/

27 Steps of May: Langkah-langkah Agar Tak Mudah Menyepelekan Korban Kekerasan Seksual

Dok. https://www.27stepsofmay.com
Informasi Film
Judul                :
27 Steps of May
Produser          : Wilza Lubis, Rayya Makarim, Ravi Bharwani
Sutradara         : Ravi Bharwani
Penulis             : Rayya Makarim
Pemeran          : Raihaanun, Lukman Sardi, Ario Bayu, Verdi Solaiman
Tanggal edar   : 27 April 2019

Ekspresionline.comKompleksitas persoalan para penyintas kekerasan seksual memang tak mudah untuk diuraikan. Kompleksitas tersebut segaris lurus dengan keberadaan May (Raihaanun) yang selalu ditampilkan di dalam kamar. Selepas peristiwa kelam yang dialaminya delapan tahun silam, pribadi May berubah drastis. Ia menarik diri dari kehidupan luar dan hanya menjahit boneka di kamarnya untuk dijual.

Trauma akibat perkosaan membekaskan luka teramat pedih. Bersama keluarga kecilnya, yang sebenarnya cuma terdiri dari dia dan ayahnya (Lukman Sardi), dunia berjalan dengan lamban. Kelambanan ini tak pelak sebagai konsekuensi dari minimnya interaksi antartokoh.

Sang Bapak digambarkan sebagai seseorang yang putus asa, prihatin atas buntunya usaha untuk kesembuhan May. Sementara May masih belum menunjukkan perkembangan signifikan. Suasana keluarga yang muram tersebut menyalurkan emosi Sang Bapak ke atas ring tinju. Bertahun-tahun, bogem mentah didaratkan kepada musuhnya hingga K.O., seolah sebagai katarsis bagi penyesalan dirinya yang tak becus melindungi anak.

Film besutan Ravi Bharwani ini mengakomodasi benang kusut dari berbagai persoalan korban kekerasan seksual secara proporsional. Setiap adegan seolah disengaja untuk menghadirkan kepedihan dari nasib sial ini. Hal itu ditunjukkan pada plot film yang secara bergilir menampilkan narasi May dan Bapaknya, baik di dalam kamar atau di atas ring tinju. Hal-hal teknikal ini  seturut dengan dinamisnya karakter tiap tokoh menjajaki pergulatan-pergulatannya dalam tiap konflik.

Plot film terbagi menjadi dua fokus; masing-masing untuk May dan Bapaknya, menegaskan kembali bahwa penderitaan sebagai korban kekerasan seksual tidak hanya dirasakan oleh penyintas belaka, melainkan juga dialami keluarganya. Di samping harus mengusahakan pemulihan terhadap kondisi anak, keluarga pun menanggung stigma bahwa mereka tak cakap mengawasi anak.

Victim blaming atau tindakan menimpakan kesalahan pada korban menafikan adanya bangunan kekerasan yang lumrah terjadi di masyarakat, serta kontraproduktif terhadap segala upaya menyembuhkan trauma. Pada akhirnya, kekerasan seksual disederhanakan laiknya alegori ikan gereh dan seekor kucing. Kesan tersebut muncul apabila kita mencermati rekomendasi-rekomendasi cara penyembuhan dari teman Bapak yang juga seorang kurir (Verdi Solaiman).

Tanpa menganggap remeh usaha sang kurir menjaga harapan si Bapak, tindakan kurir mendatangkan orang-orang sakti untuk “mentransfer energi positif” di rumah mereka seakan memandang trauma akibat kekerasan seksual layaknya tulah yang dikirim dari antah-berantah. Menyamakan penyakit dengan hal-hal irasional seperti ini menunjukkan betapa cekaknya pengetahuan dasar kita menyangkut penanganan korban kekerasan seksual.

Sarat Simbol

27 Steps of May tidak berusaha menggurui jahanamnya tindak perkosaan dan beratnya penderitaan yang diakibatkannya. Persoalan-persoalan tersebut justru dirangkum dalam alur yang pejal lewat pengahdiran simbol-simbol sepanjang cerita. Keberadaan simbol-simbol ini cukup membantu menguatkan penokohan May dan si Bapak.

