Home » Opini » Essam El-Hadary, Menemukan Kebanggaannya Melalui Mimpi

Essam El-Hadary, Menemukan Kebanggaannya Melalui Mimpi

Dua puluh lima tahun bukan waktu yang singkat sebagai sebuah penantian. Dua puluh lima tahun justru usia emas bagi pesepakbola. Di usia itu, Thomas Muller menggapai sukses dengan membawa Jerman juara Piala Dunia 2014. Di usia itu, Ronaldo dan Messi sudah mendominasi persaingan memperebutkan gelar pemain terbaik dunia.

Akan tetapi, bagi penjaga gawang tim nasional Mesir, dua puluh lima tahun adalah waktu yang ia habiskan untuk dapat tampil pertama kalinya di Piala Dunia. Namanya Essam El-Hadary. “Saya sangat senang bermain di Piala Dunia, dan itu adalah pesan untuk sema pemain dan orang lain di seluruh dunia, bahwa Anda harus percaya pada impian Anda dan berjuang untuk mewujudkannya,” ungkapnya. Debutnya di Piala Dunia kali ini terjadi setelah umurnya hampir mencapai kepala lima.

Bukan sesuatu yang ganjil bila tampil di Piala Dunia adalah prestasi terbaik El-Hadary. Ada rentang yang panjang. Ada jarak yang menghukum Mesir tidak berpartisipasi dalam ajang tertinggi sepak bola itu. Hal tersebut sedikitnya memotong satu generasi sepak bola Mesir.

Sulit membayangkan kampiun Piala Afrika tiga edisi berturut-turut (2006, 2008 dan 2010) bisa melewatkan enam ajang Piala Dunia: 1994, 1998, 2002, 2006, 2010, dan 2014.

Padahal, jika boleh untuk menimbang, skuat Mesir saat hattrick juara Piala Afrika tak buruk-buruk amat. Mesir mempunyai penyerang sekaliber Mohamed Zidane. Gelandang seulet Mohamed Aboutrika. Bek setangguh Sayed Moawad. Tak lupa, penjaga gawang berjuluk ‘Dam Tinggi’, Essam El-Hadary. Rata-rata nama yang disebut tadi melakukan debut internasionalnya setelah 1990, tahun terakhir Mesir ikut dalam Piala Dunia.

El-Hadary, 45 tahun, kini menjadi satu-satunya pemain dari periode tersebut yang masih tersisa. Meskipun sesungguhnya ia adalah simbol dari generasi yang telah selesai, harapannya berseragam timnas Mesir di Piala Dunia seolah sudah terlalu matang untuk diperam lagi.

Di Rusia, tepatnya pada 14 Juni besok, El Hadary akan menjadi pemain tertua sepanjang sejarah Piala Dunia. Ia memecahkan rekor milik Faryd Mondragon, kiper timnas Kolombia, yang pada gelaran Piala Dunia terakhir, berusia 43 tahun.

Menolak Pensiun

Banyak orang bertanya kepada El-Hadary apakah ia lelah setelah berkarier selama 25 tahun. “Tidak!” jawabnya. Baginya, tetap berkecimpung di sepak bola adalah suatu rahmat. Selama Tuhan masih menginginkan, demikian katanya, ia tetap bertahan. Selama Tuhan memberikan kesempatan, ia masih melanjutkan.

El-Hadary tahu betul akan kondisi dirinya sendiri. Kematangannya tak bisa membuat orang sembarangan untuk memintanya gantung sepatu. “Tak ada satu pun di dunia ini dapat mengatakan, ‘berhentilah El-Hadary, lakukan sesuatu yang lain, ambillah masa pensiunmu’. Itu aku yang memutuskan,” ujarnya.

