Home » Opini » Menanti Ekranisasi yang Sebaik-baiknya, Sehormat-hormatnya
Ilustrasi oleh Sunardi/EKSPRESI.

Menanti Ekranisasi yang Sebaik-baiknya, Sehormat-hormatnya

Ekranisasi atau pelayarputihan adalah proses pengubahan bentuk suatu karya (baik sastra atau bukan) menjadi film. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Pamusuk Erneste pada 1977 dalam skripsinya. Berasal dari bahasa Prancis, ?cran berarti ‘layar’.

Fenomena ekranisasi di Indonesia bisa dilacak bahkan sejak zaman prakemerdekaan. Tercatat pada 1927, George Krugers membikin film Eulis Atjih berdasarkan novel berbahasa Sunda berjudul sama, sedangkan salah satu hasil ekranisasi “novel Indonesia” pertama adalah Siti Noerbaja pada 1941.

Dalam sejarah panjangnya, ekranisasi tentu tidak lepas dari berbagai fenomena dan peristiwa yang mewarnai sejarah Indonesia. Perkembangan film beda dengan sastra yang kecenderungan penciptaannya turut dipengaruhi perkembangan pemikiran dan fenomena kultural. Film, sebagai hasil ekranisasi, lebih dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial yang dominan, tekanan politik dari penguasa, dan tentu saja: kans meraup untung sebesar-besarnya.

Tentu kita patut kecewa pada pembuat film terkait kecenderungan mencari uang yang lebih diprioritaskan daripada pengejaran akan pencapaian artistik yang esensial. Akan tetapi, film dibuat dengan modal besar dan kru yang tidak sedikit. Jika memakai logika pasar, lumrah saja jika para pemodal film lebih memperhatikan potensi keuntungan daripada seni film itu sendiri.

Di Indonesia sendiri, karya fiksi yang sering difilmkan adalah novel-novel populer yang laris di pasaran, sehingga potensi keuntungan lebih besar, dan kebanyakan memang demikian. Kita bisa meniliknya dari Laskar Pelangi atau 5 cm. yang sukses membikin orang-orang berbondong-bondong datang ke bioskop dan entah berapa miliar yang masuk ke kantong produser beserta konco-konconya. Salah satu yang fenomenal adalah Ayat Ayat Cinta, yang selain novelnya berhasil memantik tren fiksi pop-religi, filmnya pun mendatangkan atensi hebat dari publik hingga membuat SBY menangis.

Tren ekranisasi yang demikian tidak bisa dilepaskan dari langgam baca kapitalistik yang lekat di masyarakat. Konsumsi bacaan seperti novel-novel pop memang lebih laku dari “novel sastra” dan tentu saja lebih menguntungkan untuk difilmkan.

Setidaknya ada beberapa jenis fiksi yang paling diminati masyarakat kita: fiksi motivasi, fiksi religi, dan cinta-cintaan di luar negeri. Orang-orang senang mendengar narasi melangit yang penuh bunga dan untaian kata mutiara yang membawa orang pada angan-angan tentang dunia yang baik-baik saja. Jenis fiksi religi membikin orang berangan tentang ibadah tanpa henti dalam kehidupan syari yang kalau mati tiba-tiba masuk surga. Sedangkan jenis fiksi cinta-cintaan di luar negeri adalah refleksi mental inlander kita yang selalu gumunan dengan “Dunia Pertama”.

Tentu tidak ada salahnya menulis dan memfilmkan fiksi populer. Namun, dominasinya terhadap produksi-distribusi buku dan film terlalu masif dan tidak sehat. Kenapa tidak sehat? Sebab konsumsi karya pop kurang mengasah kepekaan atas manusia dan dunianya. Ia tidak membangkitkan daya kritis audiens. Kisah-kisah itu hanya melelapkan masyarakat pada buaian sebuah rumah singgah yang kelihatan megah, tetapi sebenarnya rapuh dan hanya replika amatiran.

Seringkali—untuk menghindari negasi total—fiksi populer tidak mengolah watak tokohnya dengan baik. Kompleksitas manusia tidak tercermin di sana. Padahal kompleksitas watak dan perilaku manusia berimplikasi pada segala macam persoalan yang dihadapi. Manusia pulalah yang membuat dunia ini tidak baik-baik saja, membuat dunia yang—meminjam ucapan Amal Hamzah—penuh tipu-cedera.

Meski demikian, novel-novel yang dikategorikan “sastra kanon” juga mendapat tempat dalam jagad ekranisasi. Sebut saja Atheis yang difilmkan Sjuman Djaja, novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk dan Di Bawah Lindungan Ka’bah karangan Hamka, juga film Sang Penari yang merupakan adaptasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

Untuk membandingkan kuantitas film ekranisasi “sastra kanon” dengan fiksi populer, tentu amatlah timpang hasilnya. Sebab banyak karya sastra penting semacam Senja di Jakarta, Para Priyayi, atau Burung-burung Manyar yang sampai kini belum difilmkan.

