/

Kebangkitan Pangan di Pinggiran Sungai Tercemar

Tanaman budidaya cabai di lahan wedi kengser, Sabtu (24/01/2026). Foto oleh Okta/EKSPRESI.
Tanaman budidaya cabai di lahan wedi kengser, Sabtu (24/01/2026). Foto oleh Okta/EKSPRESI.

Ekspresionline.com–Dibalik tumpukan sampah yang terbawa hanyut aliran sungai terdapat kampung yang mencoba tetap bertahan dengan kemandirian pangan. Inilah potret bantaran Sungai Winongo di Kawasan Kampung Badran, Kota Yogyakarta pada Sabtu, 24/01/2026. 

Pencemaran sampah dan limbah di bantaran Sungai Winongo memunculkan kekhawatiran bagi masyarakat. Hal ini menimbulkan tantangan tersendiri dalam memilah dan mengolah sampah di kawasan padat penduduk. Heri, Ketua RT 47 mengungkapkan pemerintah memberikan bantuan dan pendampingan untuk menyelesaikan masalah. Namun, tidak pernah memperhatikan kondisi dan mempelajari dengan serius kebutuhan masyarakat.

“Setiap tahun itu ada program yang tumpang tindih, ini belum sampai titik pemanfaatan masyarakat sudah ganti lagi program,” ungkap Heri saat diwawancarai mengenai program pemerintah. 

Heri merasa program pemerintah kurang memberikan dampak dan tidak menyelesaikan masalah. Kampung Badran berinisiatif memanfaatkan lahan terbatas untuk mengelola sampah. Biopori sebagai salah satu program pemerintah, dikembangkan dengan ukuran lebih besar menyesuaikan sampah warga. Sebagian kecil rumah di Kampung Badran juga memiliki lubang biopori, ember tumpuk, dan galon tumpuk guna pengelolaan mandiri. 

FBS Mesteri menjadi lokasi pengelolaan sampah warga RT 47 dengan memanfaatkan lahan wedi kengser. Warga akan menyerahkan sampah organik dan memilahnya sebelum ditimbun ke dalam lubang biopori setiap minggunya. Hasil dari sampah yang telah dihimpun selama tiga bulan, dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman yang dibudidayakan oleh masyarakat. Sedangkan, hasil cairnya dicampur dengan molase dan dimanfaatkan untuk fermentasi.

Selain dijadikan tempat pengelolaan sampah, FBS Mesteri dimanfaatkan sebagai budidaya pangan. Hingga kini, budidaya pangan yang dikembangan menjadi solusi atas kekhawatiran pangan dan pertahanan hidup pasca pandemi. Setelah adanya edukasi selama tiga tahun, pemeliharaan tanaman pangan mulai merambah di depan bahkan dinding rumah warga dengan beberapa variasi.

Kesadaran warga yang memanfaatkan lahan terbatas untuk media tanam dapat memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri. Tindakan ini akan mengurangi ketergantungan pasokan pangan dari daerah lain. Masyarakat juga dapat memanfaatkan hasil budidaya untuk pendapatan tambahan. Pelaksanaan program ketahanan pangan melalui urban farming dapat membantu menciptakan pasokan pangan yang stabil dan berkelanjutan.

Sampah yang hanyut dan tertinggal di bantaran Sungai Winongo, Sabtu (24/01/2026). Foto oleh Okta/EKSPRESI.
Ember tumpuk yang dimanfaatkan untuk memilah sampah basah dan kering sebelum dimasukkan ke lubang biopori, Sabtu (24/01/2026). Foto oleh Okta/EKSPRESI.
Lubang biopori yang menampung limbah organik masyarakat RT 47 tertutup terpal, Sabtu (24/01/2026). Foto oleh Okta/EKSPRESI.
Molase yang dicampur dengan POC di FBS Mesteri, Sabtu (24/01/2026). Foto oleh Okta/EKSPRESI.
Budidaya tanaman di FBS Mesteri di lahan wedi kengser, Sabtu (24/01/2026). Foto oleh Okta/EKSPRESI.

Lorong Sayur di RT 42 yang terdiri atas beberapa tanaman, Sabtu (24/01/2026). Foto oleh Okta/EKSPRESI.
Tanaman yang dibudidaya di halaman depan rumah warga, Sabtu (24/01/2026). Foto oleh Okta/EKSPRESI.

Okta Ardia

Editor: Aprilia

Reporter:  Aini, Sabrina, Lisa, Mutia, Luisa, Lula, Asya, Okta, Vicky

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *