Di Balik Gembosnya Aksi #TresnaUNY, Bagaimana Demokrasi di Kampus Kita?

Demonstrasi mahasiswa di selasar Rektorat UNY, Senin (25/11). Foto oleh Reza Egis/EKSPRESI.

Ekspresionline–Meskipun berhasil menyegel gedung Rektorat UNY selama beberapa jam, Aliansi Mahasiswa Bergerak (AMB) tak mampu membuat birokrat menandatangani tuntutan mereka. Demonstrasi pada Senin (25/11/2019) tidak menuai hasil dan hanya ditutup dengan pernyataan janji.

Agung Wahyu Putra, koordinator umum AMB sekaligus ketua BEM KM 2019 memimpin pembacaan janji tersebut. AMB berkomitmen akan kembali menggelar aksi dengan massa yang lebih besar pada Jumat (29/11/2019) di minggu itu juga.

Tiga hari setelahnya, sekitar jam sembilan malam, konsolidasi terbuka untuk aksi hari Jumat pun digelar. Hanya segelintir mahasiswa yang hadir di konsolidasi tersebut, jumlahnya tidak lebih dari dua puluh. Berbanding terbalik dengan konsolidasi pertama yang dihadiri sekitar lima puluhan mahasiswa.

Di timur Puskom, Agung ditemani Jodi Rohmanto Wakil Ketua BEM KM 2019 memimpin konsolidasi tersebut. Menurut pembacaan AMB, massa aksi kini telah turun semangatnya dan merasa ketakutan. Hal tersebut disebabkan adanya intervensi dari birokrat kampus.

Ada pelarangan baik secara langsung maupun tidak, hingga ancaman yang dilakukan birokrat kepada mahasiswa, jika mahasiswa sampai mengikuti aksi kedua pada Jumat.

Alhasil, AMB pun menyiasati aksinya dalam bentuk lain. Kendati tidak sesuai dengan janji pada pernyataan sikap di penghujung aksi pertama, AMB memutuskan melancarkan aksi di media sosial ketimbang kembali menyegel rektorat UNY. Dengan video, poster, dan infografik yang disebarkan oleh AMB di beberapa media sosial seperti WhatsApp, Instagram, dan Twitter, mereka menyuarakan tuntutan kepada birokrat UNY.

***

Sekitar jam sebelas malam, seusai pembuatan video pernyataan sikap, konsolidasi pun berakhir. Mahasiswa mulai berpamitan satu sama lain. Satu persatu mahasiswa mulai menaiki sepeda motornya. Ada yang sendiri, ada juga yang berboncengan.

Tiba-tiba salah seorang satpam UNY datang, menghampiri Agung yang hendak pulang. Agung diajak ke depan LPPMP. Di sana sudah ada beberapa satpam lainnya yang menunggu. Mahasiswa lainnya yang belum beranjak dari tempat konsolidasi melihat hal tersebut, sontak mematikan mesin motornya dan ikut menemani Agung.

Di depan LPPMP, satpam yang tadi menghampiri Agung mengatakan, “Mas Agung, besok pastikan jangan ada aksi kembali!”

“Tenang, Pak, besok kita aksinya hanya melalui media. Tidak di depan rektorat,” jawab Agung.

Menurut Agung, satpam tersebut bernama Widyo yang ditugaskan oleh ketua keamanan UNY, Guntur.

Sekitar pukul dua siang, sebelum berbincang dengan satpam di depan LPPMP seusai konsolidasi, Agung memang telah menerima pesan dari Guntur melalui WhatsApp. Pesan tersebut berisi imbauan untuk tidak melakukan aksi pada Jumat.

Lalu, sekitar pukul enam sore, Guntur kembali mengirimkan pesan kepada Agung. Kali ini isinya berupa ancaman, “Dik (Agung), kalau hari Jumat tetap demo, maka kampus akan mengambil tindakan tegas!” isi pesan Guntur kepada Agung.

Ketika ditanyakan oleh Agung, apa maksud dari pesan tersebut, Guntur tidak memberikan jawaban. Guntur malah menanyakan di mana posisi Agung saat itu berada. Agung memberikan jawaban, bahwa ia sedang berada di sekretariat BEM KM UNY di SC.