Secara kualitas pun, film hasil ekranisasi seringkali mengecewakan. Untuk mengharapkan film yang sama dengan novel asalinya memang tidaklah mungkin. Pemotongan cerita dan tambah-kurang tokoh adalah keniscayaan dalam ekranisasi. Hasil ekranisasi yang baik, menurut saya, adalah film yang sesuai dengan novel aslinya. Ekranisasi yang mengecewakan adalah ketika suatu film mengaburkan “ruh novel”, apalagi sampai mengkhianati. Kita tentu belum lupa betapa mengecawakan film Sang Penari, yang mana Ahmad Tohari sendiri kecewa menontonnya.

Sebagai pembaca, tidaklah mungkin mengharap film yang seautentik novel asli. Sutradara film sendiri, dalam ekranisasi, juga tidak berusaha memfilmkan cerita dengan mentah-mentah. Kalau menurut Sjuman Djaja, ekranisasi film bisa terjadi ketika suatu novel “hidup dan berbicara” dengan sutradara, menggoda “kelenjar artistik’-nya.

Persoalannya adalah, sebaik apa daya tangkap dan daya olah sutradara dalam pembacaannya atas sebuah novel? Mungkin masih jarang ditemui film Indonesia yang sesuai dan berkualitas setara dengan novel sumbernya, apalagi novel-novel penting.

Belakangan ini, rencana ekranisasi Bumi Manusia garapan Hanung Bramantyo menuai kontroversi. Banyak pihak tidak setuju Iqbaal Ramadhan memerankan Minke dalam film produksi Falcon Pictures itu. Ada indikasi Hanung bakal memperlakukan Bumi Manusia layaknya film-film pop yang pernah ia garap. Dalam wawancaranya dengan CNN Indonesia pun, Hanung menyatakan bahwa inti Bumi Manusia adalah percintaan remaja, kisahnya lebih ringan dari Ayat-ayat Cinta yang menceritakan hubungan suami-istri. Dengan komentar demikian, diprediksi bahwa garapan Hanung bakal lebih mengecewakan dari Sang Penari.

Dalam ekranisasi, kemampuan interpretasi sutradara atas novel memang sangat penting. Sutradara harus mampu memahami, mengkritik, kemudian menerjemahkan isi novel itu secara maksimal sehingga audiens benar-benar bisa “menonton novel”, bukan melihat sebuah degradasi cerita. Namun, jika melihat kancah perfilman Indonesia dewasa ini, sulit mengharapkan hal demikian.

Dewasa ini memang ada beberapa film Indonesia yang terlihat serius sebagai karya artistik. Silakan tonton Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak atau Sekala Niskala yang rilis 2017 lalu. Namun, film-film itu bukanlah produksi perusahaan film arus utama seperti Falcon Pictures.

Di Indonesia, sia-sia saja mengharapkan karya artistik dari perusahaan film arus utama. Sebab jika menilik sinematografinya, perusahaan semacam Falcon cenderung menghasilkan film berorientasi pasar.

Falcon Pictures maupun Hanung tentu tidak bisa disalahkan. Orang bebas membuat film, apalagi jika punya modal. Jika mereka memperlakukan film sekadar barang jualan, itu pun tidak bisa disalahkan. Meski secara tidak langsung mereka menanggung beban moral untuk membuat film bagus.

Dalam perfilman Indonesia, orientasi pasar dan produsen arus utama memang tidak tergoyahkan. Kebanyakan orang film yang lebih mengejar kualitas artistik, hidup dalam jalur independen. Produsen arus utama, yang lebih mementingkan pasar, memang lebih kuat dalam ongkos produksi maupun akses distribusi, sehingga film-film produksi mereka lebih dikenal publik dan lebih laku. Seperti dalam cerita Bumi Manusia sendiri, pada akhirnya memang yang kuat jadi pemenang.

Mungkin dalam waktu dekat ini, muskil mengharapakan Bumi Manusia atau Burung-Burung Manyar dalam bentuk audiovisual, dengan kualitas setara. Masih jauh bagi kita, untuk “menonton novel” dalam bentuk audiovisual, dengan kualitas semacam The Godfather, El Secreto de sus Ojos, atau No Country For Old Men. Sulit mengharapkan karya yang merangkum kompleksitas manusia beserta dunianya dalam bentuk audiovisual. Dengan kondisi perfilman seperti ini, kita hanya bisa menanti dengan—meminjam ucapan Nyai Ontosoroh—sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Ikhsan Abdul Hakim
Editor: Danang S