteisme, dan militerisme (3M). Di mana ketiganya merupakan musuh dunia kontemporer yang dinilai sebagai bibit dari kekacauan-kekacauan seperti di atas. Sekilas, tiga hal ini tidak terlihat begitu mengerikan. Maka, melalui petualangan tiga mahasiswa (beserta cinta segitiganya) yakni Sandi Yuda, Parang Jati dan Marja di wilayah pantai selatan Jawa, tepatnya di perbukitan kapur Sewugunung, diuraikanlah oleh Ayu bagaimana keterkaitan antara modernisme, monoteisme dan militerisme selaku pangkal dari kehancuran manusia dan kemanusiaan.

Tiga hal yang juga menjadi judul bab besar dalam novel ini dinilai Ayu sebagai hal-hal yang berpotensi memegang kekuasaan terlalu tinggi. Sehingga mampu menyingkirkan pihak-pihak yang tidak sejalan,—sehingga mampu memonopoli keadaan. Ayu membeberkan sisi lain dari 3M yang membuat egoisme mampu tumbuh begitu subur sampai-sampai altruisme layu dibuatnya. Ia juga memasukkan isu-isu sosial-keagamaan bahkan isu lingkungan dan politik di dalamnya.

Dalam kondisi sedemikian rupa, Ayu menawarkan spiritualisme- kritis beserta laku- kritik untuk memahami sekaligus menyikapi 3M tadi. Hal ini bertolak dari kenyataan yang terpapar pada halaman 407:

“Bahwa setiap agama menawarkan kebenarannya masing-masing. Tapi agama-agama itu terjebak pada kebenarannya sehingga sikap kritis atas kebenaran tadi sering dianggap sebagai sikap tidak beriman.”

Keduanya tadi adalah cara untuk menjadi manusia yang tidak menelan mentah-mentah sesuatu hal, baik nilai maupun ajaran. Adalah cara untuk berhati-hati terhadap apa saja yang terdapat di hadapan kita. Adalah cara untuk menjadi manusia yang tidak mengkhianati rasio dan nalar kritis diri sendiri. Ayu mengajak pembaca untuk berani melakukan verifikasi terkait apa-apa yang ada dan melekat di sekiar kita—terutama yang dianggap biasa. Bilangan Fu membantu menyadarkan pembaca untuk menjadi manusia berpengetahuan tanpa perlu dikuasai pengetahuan terebut. Manusia bisa mempelajari dan mengetahui tanpa harus tunduk terhadap pengetahuan. Ayu ingin menggali bagaimana nalar kritis mampu terbuka pada sesuatu yang di luar batasnya. Kritis bukan berarti anti. Keduanya adalah hal yang berbeda. Sikap kritis adalah perwujudan dari rasa peduli. Sedangkan anti tidak mengandung rasa peduli sama sekali.

Meski begitu, melalui sikap Jati, rasanya Ayu pula menyampaikan pula pada pembaca bahwa tidak ada tuntutan untuk memercayai apa yang ada pada teks itu—pembaca boleh membaca hanya untuk mengetahui, bukan memercayai. Pun untuk lanjut membaca atau berhenti; untuk melahapnya habis atau tutup buku lalu tonton televisi. Namun, justru di bagian tersebut saya terpacu untuk menamatkan Bilangan Fu. Barangkali buku ini terlalu bersifat menggurui, tetapi saya kira tiap-tiap manusia perlu berguru perihal tadi—menyikapi kebenaran yang beragam dan bertebaran.

Sesekali Ayu menyusupi ceritanya dengan kliping berita sebagai penegasan relevansi topik dalam novelnya dengan realitas masyarakat. Dalam petualangan tiga mahasiswa tersebut banyak dimunculkan pula hal-hal yang menyangkut kepercayaan lokal, mitos dan legenda lengkap dengan uraian sejarahnya. Selain dengan cara ini, Ayu mengomparasikan agama samawi dan agama bumi dengan menghadirkan tokoh pemuda Kupu-kupu—seorang muslim ekstremis yang menentang habis-habisan kepercayaan lokal. Ayu menguraikan logika berpikir ekstremis sekaligus menunjukkan cara-cara menyikapi kondisi sedemikian rupa melalui tokoh Sandi Yuda dan Parang Jati. Keduanya memiliki perbedaan karakteristik yang cukup signifikan. Yuda yang seorang pemanjat tebing ulung ditampilkan lebih awal sebagai rasionalis yang skeptis, kritis sekaligus sinis dalam menanggaapi suatu hal, terutama mengenai mitos-mitos. Pemuda nekat yang seakan tidak pernah kehabisan energi ini mencerminkan karakter kebanyakan manusia abad 21 yang modern, pragmatis, dan menjunjung tinggi akal budi. Pembaca dibuat mengangguk-angguk ketika mengetahui jalan pikir Yuda si anak kota.