Seusai bertemu dengan satpam di depan LPPMP setelah konsolidasi, Agung kembali membuka ponselnya. Ada pesan WhatsApp masuk dari Sujarwo, Dekan FIP yang baru saja dilantik pada awal November lalu. Isinya tidak jauh berbeda dengan pesan Guntur kepada Agung.

“Pastikan Jumat dan Sabtu tidak ada demo. Kalau sampai ada rencana demo, Agung, akan diambil tindakan tegas! Maturnuwun,” pesan Sujarwo kepada Agung.

Menanggapi pesan tersebut, Agung pun langsung menanyakan maksud Sujarwo. “Maksud tindakan tegas, Pak? Apakah ini bentuk ancaman tidak boleh melakukan demonstrasi?” tanya Agung kepada Sujarwo. Sama halnya dengan Guntur, Sujarwo pun tidak memberikan jawaban.

Senin (23/12), pukul 10.00, Sujarwo akhirnya bersedia diwawancarai oleh jurnalis Ekspresi. Setelah beberapa kali dihubungi oleh jurnalis Ekspresi sejak Selasa (3/12) lalu, ia selalu beralasan sibuk. Sujarwo mengiyakan bahwa ia telah mengirim pesan kepada Agung. Kata dia, tindakan tegas yang dimaksud berupa pengamanan yang lebih ketat dari pihak rektorat seperti penambahan personil keamanan.

Sementara itu, sejak pertama kali Ekspresi menghubungi Guntur pada Selasa (10/12), sampai tulisan ini terbit, ia tidak pernah menanggapi pesan permintaan wawancara dari Ekspresi.

***

Sore itu, Rabu (27/11) sekitar pukul empat, ketika Moh Barqi Tobroni sedang presentasi hasil magangnya di lantai enam kantor Semen Indonesia, Gresik, Jawa Timur, ada pesan WhatsApp masuk dari Yomas, ketua BEM FE UNY. Pesan tersebut berisi perintah Siswanto, Dekan FE kepada Barqi untuk segera pulang ke Jogja esok harinya.

Menurut Yomas, perintah tersebut mucul dikarenakan poster seruan konsolidasi aksi kedua di hari Jumat yang beredar di medsos pada Selasa malam. Poster tersebut dibuat sendiri oleh Barqi dan isinya hasil dari kesepakatan AMB.

Poster aksi #TresnaUNY yang jadi sebab pemanggilan Barqi/Dok. Istimewa

Yomas juga mengatakan, birokrat FE menganggap kalimat-kalimat dalam poster tersebut bersifat provokatif dan melecehkan rektor. Keesokan harinya, Kamis pukul sepuluh pagi, dekanat FE menggelar rapat tertutup untuk membahas permasalahan Barqi.

Mengetahui hal tersebut, Barqi enggan mengiyakan perintah Dekan FE yang baru dilantik itu. Bukan karena takut, tetapi karena kondisi keuangannya sedang minim. Selain itu, proses magangnya akan berakhir dua hari lagi.

Jumat ia sudah kelar magang, tetapi Kamisnya, ia malah diperintahkan pulang ke Jogja. Menurutnya, tindakan semacam itu dapat membuat buruk nama kampus di mata perusahaan yang menjalin kerja sama.

Dengan alasan tersebut, Barqi mencoba meminta kepada Yomas untuk pulang ke Jogja dan menemui Siswanto pada hari Senin saja, seusai magangnya selesai.

“Harus besok, kamu sudah di Jogja. Mboh kepiye carane,” jawaban Yomas atas permintaan Barqi.

Pukul lima sore, kegiatan magangnya di kantor Semen Indonesia di hari itu pun usai. Di dalam lift, ketika sedang turun dari lantai enam ke lantai satu ada panggilan masuk ke ponsel Barqi dari Isroah, Wakil Dekan III FE periode 2015-2019 yang baru purna tugas di akhir Oktober lalu. Barqi pun mengangkatnya.

Isroah menanyakan siapa yang membuat poster kontroversial tersebut. “Saya yang membuat, Bu. Atas nama Aliansi Mahasiswa Bergerak,” jawab Barqi atas pertanyaan Isroah.

