Konflik Agraria, Ganjar: Cara Paling Fair Itu Pengadilan
Ganjar Pranowo menemui massa aksi yang sudah berkumpul sejak sore hari di kampus pusat UII, Senin (2/5). Ia menerima karikatur dan dokumen kajian dari Ampera. Foto oleh Triyo/EKSPRESI
Ekspresionline.com—Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, mengaku tetap bertanggung jawab dalam konflik agraria di Jateng. Ia mengatakan, jalan keluar dalam menangani konflik agraria adalah dengan menyerahkannya ke pengadilan. “Cara yang paling fair adalah pengadilan,” ujarnya ketika menememui massa aksi Aliansi Mahasiswa Peduli Agraria (Ampera) di kampus pusat Universitas Islam Indonesia, Senin (2/5).
Ganjar menganjurkan semua pihak yang terlibat konflik agraria di Jateng untuk melakukan upaya hukum. Ia yakin masih ada saksi ahli di pengadilan yang bisa mempertanggungjawabkan kesaksiannya. “Kita dudukkan saksi ahli dari kedua pihak yang berkonflik, silakan mereka berdebat di sana,” ujarnya. Ia menekankan akan menerima apapun keputusan dari pengadilan. Lebih lanjut ia mencontohkan kemenangan warga Pati ketika menggugat PT Sahabat Mulia Sakti di Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang pada November 2015.
Sementara itu, Nurcholis ART, Koordinator Umum aksi Ampera, mengatakan, tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang dikatakan Ganjar. Sebab, lanjut Cholis, Ganjar sudah berulang-ulang melakukan audiensi namun jawabannya cenderung normatif. Menurutnya, konflik agraria itu pelik dan berlarut-larut sehingga tidak ada jaminan bisa cepat ditemukan jalan keluarnya.
Cholis juga mengharapkan mahasiswa Yogyakarta khususnya, dan Indonesia umumnya, agar berpihak kepada rakyat. “Pada dasarnya memang itu yang harus kita lakukan,” ujarnya.
Kendati sempat menunggu berjam-jam, Cholis beserta massa aksi akhirnya dapat bertemu dengan Ganjar. Cholis menjelaskan, aksi menolak kedatangan Ganjar ini sebagai pressure agar Ganjar mau mendengarkan tuntutan aliansi. Selain tuntutan, dalam pertemuan dengan Ganjar, Ampera juga memberikan sebuah karikatur bermakna sindiran tentang konflik Rembang dan hasil kajian mereka tentang konflik agraria di Jateng kepada gubernur Jateng tersebut.
Redaktur: Putra Ramadan
Reporter: Aziz Dharma
