Home » Resensi » Buku » Sastra Bicara Ekofeminisme

Sastra Bicara Ekofeminisme

Judul: Ekofeminisme: Kritik Sastra Berwawasan Ekologis dan Feminis

Penulis: Wiyatmi, Maman Suryaman, Esti Swatikasari

Penerbit: Cantrik Pustaka

Tahun terbit: 2017

Jumlah halaman: xiv+154 hlmn

Ekofeminisme terbilang masih baru dalam kajian wacana saat ini. Ekofeminisme mulai dikenal sejak Francoise d’Eaubonne memperkenalkan bukunya, Le Feminisme ou La Mort pada 1974.  Sejak itu, kajian ini booming di kalangan pergerakan maupun akademik. Salah satu pergerakan ekofeminisme ada di India. Gerakan yang dipelopori oleh Vandana Shiva itu menentang kuasa patriarki dalam mengeksploitasi alam.

Di Indonesia sendiri kita mendengar dan mengenal gerakan Sedulur Sikep di Kendeng, yang menentang  PT. Semen Indonesia melakukan penambangan di Pegunungan Kendeng. Gunarti, tokoh perempuan Sedulur Sikep dari kalangan petani, lantang menolak  penambangan itu. Selain Gunarti, ada Yu Patmi yang harus kehilangan nyawa setelah melakukan aksi pasung semen di kaki untuk menolak penambangan. Komunitas adat Sedulur Sikep sangat memegang erat prinsip  kelestarian alam. Mereka berpandangan bahwa bumi seperti ibu  yang memberikan kita kehidupan.

Dalam kajian ekofeminisme, yang ingin diungkap adalah hubungan segala bentuk penindasan manusia, terkhusus perempuan dan alam. Secara kultural, kajian ini mengaitkan antara perempuan dengan alam. Terdapat keterhubungan simbolis, linguistik, dan konseptual antara perempuan dengan ruang ekologisnya. Ekofeminisme mengungkap bahwa penindasan perempuan dan kerusakan ekologis terjadi akibat kuasa patriaki.

Di Indonesia, kajian ekofeminis masuk tahun 199o-an melalui ranah akademik. Dibuka lewat karya Ann Brooks yang berjudul Postfeminism: Feminism, Cultural Theory, and Cultural Forms pada 1997. Tulisan tersebut berkontribusi terhadap pemahaman feminisme di Indonesia. Kemudian ekofeminisme merembes ke dunia sastra lewat gerakan “sastra hijau” yang digagas komunitas Rayakultura. Menurutnya, kehadiran sastra hijau dapat berperan menyelamatkan eksistensi bumi.

Buku Ekofeminisme: Kritik Sastra Berwawasan Ekologis dan Feminisme ini cukup banyak mengulas karya sastra yang menyoroti isu-isu ekologis. Bahasan dalam buku ini diambil dari sejumlah novelis yang menuliskan karya sastra tentang fenomena krisis alam, yang langsung atau tidak langsung berdampak pada eksistensi kaum perempuan. Melalui suara tokoh maupun pencerita (narator), sastrawan mencoba mendekonstruksikan kuasa patriarki yang menyebabkan bencana dan kerusakan alam (hal. 24).

Buku ini bukan untuk pegangan para awak gerakan yang ingin memperdalam teorinya tentang sastra feminisme. Tapi, buku ini dapat menjadi pegangan mahasiswa yang ingin mempelajari kajian ekofeminisme dalam sastra. Naning Pranoto, MA., di halaman sampul buku, mengutarakan buku ini sebagai bahan ajar untuk mengedukasi mahasiswa agar peduli terhadap lingkungan.

Di era perkembangan industri saat ini, begitu masif pembukaan lahan untuk keperluan industri. Hutan dibabat habis, pengalihfungsian lahan dari pertanian menjadi non-pertanian. Dampaknya,  lingkungan menjadi rusak dan ruang hidup manusia semakin sempit. Tak lepas dari itu, perempuan dan alam dijadikan sebagai objek penindasan yang didominasi dan dieksploitasi.

Dekonstruksi Wacana Gender

Melalui buku ini para penulis ingin memberitahukan tentang wacana dekonstruksi gender dalam bidang sastra. Bahan kajian diambil dari karya novelis Indonesia yang terbit pada tahun 1920-2015, yang terindikasi membicarakan kuasa patriarki atas alam, lingkungan hidup, dan perempuan.

Sebab buku ini khususnya diperuntukkan bagi kalangan akademis, maka didesain seilmiah mungkin untuk bisa dijadikan sumber referensi. Agar tidak menghilangkan unsur ilmiahnya, para penulis menggunakan metode penelitian deskriptif-kualitatif. Penelitian ini mempelajari benda-benda dalam konteks alamiahnya dan berupaya untuk memahaminya atau menafsirkan maknanya.

Buku ini mengeksplorasi karya-karya sastra yang membahas ekologi. Salah satu yang menjadi bahan analisis adalah novel Bilangan Fu (Ayu Utami), Lemah Tanjung (Ratna Indraswari), dan Partikel (Dewi Lestari).

Dekonstruksi wacana gender  pada novel Bilangan Fu mengenai keterkaitannya dengan kerusakan lingkungan. Menurut para penulis, perlakuan tokoh Sandi Yuda dan kawan-kawannya yang tidak memahami etika panjat tebing menggunakan alat-alat seperti bor, pasak, dan paku melukai tebing di pegunungan kapur di Sewugunung. Akibatnya terjadi kehancuran tebing yang menyebabkan kelongsoran. Lingkungan sekitarnya ikut rusak, mengganggu keseimbangan alam.

Melalui tokoh Parang Jati di novel Bilangan Fu, ia menawarkan panjat bersih, yaitu panjat tebing tanpa menggunakan alat yang merusak dan melukai alam.  Ayu Utami ingin mendekonstruksikan konsep tebing. Tebing tidak hanya bersimbol lingga tapi salah satu rahim ibu pertiwi yang berupa simbol garba.

Dalam novel Lemah Tanjung, unsur patriarki atas alam, lingkungan, dan perempuan ditunjukkan oleh perlawan tokoh Ibu Indri yang menolak pengalihfungsian lahan hijau milik petani. Lahan tersebut akan diubah menjadi kawasan elit di kota Malang. Di sini Ibu Indri berada di garda terdepan yang menolak pembangunan tersebut. Ia yang dibantu aktivis lingkungan harus melawan kuasa patriarki berupa pemilik modal dan pemerintah yang memberikan ijin pembangunan.

Selanjutnya, di novel Partikel karya Dewi Lestari, penulis mengundang pembaca untuk kritis terhadap isu-isu ekologis, khususnya kerusakan alam. Zarah, si tokoh utama dalam novel tersebut yang berprofesi sebagai fotografer alam liar, menyaksikan banyaknya kerusakan lingkungan akibat ulah manusia.  Salah satunya Sungai Sekonyer di Kalimantan yang tercemar limbah tambang emas. Dengan membangun citra perempuan dalam penyelamatan alam, novel ini membangun argumen bahwa perempuan dan alam saling bersahabat.

Untuk ukuran akademik, buku ini cukup kritis menampilkan karya sastra yang berkaitan dengan ekofeminis. Para penulis cukup lihai memaparkan analisisnya, sehingga buku ini sangat mudah dipahami untuk kalangan mahasiswa.

Buku ini sangat membantu dalam mengedukasi mahasiswa, agar ikut andil dalam merawat dan mencintai lingkungan tanpa melupakan posisi kaum perempuan. Karya sastra menjadi salah satu cara kampanye melawan kerusakan alam. Prinsipnya membangun kesadaran kepada mahasiswa mengenai problematika krisis lingkungan  yang berdampak pada perempuan. Alam, lingkungan, dan perempuan adalah tiga hal yang tidak bisa dipisahkan. Rusaknya alam dan lingkungan akan mempengaruhi kerja-kerja domestik perempuan.

Fahrudin

Editor: Ikhsan Abdul Hakim

Check Also

Shinta Maharani: Penting Menulis Tentang Gender di Media Masa

Ekspresionline.com – “Penting bagi wartawan baik pers mahasiswa atau kaum intelektual seperti mahasiswa menulis tentang …