Tidak mungkin rasanya apabila kenelangsaan May diterangkan dengan gamblang melalui dialog yang berkali-kali menyebut term “perkosaan”. Sia-sia pula jika kontrasnya lauk-pauk yang dimakan May dan Bapak tidak punya relevansi dengan latar belakang kedua tokoh. Minimnya dialog akhirnya membuka jalan bagi simbol-simbol untuk membahasakan kompleksitas masalah May dan Bapaknya.

Cukup sulit membayangkan bahwa pengalaman pahit seperti kekerasan seksual dapat tercitrakan dengan baik dalam film. Citra tersebut tidak sekadar mewadahi satu aspek saja, melainkan juga perlu melibatkan banyak aspek yang harus diakomodasi.  27 Steps of May tampaknya betul-betul memanfaatkan simbol untuk menampung beberapa aspek yang biasa terjadi dalam kasus kekerasan seksual: trauma penyintas, kuatnya stigma, dan upaya pemulihannya.

Salah satu simbol yang mencolok di film ini adalah munculnya tokoh pesulap dari balik dinding kamar May. Tokoh yang diperankan aktor Ario Bayu ini menjadi satu-satunya teman May untuk melipur laranya. Lewat lubang di salah satu dinding kamar May yang tiba-tiba terbentuk, beberapa kali pertunjukan pesulap itu menjadi tontonan May. Ia merasa terhibur dan hubungannya dengan si pesulap memberi langkah pertama May untuk keluar dari trauma.

Akan tetapi, tokoh pesulap ini pun menimbulkan pertanyaan akibat kemunculannya yang janggal. Seandainya pesulap itu nyata, mengapa harus lewat lubang untuk menunjukkan kehadirannya? Mengapa lubang itu harus terbentuk?

Simbol hadirnya pesulap mengingatkan kita bahwa mengajak penyintas berkomunikasi juga tak kalah sulit, terutama menceritakan pengalaman pahit yang pernah ia lalui. Raihaanun harus menggantungkan perannya pada bahasa tubuh. Interaksi yang berlangsung seolah sengaja dibentuk dari isyarat dan tindak-tanduk tiap tokoh. Dari mulai May melakukan penolakan untuk diajak keluar hingga ketertarikan May pada si pesulap. Bahasa tak lebih hanya kata-kata yang tersekat. Dengan demikian, munculnya banyak simbol demi kelogisan plot rasanya tak sekadar kepentingan praktis sinematografi.

Lukman Sardi dan Kekuatan yang Membuatnya Tak Takluk

Lukman Sardi sebagai aktor veteran di Indonesia memerankan tokoh Bapak dengan ciamik. Aktivitasnya di rumah yang sehari-hari menghadapi May sejak delapan tahun silam menunjukkan bahwa ia punya daya tahan jempolan, bahkan untuk sekadar berakting secara monoton.

Meskipun sosok Bapak selalu berada antara setengah depresi dan setengah berharap, tetapi ekspresi itu ditekan agar tak mendramatisasi keadaan. Pada akhirnya, Lukman Sardi juga harus mengandalkan mimik muka dan bahasa tubuh lainnya yang ia tunaikan dengan wajar.

Ketokohan Bapak dalam film ini memiliki peran krusial. Bapak sebagai kepala rumah tangga memperlihatkan perspektif lain bagaimana korban kekerasan seksual disikapi oleh keluarganya. Delapan tahun bukanlah waktu yang pendek untuk diisi kesabaran menyembuhkan luka, tetapi Lukman Sardi betul-betul menghadirkan sosok Bapak dengan karisma kuat. Kepedulian Bapak kepada May seakan iktibar bahwa dukungan keluarga tidak sekadar hadir atas nama kewajiban orang tua.

27 Steps of May tak sepenuhnya film gelap. Adanya kawan Bapak yang seorang kurir memberi sentuhan lain lewat beberapa humor di sela-sela dialog. Selain itu, interaksi May dengan pesulap juga menawarkan kesan serupa.

Di tengah gempuran film superhero dan horor, rilisnya film ini bukanlah tanpa alasan. Film ini ditengarai sebagai pengingat atas kasus-kasus perkosaan di sekitar Mei 1998. Sampai detik pemungkas, penderitaan dan trauma May memang memicu kemarahan terhadap segala bentuk kekerasan seksual. Namun, kekuatan serta kesabaran menuntunnya untuk melawan masa lalunya, jika kita cermat memerhatikan langkah-langkah May.

Ahmad Yasin
Editor: Abdul Hadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *