Home » Resensi » Sungguh, Perang Tidak Menguntungkan Siapa pun

Sungguh, Perang Tidak Menguntungkan Siapa pun

Grave of The Fireflies/cambridge.carpediem.cd

Ekspresionline.com — Isao Takahata, salah satu pendiri studio animasi paling tenar di Jepang, Studio Ghibli, mengembuskan napas terakhir di rumah sakit Tokyo, Jumat 6 April. Takahata meninggal di usianya yang ke-82. Dilansir dari kotaku.com, kondisi kesehatan jantung Takahata memang mulai menurun sejak beberapa tahun terakhir. Kabar tentang kepergiannya tentu bikin mewek penggemar serial Ghibli di seluruh dunia.

Isao Takahata dilahirkan di Prefektur Mie, 29 Oktober 1935, sebuah prefektur di selatan Jepang. Kemudian ia tumbuh kembang di kota Okayama, yang berada di sisi barat Jepang. Takahata mulai dikenal sejak ia bergabung dengan Toei Animation, sebuah perusahaan animasi Jepang pada 1959. Di sana pula akhirnya ia bertemu dengan Hayao Miyazaki dan Toshio Suzuki. Mereka kemudian mendirikan Studio Ghibli.

Selama kariernya di Studio Ghibli, Takahata sudah bertindak sebagai sutradara maupun produser berbagai film, seperti Nausicaa of the Valley of the Wind (1984) dan Castle in the Sky (1986). Selain itu, antara 1991 hingga 2013, Takahata juga berhasil menyutradarai sejumlah film animasi lainnya, di antaranya Only Yesterday (1991), Pom Poko (1994), My Neighbour the Yamadas (1999), dan The Tale of Princess Kaguya (2013). Film The Tale of Princess Kaguya bahkan sempat menjadi nominator Academy Awards dikategori Best Animated Feature Film pada 2015.

Dari sekian banyak deretan film yang dihasilkan Studio Ghibli, Grave of the Fireflies (Hotaru no Haka) adalah yang paling banyak mendapat komentar baik. Rober Ebert dari The Chicago Sun-Times menyebut film Studio Ghibli, Grave of Fireflies atau Hotaru no Haka sebagai sebuah “pengalaman emosional juga bertenaga yang pada akhinya memaksa kita untuk memikirkan kembali tentang animasi.”

Grave of the Fireflies berkisah tentang Seita dan Setsuko, sepasang kakak-beradik yang mencoba bertahan di tengah gempuran serangan udara tentara Sekutu. Berlatar belakang Perang Dunia II, situasi emosional tampak dihadirkan tatkala mereka kehilangan rumah. Terpaksa, Seita dan Setsuko jadi yatim piatu. Kota luluh lantak. Korban jiwa berjatuhan. Banyak mayat yang terpaksa dikremasi secara massal.

Situasi tersebut, berasal dari pengalaman  yang pernah dialami langsung oleh Takahata, pada penghujung Perang Dunia II. Ia melihat tumpukan mayat bertebaran di Okayama, Jepang akibat serangan udara Amerika Serikat yang menewaskan 1700 orang. Barangkali pengalamannya tersebut banyak memengaruhi Grave of the Fireflies, meskipun film ini diangkat dari novel karangan Akiyuki Nosaka dengan judul sama.

Kisah Seita dan Setsuko, dua tokoh utama dalam film itu, dimulai dengan adegan yang menampilkan Seita sekarat di sebuah bangunan. Tubuhnya kurus kering dibalut singlet dan celana pendek compang-camping. Seorang pemuda berseragam memandangi tubuh itu. Tubuh itu pun ternyata sudah tidak bernyawa, dan pemuda berseragam itu berkata, “Ada lagi yang meninggal.” Seolah-olah, kematian sudah jamak disaksikan tiap saat. Seita, tubuh yang mati itu, seakan-akan mengajak kita mengetahui masa lalunya dengan berkata, “Itu malam ketika aku mati.” Masa lalu Seita dan Setsuko, kakak-beradik yang malang itu pun dibuka.

Serangan udara terjadi, Seita dan Setsuko berlari ke gedung sekolah. Mereka mencari kejelasan nasib ibunya yang terpisah sebelum terjadi penyerangan. Ketika akhirnya Seita mendapati tubuh ibunya terbaring dengan sekujur tubuh dibalut perban akibat luka bakar, tidak ada harapan baginya untuk bertemu sang ibu lagi. Kondisi ini dirahasiakan Seita pada Setsuko yang kerap menanyakan keberadaan ibu, sampai akhirnya ibunya meninggal. Sang ibu tewas dalam kondisi yang mengenaskan, tak hanya sakit jantung, luka bakar yang telah mulai membusuk sehingga mengundang belatung-belatung itulah yang menggerogoti nyawa sang ibu.

