Home » Resensi » Buku » Membaca Sebagai Gaya Hidup

Membaca Sebagai Gaya Hidup

Judul: Membaca, Gaya Hidup, dan Kapitalisme

Penulis: Rahma Sugihartati

Penerbit: Graha Ilmu, Yogyakarta

Tahun Terbit: Cetakan pertama, 2010

Halaman: x + 246 halaman

ISBN: 978-979-756-605-0

Membaca bukan sekedar aktivitas membuka dan membaca kata per kata, kalimat per kalimat, paragraf per paragraf untuk kemudian seseorang dapat memahami keseluruhan tulisan (berikut gambar) yang tersaji di hadapannya. Lebih dari itu, membaca adalah sebuah perilaku sosial sekaligus bagian dari gaya hidup yang melibatkan berbagai relasi sosial, psikologi, bahasa, simbolik, ekonomi, politik dan kultural.

Rahma Sugihartati, si penulis, memeriksa adanya hubungan antara pemanfaatan waktu luang untuk pleasure reading dalam kaitannya dengan perkembangan gaya hidup remaja urban dan meluasnya produk-produk industri budaya dari kekuatan kapitalisme dari kacamata Cultural Studies. Menurut perspektif Cultural Studies, membeli dan membaca buku, seperti juga kegiatan konsumsi yang lain, selalu lebih dari sekadar aktivitas ekonomi, mengkonsumsi produk atau menggunakan komoditas untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan material, tetapi lebih dari itu aktivitas ini juga berhubungan dengan mimpi, hasrat, identitas dan komunikasi atau dalam istilah Cultural Studies disebut bagian dari budaya pop.

Dalam berbagai kajian yang menjadi cikal-bakal Cultural Studies, yang disebut audiens, seperti penonton film dan pembaca, memang seringkali digambarkan sebagai khalayak yang cenderung mudah dimanipulasi dan dipasifkan serta rentan terhadap daya tarik ideologi iklan dan konsumerisme. Buku ini setidaknya ingin menjawab pertanyaan: apakah benar konsumen selalu bersikap pasif dan menjadi korban ideologi kapitalis yang senantiasa mengembangkan gaya hidup sesuai kehendak pasar?

Gaya hidup selalu berkaitan dengan upaya untuk membuat diri eksis dalam cara tertentu dan berbeda dari kelompok lain. Di sini ada suatu perilaku konsumsi yang merupakan imbas pascamodern, di mana orang berada dalam kondisi selalu dahaga, dan tak terpuaskan. Suatu pola konsumsi yang cerdik dibangkitkan oleh produsen, gatekeeper, melalui pencitraan yang menjadi titik sentral sebagai perumus hubungan. “Citra kemudian menjadi bahasa komunikasi sosial di dalam masyarakat konsumen, yang di dalamnya telah diciptakan klasifikasi dan perbedaan sosial menurut kelas, status, dan selera.” (hlm. 45)

Seseorang yang memutuskan untuk membeli dan membaca buku, misalnya, apakah ia melakukan karena semata didorong kebutuhan untuk membelanjakan uangnya, ataukah lebih didorong keinginan untuk membuktikan bahwa ia paham isu-isu kekinian? Pada halaman 45, Rahma Sugihartati menyibak realitas sosial: “Ketika seseorang mengkonsumsi sesuatu, bukan sekedar karena ingin membeli fungsi pertama atau fungsi inheren dari produk yang dibelinya itu, tetapi sebetulnya ia juga berkeinginan untuk membeli fungsi sosial lain yang disebut Adorno (1960) sebagai ersatz, nilai pakai kedua sebuah produk.”

Pilihan seseorang atas jenis bacaan tertentu, kapan ia menyempatkan waktu untuk membaca, bagaimana karakter dan siapa tokoh idola yang digemari, dan lain sebagainya, menurut perspektif Cultural Studies bukan sekedar pilihan yang didorong pertimbangan selera pribadi, tetapi dibentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang sedikit-banyak berkaitan dengan kapitalisme dan cara kapitalisme mempresentasikan ke massa. Jadi, membaca, menurut perspektif Culture Studies adalah sebuah aktivitas sosial yang dikonstruksi, tetapi sekaligus juga berkembang sebagai bagian dari proses dialektika.

Masyarakat konsumen, menurut perspektif Cultural Studies seringkali memang diyakini tumbuh karena didorong ideologi konsumerisme, terutama melalui pencitraan yang dimasyarakatkan lewat kekuatan iklan, sugesti, bahwa makna kehidupan harus kita temukan pada apa yang kita konsumsi, bukan pada apa yang kita hasilkan. Di era global saat ini, salah satu keunggulan industri budaya yang terbukti memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menumbuhkan perilaku adiktif dan perilaku konsumsi yang berlebih, tak ayal adalah kehadiran dan pengaruh iklan.