Sejak memulai karirnya sebagai pesepakbola profesional pada 1993, El-Hadary telah melalui banyak pertandingan di berbagai ajang. Mulai dari kompetisi level klub seperti Liga Mesir dan Liga Champions Afrika sampai kompetisi level tim nasional seperti Piala Afrika. Didier Drogba bahkan menganggap jika El-Hadary adalah rivalnya yang sukar ditaklukkan—berkali-kali tendangan penaltinya tak dapat menembus gawang El-Hadary.

Serentetan pengalaman itulah yang menunjukkan taraf permainannya. Di samping itu, El-Hadary juga rutin melakukan relaksasi, yoga, sauna, mandi es atau tidur siang. Aktivitas ini mulai dilakukannya sejak menginjak umur 30 tahun demi menjaga kebugarannya.

Karenanya, ia juga berhak sedikit pongah, “45 tahun hanyalah angka,” jelasnya, seperti dilansir dari L’Equipe, Maret lalu. “Ketika Anda melihat saya di lapangan, Anda tidak tahu usia saya. Satu-satunya hal yang harus dipahami adalah saya adalah penjaga gawang terbaik di Mesir.”

***

Tekad palang pintu Al-Taawon FC itu untuk menjadi pesepakbola sudah tertanam sewaktu masih anak-anak. Ia berkomitmen meraih cita-citanya sebagai penjaga gawang. Namun, ayahnya tak menginginkan dirinya menjadi pesepakbola. Sepak bola, menurut ayahnya, tak bisa memberikan kehidupan. Ayahnya bahkan sampai membakar perlengkapan sepak bolanya di depannya.

Maklum, sebagaimana orang tua mengusahakan yang terbaik untuk putranya, ayahnya hanya menginginkan El-Hadary bekerja keras di sekolah atau membuat furnitur. Opsi terakhir sesuai dengan profesi ayahnya sebagai pengrajin.

Akan tetapi, tak ada yang dapat memaksanya untuk beralih dari dunia sepak bola, bahkan orang tuanya sendiri. Dunianya adalah sepak bola dengan segala persoalannya.

Untuk memenuhi hasratnya bermain bola, ia harus melakukannya secara rahasia: berpura-pura sedang belajar di lapangan, padahal sesungguhnya ia bermain bola. Kepercayaan orang tuanya bahwa dirinya sedang belajar ia jaga dengan selalu membawa buku-buku tiap izin keluar.

Pada usia 17 tahun, klub divisi dua Mesir, Damietta, meminang jasanya. Butuh setidaknya satu musim bagi El-Hadary di akademi Damietta untuk berani mengatakan pada ayahnya perihal karier barunya. Kendati sepak bola adalah keputusannya yang menyimpang dari keinginan keluarga, nyatanya ia hidup dari situ, dan menghabiskan 12 tahun di Al-Ahly.

Ketika akhirnya Mesir meraih tiket Piala Dunia, ingatan El-Hadary mengembalikannya pada sosok ayahnya. Ayahnya pernah berkata, mimpinya adalah menonton El-Hadary bermain di Piala Dunia. Ya, ayah yang sama yang dulu pernah membakar perlengkapan sepak bola di depannya. Kini, El-Hadary telah mewujudkan impian itu, meskipun sedikit terlambat, karena ayahnya sudah meninggal dunia.

El-Hadary memang bukanlah nama yang populer jika dibandingkan dengan Mohamed Salah, pemain terbaik Liga Inggris 2017/2018 dan ikon kebangkitan sepak bola Mesir. El-Hadary bahkan bisa dikategorikan sebagai generasi “penerus tradisi” dalam teori gerak sejarah Ibnu Khladun, di tengah generasi “berpaling dari tradisi” yang diwakili Mo Salah dan angkatannya.

Kendati demikian, El-Hadary setidaknya telah membantu rakyat Mesir kembali mempunyai rasa nasionalisme mereka di tengah pergolakan politik dan krisis ekonomi. Percayalah, suatu impian pasti akan terwujud, meskipun harus sabar menanti, seperti dilakukan El-Hadary.

Ahmad Yasin

Editor: M.S. Fitriansyah