Isroah kemudian meminta untuk menghapus poster tersebut. Ditambah, ia juga mengimbau untuk dibuatkan poster pembatalan aksi di hari Jumat nanti. Jika tidak, “Akan ada tindakan serius dari birokrasi kepada saya, begitu kata Bu WD 3 (Isroah),” jelas Barqi.

Barqi tidak bisa langsung menuruti permintaan Isroah tersebut secara sepihak. Menurutnya, permintaan Isroah harus didiskusikan terlebih dahulu dengan teman-teman AMB, karena itu bukan atas nama pribadi.

Sesampainya Barqi di indekosnya, seusai menjalankan ibadah salat magrib, ia langsung mencari tiket kereta Gresik-Jogja yang paling pagi. Ia pun mendapatkan dan memesan tiket kereta Sansaca. Kereta tersebut berangkat pukul 07.30 pagi, dengan harga Rp175.000.

Sebelum membelinya, Barqi hanya memiliki uang sebesar dua ratus ribu. Tidak ada yang lebih pagi daripada kereta Sansaca. Tidak ada pilihan lain bagi Barqi selain membelinya, karena ia memang ingin cepat ke Jogja untuk segera menyelesaikan perkara pemanggilannya oleh birokrat FE.

Uangnya pun tersisa Rp25.000. Ia memilih tidak makan malam itu, supaya sisa uangnya bisa ia gunakan di waktu perjalanan Gresik-Jogja esoknya.

Sehabis isya, sebelum membayarkan tiket keretanya, Barqi berinisiatif untuk menghubungi Siswanto secara personal melalui pesan WhatsApp. Ia menanyakan kepada Siswanto, apakah benar-benar harus besok sudah sampai di Jogja?

Ia juga meminta untuk diberikan waktu tambahan, supaya ia menyelesaikan magangnya terlebih dahulu yang kurang dua hari, baru sehabis itu ia pulang ke Jogja. Siapa tahu dekan menerima permintaannya, sehingga ia tidak harus mengorbankan uang dan waktu magangnya.

Setelah sekian menit, pesan Barqi pun dibalas oleh Siswanto. Menurut Barqi, Siswanto tidak mengabulkan permintaannya. Ia tetap harus pulang ke Jogja esoknya. Jam berapa pun sampai di Jogja, Siswanto meminta Barqi untuk segera menemuinya, bersama Kepala Jurusan Manajemen dan Wakil Dekan III yang baru maupun lama.

“Kata Pak Dekan, pertemuan tersebut untuk membahas permasalahanku dan sekaligus pemanggilan orang tua,” terang Barqi.

Mendapatkan ancaman pemanggilan orang tua, Barqi pun membulatkan tekadnya untuk pulang ke Jogja pada Kamis pagi. Ia bergegas membayar tiket kereta yang telah ia pesan di tempat pembayaran tiket kereta api terdekat dari indekosnya.

Ia tak mau orang tuanya mengetahui dan ikut campur dengan masalahnya saat itu. Menurutnya, ini adalah masalahnya dengan birokrat, tidak ada hubungannya dengan orang tua. Jadi, birokrat tak perlu membawa-bawa orang tua dalam permasalahan ini.

Pukul enam lewat tiga puluh, ia memacu motornya untuk ke stasiun Gresik. Ia sampai di stasiun pukul tujuh tepat. Sesuai jadwal, pukul tujuh lewat tiga puluh, kereta Sansaca berangkat dari stasiun Gresik ke Yogya, yang membawa serta Barqi di dalamnya.

Satu jam sebelum tengah hari, ketika Barqi sambil mengerjakan tugas magangnya di dalam kereta, ponsel Barqi bergetar. Ada pesan WhatsApp masuk dari Dekan FE. Pesan tersebut berisi bahwa permasalahan poster seruan konsolidasi yang dibuat Barqi, yang dianggap provokatif itu sudah selesai.

Menerima pesan tersebut, Barqi merasa kesal. “Terus kenapa aku harus ke kampus? Aku harus mengorbankan waktu magang dan uang. Ya, aku bela-belain datang ke Jogja karena ada ancaman pemanggilan orang tua itu,” terang Barqi.

Barqi tidak mau kepulangannya ke Jogja sia-sia. Sesuai jadwal, pukul satu siang kurang sepuluh menit, kereta Sansaca sampai di stasiun Tugu. Ia kemudian bergegas ke masjid untuk salat dzuhur, mencari tempat makan, dan menemui Siswanto.