Herbert Mercuse dalam studi John Storey, Culture Studies dan Kajian Budaya Pop, Pengantar Komperhensif Teori dan Metode (2007) menyatakan bahwa iklan akan mendorong tumbuhnya kebutuhan palsu, menyebabkan orang berkeinginan untuk menjadi orang tertentu, semisal: dalam cara berpakaian, selera bermusik, termasuk pemilihan bahan bacaan yang disukai. Di era masyarakat kapitalisme, kegiatan produksi, distribusi dan iklan merupakan bagian dari industri budaya (culture industry) masa kini yang sangat tergantung pada industri-industri lainnya seperti komunikasi massa dan hiburan massa. Buka halaman 35: “Dari berbagai kajian yang telah dilakukan, para penganut perspektif Cultural Studies umumnya sepakat bahwa di era masyarakat modern atau postmodern, peran informasi menjadi sangat strategis, terutama dalam membentuk gaya hidup, selera, dan juga cita rasa melalui iklan dan berbagai media massa.”

Jean P. Baudrillard, dalam bukunya Masyarakat Konsumsi (2006), mencirikan masyarakat konsumer sebagai masyarakat yang di dalamnya terjadi pergeseran logika dalam konsumsi, yakni dari logika kebutuhan menuju logika hasrat, bagaimana konsumsi, termasuk membaca menjadi pemenuhan akan tanda-tanda. Dengan kata lain orang tidak lagi mengkonsumsi nilai guna produk, tetapi nilai tandanya.

Dikatakan Bourdieu (1984), mengutip studi Storey, status sosial bukan didefinisikan dari kedudukan seseorang dalam kelompok atau kelas sosial, melainkan dari apa yang mereka konsumsi. Menurut Bourdieu kemudian, perbedaan dalam selera budaya antarkelas sosial maupun kelompok muncul dalam pilihan mengenai hal-hal yang remeh-temeh, seperti cara berbusana, cara mengisi waktu luang, selera musik atau materi bacaan, yang mana itu semua dapat memberi tanda (signify) mengenai kedudukan dan mempertahankan, menguatkan atau mereproduksi struktur sosial yang telah ada sebelumnya.

Tahap selanjutnya di masyarakat konsumer, salah satu bentuk perilaku konsumsi yang muncul adalah apa yang disebut konsumsi sinergistik (synergistic consumption), yaitu gabungan dari sekian banyak aktivitas leisure, hobi, dan perilaku keranjingan, seperti membaca buku, menonton filmnya, membeli mainannya, memakai kostum, membeli CD, video game, dan menelusur web interaktif. Sebuah konsekuensi tak terhindarkan dari proses komodifikasi produk industri budaya yang diproduksi secara massal untuk membidik target pasar yang seluas-luasnya.

Remaja atau pemuda seringkali memang menjadi sasaran utama dari proses komodifikasi dan komersialisasi budaya, karena bukan saja secara ekonomi mereka tergolong konsumtif, tetapi juga karena mereka adalah bagian dari kelompok massa dan pangsa pasar yang potensial: mereka aktif untuk terus menelusur dan mencari informasi yang berkaitan dengan bacaan dan tokoh yang mereka idolakan. Seorang remaja urban yang ingin membangun citra sebagai remaja yang selalu mengikuti perkembangan zaman, tak bisa dihindari harus mampu mengembangkan gaya hidup: perilaku yang khas dan memiliki selera serta cita rasa yang memang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman.

Perilaku membaca untuk kesenangan, menurut Rahma, di kalangan remaja urban secara garis besar dibedakan dalam dua kelompok, yaitu kelompok remaja yang benar-benar kecanduan membaca jenis bacaan apapun yang mereka minati (riil-adiktif), dan pembaca yang gemar membaca, tetapi pilihan bacaan apa yang digemari biasanya hanya sekedar ikut arus saja (pseudo-adiktif). Pembaca pseudo-adiktif, bisa dikatakan mereka sesungguhnya adalah massa yang tertipu daya dan “terperangkap” untuk tidak hanya gemar membeli bacaan, tetapi juga tertarik untuk membeli berbagai merchandise lain, di mana mereka sebenarnya tanpa sadar telah ditarik ke dalam jaringan kapitalis, karena antusiasme mereka atas teks sedikit-banyak mencerminkan dukungan tanpa kritik mereka terhadap dominasi industri budaya. Mereka, seperti dikatakan pemikir dari Mazhab Frankfurt sejatinya bukan warga tetapi konsumen.

