Home » Resensi » Buku » Tionghoa Surabaya: Klub Tangguh Dari Surabaya

Tionghoa Surabaya: Klub Tangguh Dari Surabaya

Judul: Tionghoa Surabaya Dalam Sepak Bola 1915-1942

Penulis: R.N. Bayu Aji

Penerbit: Penerbit Ombak

Tahun Terbit: 2010

Halaman: xxi + 142 halaman

Jangan-jangan politik telah memojokkan warga Tionghwa di Indonesia melulu sebagai “pelaku ekonomis” belaka. Padahal sejarah membuktikan, bahwa kelompok ini sebenarnya juga sangat piawai dan handal di dunia kultur dan olahraga.

Sindhunata, Politik dan Sepakbola di Jawa, 1920-1942.

Dalam historiografi Indonesia saat ini, sangat sedikit sekali yang menjelaskan secara gamblang peran etnis Tionghoa di Indonesia. Kebanyakan tulisan hanya mengidentifikasikan etnis Tionghoa sebagai etnis yang pandai berdagang. Hal ini bisa dikatakan terlalu mendiskriminasi peran etnis Tionghoa. Padahal jika kita mau melihat lebih jauh lagi, peran etnis Tionghoa tidak hanya berkisar di situ saja. Salah satunya adalah peran etnis Tionghoa dalam membangun persepakbolaan di Indonesia.

Di tengah surutnya historiografi yang bertemakan sepak bola, apalagi tentang sepak bola Tionghoa, buku yang ditulis oleh Rojil Nugroho Bayu Aji berjudul Tionghoa Surabaya Dalam Sepak Bola 1915-1942 bisa dikatakan seperti oase di padang pasir. Buku ini secara keseluruhan membahas sepak bola Tionghoa dan Tionghoa Surabaya.

Tionghoa Surabaya merupakan salah satu klub yang berpengaruh di Surabaya pada awal abad ke-20. Kehadirannya tidak lepas dari adanya sebuah perkumpulan olahraga (POR) bernama Gymnastiek en Sportvereeniging Tiong Hoa Surabaya yang didirikan pada tahun 1908.

Pada awalnya Gymnastiek en Sportvereeniging Tiong Hoa Surabaya merupakan POR yang menaungi beberapa cabang olahraga seperti senam, standen, ringen, rekstok, dan brug. Namun, karena sepak bola saat itu baru dikenal dan mulai digandrungi oleh masyarakat Hindia Belanda, Gymnastiek en Sportvereeniging Tiong Hoa Surabaya memasukkan cabang olahraga sepak bola dalam kegiatannya.

Di awal kemunculannya, Tionghoa Surabaya mengalami masa-masa sulit. Mulai dari konflik berupa perkelahian dan kekacauan karena sepak bola, bahkan kerusuhan antarsuporter (hal 81). Akibat adanya hal tersebut, Tionghoa Surabaya sempat akan dibubarkan. Namun, dengan adanya perlawanan yang dilakukan untuk menangkal hal tersebut, akhirnya Tionghoa Surabaya tetap ada. Bahkan setelah kejadian itu justru dukungan terhadap Tionghoa Surabaya semakin banyak dan mendapat simpati dari orang-orang Tionghoa.

Kebanyakan bond sepak bola Tionghoa saat itu menginginkan keberadaannya sejajar dengan bond sepak bola Belanda. Hal ini menandakan jika sepak bola bukan hanya permainan saja melainkan juga ada unsur politik di dalamnya. Saat itu memang orang-orang Tionghoa merupakan golongan kelas kedua (Timur Asing) yang berada di bawah golongan pertama, orang-orang kulit putih (Eropa).

Semangat itulah yang menjadikan Tionghoa Surabaya sebagai representasi golongan kedua mewakili orang-orang Tionghoa. Pada tahun 1919 Tionghoa Surabaya masuk dalam anggota Soerabajasche Voetbal Bond (SVB). Pada tahun itu pula Tionghoa Surabaya mulai ikut berkompetisi di kelas dua SVB. Selang dua tahun berikutnya Tionghoa Surabaya naik peringkat ke kelas satu.

Kompetisi SVB sendiri pada waktu itu memiliki tujuh tingkatan. Pertama kelas utama (Hoofdklaasse), kelas satu, kelas dua dan seterusnya sampai kelas keenam (hal 84). Pada tahun 1922 Tionghoa Surabaya mencapai kesuksesan tertinggi di kompetisi SVB. Pasalnya Tionghoa Surabaya mampu masuk sebagai finalis dalam tiga kelas sekaligus, yaitu kelas satu, kelas dua dan kelas tiga. Bahkan pada tahun 1939 Tionghoa Surabaya mampu memenangi kompetisi SVB di semua kelas—padahal waktu itu kompetisi ini terbilang sulit.

Selain berprestasi di kompetisi SVB, Tionghoa Surabaya mampu juga bersaing di kejuaraan steden wedstrijden (kompetisi antarkota). Kompetisi yang digagas oleh orang-orang Tionghoa ini dimulai pada tahun 1917. Kompetisi ini diikuti oleh empat klub Tionghoa yaitu Tionghoa Surabaya, UMS Batavia, Union Semarang, dan YMC Bandung pada tahun 1921.

Mulai tahun 1921 Tionghoa Surabaya muncul sebagai klub yang tangguh di kompetisi itu. Tahun itu juga pelaksanaan steden wedstrijden dilaksanakan di Lapangan Quick, Pasar Turi, Surabaya mulai dari tanggal 25 Maret-27 Maret 1921. Tionghoa Surabaya mampu menjadi pemenang pada waktu itu dan merebut Piala Hoo Bie. Tahun berikutnya Tionghoa Surabaya kembali menjadi pemenang. Semenjak itu Tionghoa Surabaya menjadi klub yang cukup ditakuti lawan.

Untuk menjadi seperti itu Tionghoa Surabaya punya cara yang berbeda dalam membangun sebuah tim dibanding dengan klub-klub lainnya. Tionghoa Surabaya menyusun pembinaan pemain muda serta pelatihan yang intensif. Hal inilah yang pada waktu itu tidak disadari oleh klub-klub lainnya. Membuat Tionghoa Surabaya tidak kehabisan pemain muda berbakat.

Tidak jauh berbeda dari klubnya, para pemain Tionghoa Surabaya juga terkenal hebatnya. Sebut saja Tan Mo Heng dan Tan Hong Djien, pemain Tionghoa Surabaya yang mampu bergabung dalam tim Dutch East Indies yang dibuat oleh NIVU untuk mengikuti Piala Dunia Prancis tahun 1938 (hal 88).

Kenyataan sejarah seperti ini menandakan jika etnis Tionghoa punya pengaruh terhadap persepakbolaan di Indonesia. Etnis Tionghoa bukan sekadar berkutat dengan urusan dagang saja. Mereka mampu membuktikan, di tengah peraturan diskriminatif pada waktu itu, mereka tetap mampu berprestasi untuk membangun persepakbolaannya. Ini juga sebagai refleksi untuk organisasi yang menaungi persepakbolaan Indonesia—PSSI yang tepat tanggal 19 April, merayakan ulang tahunnya yang ke-88—tentang bagaimana caranya membangun sepak bola seperti yang diperbuat oleh etnis Tionghoa.

Bagas Pangestu

Editor: Ikhsan Abdul H.

Check Also

Memelihara Ketakutan

Oleh Geger Riyanto (Peneliti sosiologi, bergiat di Koperasi Riset Purusha) Saya paham betapa mengerikannya penguasaan …