Home » Resensi » Film

Film

Whiplash: Keterasingan Seorang Drumer yang Ambisius

Andrew Neiman datang ke sekolah musik paling prestisus di New York, Shaffer Conversatory, dengan semangat menjadi drumer. Tentunya bukan drumer biasa, tetapi seorang drumer musik jaz yang berteknik. Refrensinya tak main-main, Budy Rich dan Jo Jones. Wajah kedua drumer jaz kawakan itu menempel di dinding kamarnya. Di salah satu poster terdapat kutipan dari Budy Rich “Jika kau tidak punya keahlian, kau akan bermain di band rok.” Selain menyindir …

Read More »

1984: Dunia Buruk yang Mungkin Saja

George Orwell menerbitkan 1984, novel distopia yang cukup mengerikan pada 1949. Tiga puluh lima tahun kemudian, 1984, Michael Radford mentrasformasikan novel itu ke dalam bentuk audiovisual. Tentu kondisi dunia saat itu berbeda jauh dengan apa yang digambarkan Orwell dalam semesta fiksionalnya. Dalam 1984, otoritarianisme mewujud dalam bentuk yang ekstrem. Orwell menggambarkan sebuah dunia layaknya penjara berlangit biru. Meski kesan fiktif …

Read More »

The Book Thief: Si Malaikat Penyelamat Buku

Sebuah perjalanan kereta menuju Jerman dengan kepulan asap tebal yang keluar dari mesin disertai salju-salju di tepi perlintasan kereta membuka kisah The Book Thief. Liesel Meminger (Sophie Nelisse) diasuh oleh orang tua angkatnya, Hans Hubermann (Geoffrey Rush) dan Rosa Hubermann (Emily Watson), seorang warga Jerman yang sedang mencari anak adopsi. Hari pertama di rumah baru, Liesel diajak pergi ke sekolah …

Read More »

Rosetta: Menguntit Hidup Si Gadis Malang

Pernah dengar istilah “Undang-Undang Rosetta”? Ini undang-undang yang melarang para bos menggaji karyawan remaja di bawah upah minimum di Belgia. Orang bilang, undang-undang ini adalah efek dari film Rosetta. Dua bersaudara Luc & Jean-Pierre Dardenne, sebagai sutradara, menepis klaim itu dalam wawancara dengan The Guardian pada 2006. Tidak mengherankan jika klaim efek Rosetta tersebut begitu populer. Film ini memang menyajikan …

Read More »

Kartini, Pelopor Kemajuan Peradaban Rakyatnya

Lantunan tembang Jawa pada malam yang senyap dan kelam menjadi pembuka sebuah latar abad-19. Keributan malam terjadi. Terdengar suara tangisan bayi. Ialah Kartini, seorang anak dari Bupati Jepara yang dilahirkan pada 21 April 1879. Kisah beranjak pada Kartini kecil. Ia menangis karena tidak diizinkan lagi tidur bersama Ngasirah muda (Nova Eliza), Ibu kandungnya. R.M.A. Sosroningrat, ayah Kartini (Deddy Sutomo), mengatakan kepada …

Read More »

Lavender: Halusinasi yang Membongkar Rahasia

Apakah ada orang di dunia ini yang ingin kehilangan ingatannya atau lebih sering disebut amnesia? Saya rasa tidak ada. Penyakit seperti itu sangat dihindari oleh banyak orang, begitu pula dengan Jane (Abbie Cornish) dalam film Lavender. Tahun 1985 silam, keluarga Jane ditemukan tewas di dalam rumahnya. Traumatik dan tujuh retakan di otak membuat ingatan Jane tentang kejadian tersebut buyar. Setelah …

Read More »

Pink: Inferioritas dalam Panduan Keselamatan Perempuan

Panduan keselamatan perempuan: Seorang perempuan seharusnya tak pernah bersama seorang pria seorang diri. Tidak untuk ke penginapan maupun ke toilet. Jika mereka melakukannya, maka mereka sudah bersedia untuk diperlakukan dengan tidak pantas (1:10:49). Perempuan tidak boleh mengobrol dengan pria sambil tersenyum ataupun menyentuhnya karena akan dianggap sebagai “kode” (1:16:45). Jam kerja menentukan karakter seseorang. Saat perempuan berjalan sendiri di malam …

Read More »

Manchester by the Sea, Drama tanpa Dramatisasi

Lee Chandler, petugas kebersihan merangkap tukang reparasi di Boston, menerima panggilan telepon yang mengabarkan bahwa abangnya, Joe Chandler, tengah kritis di rumah sakit. Sementara Lee menempuh 90 menit perjalanan dari Boston ke Manchester, Joe tutup usia. Joe meninggalkan pesan terakhir: Lee harus menjadi wali bagi kemenakannya yang berusia 16 tahun, Patrick Chandler. Dan, mengharuskan Lee pindah ke Manchester, Massachusetts—tempat yang …

Read More »

Captain Fantastic, Surat dari Rimba Raya

“How did you kill those chickens?” Nai, anak berusia lima tahun, dengan polos bertanya kepada Harper, tantenya, bagaimana ayam yang disajikan di meja makan dibunuh. Dengan kapak atau pisau? Tantenya tentu saja kelimpungan menjawab pertayaan itu. Ia tak pernah repot membunuh ayam. Ia hanya perlu ke super market dan membeli daging yang siap dimasak. Tidak seperti Nai yang harus berburu …

Read More »