Terminologi atau konsep baru (yaitu perbedaan kategori pembaca pseudo-adiktif dan pembaca riil-adiktif) yang ditemukan dalam studi ini membuka jalan menjawab pertanyaan awal: apa benar konsumen, dalam hal ini remaja urban, selalu bersikap pasif dan menjadi korban ideologi kapitalis yang senantiasa mengembangkan gaya hidup sesuai kehendak pasar? Jawaban itu ditemukan pada halaman 222: “…, studi ini menemukan bahwa konsumen, dalam hal ini remaja urban yang gemar membaca, ternyata mereka tak selalu menjadi korban dari pengaruh iklan dan daya tarik produk-produk budaya kapitalisme, karena bagaimana pun mereka masih memiliki ruang dan kesempatan untuk memilih bacaan mana yang disenangi, tanpa harus berkaitan dengan persoalan apakah bacaan itu produk kapitalisme yang populer atau tidak.”

Memahami perkembangan gaya hidup dan budaya populer, lanjut Rahma, tidaklah cukup hanya dengan logika berpikir yang melihat bahwa perilaku orang, termasuk perilaku membaca untuk kesenangan sebagai sesuatu aktivitas sosial yang muncul semata karena pembebanan dan hasil dari pengendalian kekuatan kapitalisme, karena soal cita rasa dan selera bagaimana pun adalah bagian dari ekspresi masyarakat yang sifatnya terbuka: bahwa di sana kedaulatan konsumen dalam batas-batas tertentu diakui eksistensinya. Memahami perilaku membaca remaja urban semata bersifat pasif dan hasil konstruksi kekuatan industri budaya, bukan saja menafikan eksistensi manusia yang memiliki independensi, tetapi juga mengkhianati perjuangan dan asumsi dasar dari cara berpikir Cultural Studies yang sejak awal ingin menolak keseragaman dan hegemoni.

Dengan kata lain, selera dan cita rasa remaja urban dalam memilih jenis bacaan, tidak selalu dikonstruksikan atau dibentuk oleh kekuatan industri budaya melalui proses komodifikasi budaya populer, tetapi juga dipengaruhi variasi pengalaman hidup sehari-hari untuk memperluas wawasan, dan menyediakan pilihan alternatif yang lebih beragam kepada remaja urban.

Hal-hal dan pengalaman baru di luar rutinitas hidup, kesempatan untuk pergi ke dunia yang masyarakat dan tradisinya berbeda acapkali mampu menstimuli tumbuhnya ragam minat yang keluar dari pengaruh kekuatan industri budaya. Pembaca yang riil-adiktif juga bisa dipahami melalui perlawanan mereka terhadap kekuatan kapitalisme yang berusaha mengkonstruk mereka dengan kekuatan iklan maupun proses komodifikasi budaya—walaupun tidak ada jaminan hal ini akan selalu berhasil dalam setiap kesempatan dan waktu.

Melihat realitas membaca adalah bagian gaya hidup remaja urban, studi ini memberikan perspektif baru yang berguna sebagai acuan bagi segenap perencana pembangunan—khususnya pustakawan, pendidik dan pemerintah pada umumnya yang memiliki concern untuk menumbuhkembangkan perilaku gemar membaca dan kemampuan literasi di kalangan remaja. Sebuah perpustakaan sekolah dan pustakawan yang berkeinginan untuk merangsang tumbuhnya minat membaca siswa, misalnya, maka selain menyediakan berbagai jenis kepustakaan di bidang akademik yang lengkap dan aktual, yang tak kalah penting adalah di sana juga harus disediakan berbagai jenis bacaan non-akademik yang populer dengan tujuan untuk memancing tumbuhnya semangat belajar dan peluang siswa meraih prestasi akademik yang lebih baik.

Dalam menumbuhkembangkan minat baca, sikap persuasif dan kooperatif adalah cara dan pendekatan yang terbaik. “Secara teoritis, satu hal yang mesti disadari: agar siswa termotivasi untuk menyukai, memiliki dan membaca buku, maka faktor utama adalah rasa senang.” (hlm. 230). Bahwa membaca adalah aktivitas budaya yang tidak seharusnya dipaksakan dan dibentuk dengan cara-cara yang represif dan punitif. Selain motivasi, faktor lain yang membentuk lifelong reader adalah pilihan.

Arfrian Rahmanta

Editor: Danang S.