Seita mencoba menghibur Setsuko berkali-kali agar tidak terus-menerus menanyakan ibu. Ketika Setsuko sedih, Seita akan memberinya permen buah. Seita juga tetap menjaga sikap seolah tidak terjadi apa-apa, meskipun hal itu justru sangat emosional bagi dirinya.

Beberapa kali kita akan disuguhkan pemandangan di mana ia menarik gerobak untuk mengangkut barang-barangnya yang tersisa, atau saat ia harus menukarkan kimono ibunya dengan sekantung beras. Seita dan Setsuko harus mengalami serangkaian kepahitan itu saat mereka jadi tunawisma. Meskipun sempat ditampung di rumah bibi mereka beberapa waktu, berbagai konflik akibat sifat kasar sang bibi membuat Seita dan Setsuko memutuskan angkat kaki. Mereka pergi ke tempat perlindungan—sebuah gua di bawah bukit yang digunakan penduduk berlindung dari serangan udara—dan tinggal di sana.

Selama di tempat itu, mereka kehabisan uang atau barang berharga untuk membeli makanan yang layak. Seita mencuri sayur dan buah-buahan di kebun untuk bertahan hidup. Namun, ini tidak selalu berhasil. Suatu kali, ia dicokok empunya kebun hingga digelandang ke kantor polisi. Sementara itu, kondisi Setsuko makin lama makin memburuk. Kulitnya gatal-gatal dan ia terkena diare. Karena tidak banyak asupan bergizi yang masuk ke mulutnya, tubuhnya berangsur-angsur kurus.

Pada titik ini, Seita sudah tidak mencuri buah lagi. Ia mencuri pakaian dari rumah-rumah yang ditinggalkan penduduknya saat terjadi serangan udara. Konflik kemudian mencapai klimaks saat Seita membawa Setsuko ke dokter. Meskipun dokter memberikan hasil visum tak mengkhawatirkan bagi kesehatan Setsuko, nyatanya Seita tetap terpukul.

Dokter menyarankan jika Setsuko hanya cukup dikasih makanan bergizi saja, tetapi Seita tidak tahu harus cari makan ke mana lagi. Perang sudah berakhir dan situasi normal kembali, tapi tidak bagi Seita dan Setsuko. Kebingungan itu jadi puncak kegetiran hidup Seita, terlebih saat dia hanya bisa menyuapi Setsuko sejumput remahan es bekas potongan balok es yang jatuh ke tanah. Beberapa kejadian itu seolah sudah disiapkan untuk menutup film ini: Setsuko mati dan Seita melanjutkan hidup sebagai gelandangan.

Konflik dalam Grave of the Fireflies pada akhirnya bukanlah konflik picisan anak-anak. Sekalipun pembuat fiksi manapun dapat bereksperimen, Takahata menampilkan anak-anak murni sebagai anak-anak, terutama sebagai subjek yang menjadi korban perang. Latar perang tidak membuat Takahata latah memasukkan unsur magis atau heroik untuk membuat Seita dan Setsuko lolos dari lubang jarum permasalahan. Sebaliknya, Seita dan Setsuko justru dibiarkan untuk mencari solusi sendiri bagi setiap masalahnya.

Ini berbeda dengan film serupa, sebut saja Battle of Surabaya. Film animasi garapan Indonesia ini menempel berbagai kejadian heroik-hiperbolis untuk membuat tokoh utamanya—yang juga anak-anak—bisa memecahkan masalahnya. Hal ini seakan mereduksi kompleksitas yang terjadi saat masa-masa perang. Grave of the Fireflies seakan jadi antitesisnya.

Pengalaman Seita dan Setsuko menegaskan jika perang bukanlah semata tempat tumbuh suburnya nasionalisme. Justru di balik perang, terdapat kisah-kisah yang luput dalam amatan sejarah. Perang, selama ini, dimunculkan hanya dengan satu figur yang dielu-elukan sebagai pahlawan. Perang ialah ladang pembunuhan yang diciptakan dari ego orang-orang dewasa, tanpa pernah meminta persetujuan siapapun, tak terkecuali anak-anak, tetapi banyak meminta korban dari mereka. Akibatnya, kehidupan masa kecil mereka terampas.

Grave of the Fireflies ialah sebentuk upaya Isao Takahata mengaktifkan ingatan kita tentang peristiwa mengerikan seperti perang. Isao bukannya hendak membuka luka lama kekalahan Jepang di Perang Dunia II, tetapi ia mencoba mengetok masing-masing batok kepala kita, bahwa ada kaum yang luput diperhatikan dari perang, yaitu anak-anak.

Ahmad Yasin dan A. S. Rimbawana

Editor: Danang S

Check Also

Empat Piring di Hari Minggu Keluarga Laut

Judul : Laut Bercerita Penulis : Leila S. Chudori Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) …