Pukul dua siang lewat lima belas menit, Barqi pun bertemu Siswanto di ruang tunggu Gedung Baru IDB FE ditemani oleh Jodi dan Ratna Anisa, Biro Adminitrasi BEM KM 2019.

Di ruang tunggu itu, menurut Barqi, Siswanto mengatakan bahwa alasan pemanggilannya ini berangkat dari instruksi rektor. “Kata Pak Dekan, isi poster tersebut akan dibahas secara hukum. Karena itu menyerang personal,” terang Barqi.

Sementara itu, menurut Rektor UNY, Sutrisna Wibawa saat ditemui Ekspresi di kantornya, ia telah memaafkan semua mahasiswa yang tergabung dalam AMB, khususnya Barqi. “Ya, karena mahasiswa sudah bisa diajak komunikasi dan tidak jadi mengadakan aksi, ya saya maklumi dan telah saya maafkan,” jelas Sutrisna.

Seusai pertemuan tersebut, Barqi meminta Siswanto untuk membuat video klarifikasi soal pemanggilan dirinya. Dalam video berdurasi 43 detik tersebut Siswanto mengatakan bahwa permasalahan pemanggilan Barqi oleh dekanat FE telah usai. Siswanto tidak menjelaskan apa masalahnya, kenapa tiba-tiba selesai dan bagaimana cara menyelesaikannya.

Namun, Siswanto meminta maaf kepada seluruh mahasiswa, jika dibuat resah dan khawatir karena adanya pemanggilan Barqi oleh dekanat FE.

***

Pada mulanya adalah Damar, mahasiswa Teknik Mesin hendak orasi pada aksi Senin (25/10) di depan rektorat. Tetapi, tiba-tiba di tengah kerumunan, Muhammad Irhas Mahrus teman sejurusan dan seangkatan Damar lah yang dipanggil oleh panitia aksi untuk naik ke atas mobil komando dan menyampaikan pidatonya.

Nama Irhas sudah diteriakkan berkali-kali oleh massa aksi. Ia pun naik dan menyampaikan orasi yang belum pernah dipersiapkan sebelumnya.

Seusai aksi, sekitar pukul empat sore kurang tiga puluh menit, Irhas dipanggil oleh Aan Ardian, Kepala Prodi (Kaprodi) Teknik Mesin untuk datang ke ruangannya. Di dalam ruangan, menurut Irhas, Kaprodi menasehatinya dengan mengatakan bahwa aksi itu merupakan cara yang salah. Aksi tersebut bisa berdampak kepada buruknya reputasi jurusan dan merusak akreditasi.

“Pak Aan bilang, kalau dia sudah bersusah payah mengangkat reputasi dan akreditasi jurusan. Pak Aan juga bilang, kalau usahanya membangun Diploma Teknik Mesin akan sia-sia gara-gara aksi mahasiswa kemarin,” jelas Irhas.

Setelah tiga puluh menit dinasehati di dalam ruangan, Irhas pun dipersilahkan keluar. Ia kemudian berkumpul bersama mahasiswa Teknik Mesin yang siang tadi mengikuti aksi. Mereka berkumpul di sebuah ruang kelas di samping ruangan jurusan.

Sebelum memanggil Irhas, Aan dan jajaran dosen Teknik Mesin lainnya memang sudah mengajak mahasiswa untuk bertemu seusai aksi. Pertemuan tersebut berlangsung sekitar satu jam setengah, dari pukul empat sampai setengah enam sore.

Ahmad Aziz Nurohman, kerap dipanggil Aziz, mahasiswa jurusan Teknik Mesin angkatan 2018, yang juga menjadi massa aksi, mengikuti pertemuan sore hari itu. Aziz melihat bahwa mahasiswa yang datang semuanya diam, tidak ada yang berani mengeluarkan pendapat, begitu pun dengannya. Perbincangan di dalamnya hanya didominasi oleh dosen, Aan dan Edi Purnomo.

Apa yang dibicarakan dosen pada pertemuan tersebut tidak jauh berbeda seperti apa yang disampaikan Aan kepada Irhas di ruangannya. “Pak Aan seperti ingin menangis pas menasehati mahasiswa di pertemuan itu. Ia bilang, kalau tak perlu ada aksi, karena nama baik jurusan bisa hancur,” jelas Aziz.

