Home » Opini » Menunggu Kejutan Maroko di Piala Dunia 2018

Menunggu Kejutan Maroko di Piala Dunia 2018

Sunardi/EKSPRESI

Pada 1998, Henri Michel berhasil memboyong timnas Maroko untuk berlaga di Piala Dunia. Piala Dunia 1998 kala itu digelar di Perancis, tanah kelahiran Michel. Singa Atlas—begitu julukan untuk Maroko yang tergabung dalam grup A bersama Brazil, Skotlandia dan Norwegia. Pada laga perdana, Maroko berhadapan dengan timnas Norwegia yang menghasilkan skor imbang 2-2. Disaat bersamaan timnas Brazil berhasil menang tipis atas timnas Skotlandia.

Enam hari berselang, Maroko langsung berhadapan dengan Brazil yang saat itu diperkuat pemain bintangnya seperti Ronaldo, Roberto Carlos, Leonardo hingga Cafu. Maroko dibuat tak berdaya selama 90 menit. Brazil berhasil mencukur Maroko tiga gol tanpa balas.

Asa Maroko untuk lolos babak 16 besar masih terbuka. Pasalnya, Norwegia dan Skotlandia bermain imbang. Mau tak mau Mustapha Hadji dkk. harus memenangi laga terakhir melawan Skotlandia dan berharap Norwegia tumbang di tangan Brazil.

Pasukan Singa Atlas terlecut. Mereka berhasil menang telak atas Skotlandia 3-0. Tak lama berselang Brazil yang diprediksi  tak akan menemui kesulitan saat menghadapi Norwegia justru sebaliknya. Norwega berhasil mempecundangi Brazil 1-2. Dengan demikian, Norwegia berhak menemani Brasil ke babak selanjutnya. Maroko pun harus melepas ambisi mereka. Perjalanan mereka terhenti di babak penyisihan grup.

Piala Dunia 1998 menjadi kompetisi terakhir bagi Maroko. Kini setelah 20 tahun, Maroko akhirnya kembali hadir di kancah turnamen sepak bola termegah. Kembalinya Maroko ke Piala Dunia 2018 di Rusia disambut antusias oleh pemain serta pendukung mereka. Kepastian tersebut didapat setelah Maroko merebut satu tiket dengan menundukkan Pantai Gading 2-0 pada kualifikasi Piala Dunia 2018 Zona Afrika Grup C. Para Pendukung Maroko lantas tumpah ruah di jalanan Rabat. Mereka melakukan konvoi, merayakan keberhasilan yang sudah lama dinanti.

***

Herve Renard, sang pelatih akan memimpin pasukannya menuju Rusia. Renard bukanlah sosok yang asing di persepakbolaan Afrika. Sebelum membesut Maroko, Renard pernah menjadi pelatih Zambia dan Pantai Gading. Prestasi yang ia toreh pun tak bisa dianggap remeh. Renard pernah membawa Zambia menjuarai Piala Afrika 2012 dan Pantai Gading pada 2015. Hal tersebut menandaskan Renard sebagai pelatih pertama yang mampu menjuarai Piala Afrika di dua negara berbeda.

Reputasi Renard setidaknya menjadi bahan pertimbangan bagi lawan Maroko di Piala Dunia. Racikan strategi Renard diharapkan ampuh meredam setiap lawan. Di babak penyisihan, Maroko bahkan tak pernah kebobolan. Maroko mampu melangkahi Gabon, Pantai Gading dan Mali untuk memastikan satu tiket ke Rusia.

Mengandalkan pemain dari klub Eropa

Keperkasaan Maroko di babak penyisihan bakal diuji di Grup B. Maroko tergabung dalam grup neraka bersama Spanyol, Portugal dan Iran. Langkah menuju babak selanjutnya jelas terasa berat.

Ramuan taktik Renard bakal benar-benar diuji saat menghadapi raksasa Eropa; Spanyol dan Portugal. Praktis, Renard harus memutar otak. Beruntung, dalam skuat Maroko terdapat nama-nama pemain yang berlaga di liga top Eropa. Di lini belakang Maroko akan mengandalkan Medhi Benatia—pilar Juventus ini bakal jatuh bangun mengawal pertahanan Maroko. Sebagai pemain yang bermain regular di Juventus, Banatia diharapkan mampu menularkan pengalamannya. Ia bakal ditandemkan dengan Romain Saiss, pemain Wolverhampton Wonderers.

Selain Benatia, ada Achraf Hakimi yang bermain untuk Real Madrid. Walaupun tergolong masih muda, Hakimi kerap dipercaya Zidane untuk menggantikan posisi Carvajal di sisi kanan pertahanan Real Madrid. Hakimi memang sering duduk dibangku cadangan, ketika mendapat kesempatan bermain Hakimi tak menyiakannya. Bahkan ia rajin menyisir pertahanan lawan serta mencetak gol.

Sedang sisi kiri bakal diisi bek sayap berpengalaman Nabil Dirar (Fenerbahce). Sebelum membela Fenerbahce, Nabil sempat membela AS Monaco. Ia memainkan 122 laga dan mencetak 12 gol.

Di lini tengah Hakim Ziyech menjadi andalan Maroko. Pemain yang membela Ajax Amsterdam tersebut tampil impresif di musim ini. Bersama Ajax ia manyumbang 13 asis dan menciptakan sembilan gol. Ziyech digadang-gadang menjadi menyuplai bola ke jantung pertahanan lawan.

Untuk urusan mencetak gol Maroko akan bertumpu pada Khalid Boutaib. Khalid bermain cemerlang bersama Maroko dan berhasil mencetak enam gol pada fase penyisihan. Ia juga menjadi tumpuan di klubnya. Bermain untuk Yeni Malatyaspor di Turkish Super Lig—dalam 31 laga yang dilakoni Khalid berhasil menceploskan 12 gol.

Dalam formasi 4-2-3-1, Khalid akan menjadi ujung tombak untuk membongkar pertahanan lawan. Ia bakal didukung tiga gelandang eksplosif Ziyech, Faycal Fajr (Getafe) dan Nordin Amrabat (Watford).

Kendati demikian, dalam laga terakhir menghadapi Pantai Gading Renard menggunakan formasi 4-3-3 dengan mendorong Amrabat dan Ziyech ke depan. Strategi tersebut cukup ampuh. Maroko mampu menyulitkan Pantai Gading di kandang mereka sendiri.

Kedua formasi tersebut diterapkan Renard di babak penyisihan. Keduanya terbukti efektif dan berbuah keberhasilan. Kerja keras Maroko selama ini patut dipantau ketika mereka menghadapi rakasasa Eropa. Tentu saja Maroko tak ingin angkat koper lebih cepat. Segala upaya bakal dikerahkan anak asuhan Renard. Aksi-aksi dari skuat Singa Atlas tersebut patut ditunggu.

M. S Fitriansyah

Editor: Danang S