Sampai tiba saatnya pembaca berkenalan dengan Parang Jati, mahasiswa semester akhir geologi ITB (yang hadir di bumi secara ajaib), juga seorang intelek yang kritis seperti Yuda, namun lebih kalem dan melankolis. Ayu menyanggah pikiran-pikiran Yuda—yang juga pikirannya sendiri—melalui tokoh Jati si anak desa dengan istimewa. Berkat Jati, pembaca dibuat berhenti sebentar untuk menghela napas sambil melihat ke arah langit demi mencerna jalan pikir tokoh berjari dua belas ini. Acapkali yang terjadi dalam realitas adalah si rasionalis mengolok-olok si konservatif. Namun, di dalam sini Ayu menciptakan keadaan sebaliknya. Tidak heran Yuda dan Jati sering memperdebatkan masing-masing argumennya sebab pengalaman empiris mereka memang jauh berbeda. Sedangkan Marja, kekasih Sandi Yuda, ditampilkan sebagai perempuan riang, cerdas sekaligus manja. Meski begitu, barangkali perlu membaca lebih dari satu kali beserta stabilo warna-warni untuk memahami betul isi novel ini. Pun di dalamnya berkali-kali Ayu menuliskan kalimat berikut:

“Aku tahu, butuh waktu bagimu untuk mengerti.”

Meski topik yang dibawakan Ayu cukup berat, penyampaian makna bilangan fu oleh penulis kepada pembaca tidaklah kaku. Sandi Yuda dan mimpi-mimpi basahnya lah yang menjadi jembatan penyampaian makna bilangan fu. Adalah sesosok makhluk cantik bertubuh manusia dengan kepala dan kaki serigala bernama Sebul yang membisikkan bilangan tersebut pada Yuda. Bisikan-bisikan yang berupa potongan makna ini masih membingungkan Yuda (dan pembaca). Sampai akhirnya ia bersama-sama Jati dan Marja bertemu ayah angkat Jati, yakni Suhubudi. Suhubudi adalah seorang guru kebatinan terpandang yang juga memiliki sebuah padepokan. Pencerahan demi pencerahan diperoleh secara perlahan-bergantian melalui Sebul dan Suhubudi.

Melalui pemaknaan dari bilangan fu inilah pembaca diajak berpikir-berfilsafat untuk memahami konsep Tuhan. Pembaca disuguhi bahasan mengenai asal-usul serta interpretasi mendalam mengenai bilangan nol dan satu. Di dalamnya juga termaktub sejarah bilangan nol yang diringkas dari buku Misteri Bilangan karya Ninkaou Niala Kram. Dari sinilah pemahaman mengenai hal-hal yang metaforis dan matematis diuraikan dalam rangka memanen pengertian ihwal konsep Tuhan. Melalui “perenungan” ala Ayu beserta bilangan-bilangannya, ia bermaksud mengajak pembaca melakukan pengunduran diri terhadap rasionalitas dan mengambil jeda. Jeda untuk mengenali kembali kualitas spiritual pada mental manusia. 

Kutipan novel ini saya kira mampu mempertegas bahwa Bilangan Fu menghendaki pembacanya mempertajam olah emosi terkait menyikapi kebenaran-kebenaran yang bertebaran di bumi:

“Kebenaran biarlah berada di langit. Kelak kita akan mengetahuinya, misteri itu, ketika waktu kita telah tiba. Maka marilah kita berbuat baik kepada bumi. Sebab yang ada di langit itu tidak membutuhkan belas kasih kita” (hal. 454).

Bilangan Fu hadir untuk mencoba membantu pembaca menghindari hal-hal buruk yang bersumber dari modernisme, monoteisme dan militerisme. Novel ini menegaskan bahwa modernisme dengan rasionalitasnya yang sedemikian rupa tidak sepenuhnya dapat dikatakan sebagai kemajuan ataupun perbaikan kehidupan manusia. Bahwa monoteisme adalah kemudian alat untuk menguasai keadaan dan memonopoli kebenaran. Bahwa militerisme adalah alat pelanggeng ketidakadilan—pengikis kemanusiaan. Bahwa ketiganya adalah serangkaian perusak manusia, kemanusiaan, pula alam raya tempat hidup manusia. Bahwa segala yang dirasa sebagai kemajuan tersebut adalah sesungguhnya juga kemunduran. Manusia maju sekaligus mundur.

Saya sepakat bahwa 3M memang sukar untuk dijelaskan keterkaitannya secara gamblang. Pun saya merasa Ayu sedikit kesulitan dalam menyampaikan garis keterkaitan antara modernisme, monoteisme, dan militerisme. Bahkan terkesan sedikit dipaksakan. Meskipun begitu, buku ini layak dikonsumsi terutama bagi kita, manusia Indonesia yang hidup berdampingan dengan diversitas beserta potensi konfliknya.

Sabine Fasawwa

Editor: Ikhsan Abdul

Check Also

Empat Piring di Hari Minggu Keluarga Laut

Judul : Laut Bercerita Penulis : Leila S. Chudori Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) …