Tiga hari setelahnya, Aan kembali menggelar sebuah pertemuan di laboratorium peralatan seni FT. Pertemuan tersebut bersifat wajib bagi seluruh mahasiswa diploma Teknik Mesin angkatan 2019, baik kelas A maupun B. Pertemuan berlangsung dari pukul sembilan pagi sampai setengah satu siang. Perkuliahan di jam-jam tersebut memang sudah dikosongkan oleh jurusan demi memperlancar pertemuan tersebut.

Menurut Irhas, secara garis besar, pembahasan di pertemuan tersebut tidak jauh berbeda dengan pertemuan sebelumnya pada Senin sore lalu. Tetapi di akhir-akhir pertemuan, ada kata-kata ancaman yang disampaikan Aan kepada mahasiswa.

“Pak Aan bilang, kan kalian [mahasiswa] sudah mendengar, kalau hari Jumat akan ada aksi kembali. Kalau Jumat masih ada yang ikut aksi, mendingan yang ikut itu keluar kelas sampai akhir semester. Atau saya yang keluar kelas sampai akhir semester. Terakhir dia ngomong gitu,” jelas Irhas.

Setelah pertemuan tersebut usai, menurut Irhas, teman-temannya yang tadinya semangat kini merasa takut. Karena ancaman dari Aan tersebut, teman-teman Irhas merasa bahwa mereka telah bersalah, karena telah merusak reputasi dan akreditasi jurusan karena aksi. Mereka lebih memilih tidak mengikuti aksi daripada harus dikeluarkan dari kelas mata kuliahnya Aan.

Sementara itu, sejak pertama kali Ekspresi menghubungi Aan pada (11/12), sampai tulisan ini terbit, ia tidak pernah menanggapi pesan permintaan wawancara dari Ekspresi.

***

“Saya pernah menjadi mahasiswa dan suka demo juga waktu ‘98. Jadi, ancaman terhadap mahasiswa itu sangat disayangkan dan tidak perlu adanya, karena kampus itu adalah mimbar bebas bagi setiap sivitas akademiknya untuk menyampaikan pendapat.” jelas Dwi Harsono, Kepala Jurusan Adminitrasi Publik menanggapi adanya ancaman kepada beberapa mahasiswa yang mengikuti aksi pada 25 November di depan gedung Rektorat lalu.

Dwi juga mengatakan, birokrat dan mahasiswa adalah keluarga. Birokrat sebagai orang tua dan mahasiswa sebagai anaknya. Sebagai orang tua, menurut Dwi, birokrat juga harus memberikan kebebasan menyampaikan pendapat kepada mahasiswa. “Jadi, birokrat tidak perlu melarang mahasiswa untuk berdemonstrasi,” jelas Dwi.

Sama halnya dengan Dwi, Anik Ghufron Wakil Rektor III juga menganggap hubungan mahasiswa dengan birokrat seperti anak dan orang tua. Bedanya adalah, Anik menganggap mahasiswa sebagai seorang anak kepada birokrat, tidak pantas jika menyampaikan pendapat dalam bentuk aksi. “Aksi itu isinya hanya umpatan-umpatan mahasiswa saja. Tidak pantas seorang anak begitu kepada orang tuanya,” jelas Anik.

Sementara itu, berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 9 tahun 1998, kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum merupakan hak asasi manusia yang dilindungi oleh konstitusi. Undang-Undang Dasar 1945 dan Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia menjamin bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Penyampaian pendapat di muka umum meliputi demonstrasi, pawai, rapat umum, atau mimbar bebas.

Meskipun dilindungi secara undang-undang untuk ke depannya, Anik juga mengatakan bahwa aksi itu tidak perlu ada. Menurutnya mahasiswa dalam menyampaikan pendapat kepada birokrat harus dengan cara yang sopan dan santun. Seperti dialog atau diskusi antara perwakilan mahasiswa saja dengan birokrat. Menurut Anik, UNY sebagai kampus pendidikan, mahasiswanya tidak pantas menyampaikan pendapat dengan cara demonstrasi.

Reza Egis

Editor: Abdul Hadi