Home » Wawancara Khusus » Rektor UNY: Terkait UPPA, Bagi yang Tidak Mampu Tak Perlu Diisi

Rektor UNY: Terkait UPPA, Bagi yang Tidak Mampu Tak Perlu Diisi

Ekspresionline.com — Rabu sore (3/4), wartawan EKSPRESI, Reza Egis Nugroho dan Rizal Amril Yahya menemui Rektor UNY, Sutrisna Wibawa, di ruang Rektor UNY guna mempertanyakan kebijakan diberlakukannya Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) yang disebut UNY sebagai Uang Pangkal Pengembangan Akademik (UPPA) pada penerimaan mahasiswa baru jalur seleksi mandiri tahun 2018.

Apakah benar UNY akan memberlakukan SPI pada mahasiswa baru jalur mandiri tahun ini?

Sesuai dengan peraturan menteri untuk program mandiri, diperbolehkan menarik untuk SPI. Kami berlakukan untuk program (seleksi) mandiri. Seperti Anda ketahui, bahwa kami sekarang sedang gencar bagaimana menyiapkan sarana prasarana dari akademik untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi yang baik. Salah satunya adalah penyediaan laboratorium.

Laboratorium yang kita miliki sekarang ini masih sangat jauh dari kualitas yang diinginkan. Oleh karena itu, salah satu alternatif untuk mewujudkan laboratorium itu dengan SPI.

Masih ada beberapa cara kami untuk mengatasi pembangunan laboratorium. Misalnya, sekarang kami bangun 13 gedung, 9 di antaranya laboratorium. Itu menggunakan sumbangan dari Dikti dan IDB (Islamic Development Bank).  Kami juga menggunakan dana-dana dari BOPTN (Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri) yang rupiah murni, tetapi tidak cukup. Oleh karena itu kami perlu untuk menggali SPI dari program (seleksi) mandiri.

Kemudian, (pengisian) SPI itu sesuai dengan kemampuan orang tuanya yang nanti akan mengisi formulir. Kemudian, kalaupun dia tidak mampu ya jangan ngisi. Jangan menyumbang. Jadi sifatnya adalah sukarela, tidak wajib.

Jadi untuk yang program (seleksi) mandiri, di formulir itu ada Rp0,00. Saya lupa ya, ada sekian sampai sekian (besaran dana sumbangan). Kita tidak mewajibkan, kalau memang dia tidak mampu. Isilah Rp0,00 karena kita ingin menggali dari kemampuan orang tua untuk ikut berkontribusi bagaimana menyediakan sarana prasarana yang dibutuhkan.

Bagimana tanggapan dari beberapa staf yang tidak mengetahui adanya SPI?

Ya, karena ini baru. Baru disosialisasikan lewat BEM.

Untuk Surat Keputusan (SK) SPI?

Ya, SK-nya dari rektor.

Apakah sudah ada?

Belum, inikan program (seleksi) mandiri masih bulan Juni setelah SBMPTN. Ya secepatnya. Baru proses, belum ada tanggal.

Karena formulir sendiri juga sedang dikembangkan. Jadi nanti berdasarkan Permen (Peraturan Menteri) itu, program (seleksi) mandiri itu kita menghimpun pada yang mampu.

Kalau pun dia tidak mampu ya tidak harus mengisi, tidak harus berkontribusi. Bahkan yang mandiri pun, kalau dia tidak mampu, mungkin UKT-nya juga UKT yang (golongan) 1.

Apakah anggaran sebelumnya tidak mencukupi?

Tuntutan kualitas kan terus berkembang. Anda lihat di lab-lab yang ada itu, datang ke FT, FMIPA bagaimana suasana labnya, ke fakultas-fakultas. Nah itu kalau kita tidak ada upaya-upaya lain ya akan seperti itu.

Upaya lain itu tidak hanya SPI, jangan salah. Kita kan punya peluang-peluang lain. Lewat pengajuan ke kementrian. Jadi, itu salah satu alternatif saja.

Bapak bilang ada jalan lain. Kenapa akhirnya UNY memutuskan lewat SPI?

Ya supaya masyarakat ikut berkontribusi. Pendidikan kan ditanggung bersama antara pemerintah dan masyarakat. Masyarakat yang mampu, ikut berkontribusi.

Kira-kira pengaruh SPI ini apakah cukup besar untuk meningkatkan kualitas UNY?

Saya belum bisa menjawab karena belum ada hasilnya. Kalau untuk meningkatkan kualitas ya jelas, untuk meningkatkan kualitas lab.

Apakah ada petunjuk teknis dari Kemenristek?

