Home » Berita » Berbagi Romantisme 1998 Lewat Gelar Wicara

Berbagi Romantisme 1998 Lewat Gelar Wicara

Muhammad Nurkhoiron sedang menuturkan pengalamannya pada gelar wicara “Mengenang 98” di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM, Sabtu (19/05). Foto oleh Majid/EKSPRESI.

Ekspresionline.com — Memperingati 20 tahun reformasi, Forum Komunikasi UKM Gelanggang Mahasiswa UGM mengadakan gelar wicara di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri, Sabtu (19/05). Bertajuk “Mengenang 98”, gelar wicara dibersamai oleh Muhammad Nurkhoiron dan Ika Dewi Ana sebagai pelaku sejarah serta Peter Kasenda selaku sejarawan. Ketiganya merupakan saksi sejarah reformasi 98.

“Peristiwa politik mendorong saya menjadi aktivis. Ini menyangkut kehidupan saya yang paling nyata,” tutur Muhammad Nurkhoiron. Mahasiswa UGM angkatan 1993 tersebut lantas menceritakan jika sebenarnya Ia lulus SMA pada 1992, tetapi baru bisa kuliah setahun selanjutnya.

Khoiron melanjutkan, tertundanya Ia kuliah karena ada kebakaran di pasar tradisional tempat orang tuanya mencari nafkah. Ia harus membantu orang tua yang sedang menghadapi musibah tersebut.

“Setelah kuliah, saya baru tahu jika pasar tradisional tersebut sengaja dibakar,” kata Khoiron. Pria asal Malang tersebut lantas menjelaskan jika sebelum kebakaran telah ada pengumuman relokasi pasar dari pemerintah daerah, tetapi mendapat penolakan dari pedagang.

“Kejadian serupa banyak terjadi di daerah lain, seperti di Gombong pada 1994,” lanjut Khoiron. Ia menerangkan, di Gombong ada pasar yang sengaja dibakar. Pada tahun itu pula, pria yang pernah bekerja di Komnas HAM tersebut ikut berdemonstrasi menentang kesewenang-wenangan tersebut.

Ika Dewi Ana juga menceritakan pengalamannya. Selaku pegiat pers mahasiswa, Ika ikut meliput kisruh Kedungombo. “Dulu, kamera hendak disita aparat, tetapi tidak saya berikan,” tuturnya. Usai peristiwa Kedungombo, ada beberapa demonstrasi menentang kekerasan aparat. “Waktu demonstrasi, kami memasang bunga di telinga,” kata Ika.

Peter Kasenda memiliki pengalaman yang berbeda. Mahasiswa Universitas Indonesia angkatan 1978 tersebut sudah menjadi dosen saat peristiwa reformasi. “Waktu itu saya diminta menjadi mentor oleh mahasiswa untuk menganalisis kondisi yang sedang terjadi,” tuturnya. Dosen Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta tersebut mendukung mahasiswa untuk melengserkan Suharto.

Berbicara lebih lanjut, Ika mengomentari kondisi pascareformasi 98. Menurutnya reformasi telah terjadi, tetapi cita-citanya harus tetap diperjuangkan hingga kini. Dosen Fakultas Kedokteran Gigi UGM tersebut memberikan beberapa contoh cita-cita reformasi yang belum tercapai.

“Sampai saat ini Indonesia masih impor garam industri,” kata Ika. Selain impor garam industri, Ika juga menyayangkan meningkatnya radikalisme di Indonesia. Menurutnya reformasi 98 berjalan tanpa kesiapan desain besar yang ideal untuk negara.

Rofi Ali Majid

Editor: Danang S

Check Also

Perempuan Jangan Hanya di Rumah Saja!

Hari Kartini, 21 April, sebagai pengingat kembali emansipasi, bukan malah memperingati Kartini-nya. Begitu kalimat pembuka …