Tidak ada, hanya ada Permen saja. Ini otoritas PTN. Anda lihat dari PTN-PTN yang ada. Mungkin UNY dan beberapa PTN, saya tidak bisa menyebut PTN mana saja. Tapi beberapa PTN sudah memberlakukan. Yang saya tau, ada di PTN Semarang dan Surabaya.

Apakah perlu UNY mengirimkan surat pemberitahuan kepada kementerian atas SPI?

Enggak perlu adanya surat, ini otonominya kampus. Kalau laporan ya tetap laporan. Karena kan semua penerimaan itu dari manapun harus dilaporkan.

Apakah ketika SPI ini ada akan membuat PTN hanya berisi orang-orang yang mampu saja?

Tidak ada pengaruhnya, karena kami selalu akademik. Bidikmisi pun, yang dilihat akademiknya dulu, dinilai, di-ranking. Baru nanti dilihat, berapa orang yang masuk kelompok bidikmisi.

Jadi taruhlah sebagai contoh, setelah kami lihat, itu yang lulus 5 ribu orang. Kemudian kami lihat, pelamar Bidikmisi itu 1500 mahasiswa. Nah alokasi UNY hanya 1000 mahasiswa, berarti kurang 500 mahasiswa, lantas kami ranking. Yang memenuhi syarat itu 1000 yang masuk bidikmisi, lalu yang 500 kita tawari di (UKT) golongan 1, karena dia pelamar bidikmisi itu kan yang kurang mampu.

Kemudian kita masih ada peluang beasiswa. Seperti beasiswa PPA, lalu beasiswa kerja sama. Kami prioritaskan yang seperti itu. Sehingga penerimaan ditentukan bukan karena SPI, tapi karena akademik.

Jadi uang itu tidak dipakai untuk memutuskan tesnya itu seperti apa. Dari (seleksi) mandiri itukan (menerima) 30% (dari keseluruhan jumlah mahasiswa baru), itu berapa yang nanti mau membayar SPI, kita juga belum tau. Tergantung yang lulus saja.

Kemudian dari (seleksi) mandiri juga bisa mengajukan Bidikmisi, lalu mengajukan UKT (golongan) 1.

Apakah ketika SPI ini diberlakukan, UNY akan transparan?

Kalau laporannya, pendapatan keuangannya ya harus dilaporkan. Bisa diketahui oleh publik. Anda tanya kita jawab, berapa pendapatan dari SPI.

Kalau data perorang itu tidak bisa, rahasia. Kita bisa memberi data, tapi tanpa nama. Karena kita harus merahasiakan data orang. Seperti nilai itukan data rahasia, tapi kalau tanya berapa? Ya ada datanya.

Apakah SPI ini ada target?

Tidak ada target, karena SPI ini salah satu alternatif saja.

Dalam pengisian Rp0,00 ini, apakah tidak ada syarat-syaratnya?

Tidak ada, cukup pilih Rp0,00 saja. Artinya dia menyatakan tidak mampu. Nanti ada (pengisian formulir) penghasilan, karena untuk menentukan UKT harus ada pernyataan penghasilan.

Jadi mungkin nanti solusinya, kalau dia tidak mampu, harus ada surat-surat yang dilengkapi. Prosedur standar saja. Tidak mampu ya jangan mengisi.

Bagaimana mengidentifikasi mahasiswa yang tidak mampu?

Kalau itu pakai asumsi, kami percaya saja. Kejujuran saja untuk yang mengisi seperti itu. Kami gak detail.

Karena ini sifatnya sukarela, berarti lepas dari mampu atau tidak, ya terserah yang mau memberi?

Ya, saya hanya mengimbau saja. Kalau yang mampu ya berkontribusi, kan mengisi formulir saja.

Meski pada akhirnya mau atau tidak itu terserah?

Iya. Kan nanti di formulirnya itu, kalau dia ngisi Rp0,00, berarti kan dia kelihatan tidak mau berkontribusi. Tapi menurut saya kok tidak seperti itu, kami berasumsi sesuai dengan kemampuan saja. Kami berasumsi normal saja, bahwa dia yang mampu akan berkontribusi.

Apakah SPI akan mempengaruhi UKT, misalnya membayar SPI terus UKT semakin turun?

Beda. Peruntukkannya beda. SPI itu untuk membangun sarana prasarana gedung, laboratorium. Sementara UKT untuk operasional PTN. Sehingga, terserah masyarakat mau berkontribusi lewat jalur mandiri. Tapi kalau UKT kan jelas, golongan berapa.[]

Editor: Danang S

Check Also

Wakil Dekan III FIS Sebut Spanduk Solidaritas Tidak Berizin & Provokatif

Muhammad Nur Rokhman, Wakil Dekan (WD) III Fakultas Ilmu Sosial (FIS) pada Senin sore (11/12), …