/ /

Batal Undang Ganjar, UMY Datangkan Militer

Rilis panitia Seminar Nasional Pekan Keilmuan Sosial dan Politik  BEM Fisipol UMY. Dok. istimewa

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengundang Komandan Resort Militer (Danrem) 072 Pamungkas, Brigadir Jenderal TNI Fajar Setyawan sebagai pembicara dalam Seminar Nasional Pekan Keilmuan Sosial dan Politik (SNPKSP) 2017. “Kami ingin tahu pandangan TNI, bagaimana pentingnya pembentukan pola pikir masyarakat dalam perspektif ketahanan bangsa,” jelas Hafidz Ridha Try Sjahputra selaku Sekretaris Dinas Pengembangan Wawasan dan Intelektual BEM Fisipol UMY ketika ditemui oleh reporter EKSPRESI, di depan gedung AR Fachruddin kampus UMY, Sabtu (25/03).

(Baca juga: Solidaritas Jogja Tolak Pabrik Semen Kecam UMY)

Undangan tersebut disiarkan dalam Press Release pembatalan Ganjar Pranowo sebagai pembicara diskusi yang bertema “Kapitalisasi Media Digital sebagai Agen Pembentuk Pola Pikir Masyarakat.” Hafidz mengatakan BEM Fisipol UMY mengundang pihak militer karena bagi mereka selama ini TNI telah melindungi negara dan rakyat. Pihak panitia mengaku bahwa rencana mengundang Danrem 072 Pamungkas sebagai narasumber sudah direncanakan sejak awal, walaupun baru diumumkan pada publik dengan alasan terkendala konfirmasi pihak terkait.

Massa aksi Solidaritas Jogja Tolak Pabrik Semen mengecam tindakan civitas akademika UMY tersebut. Ahmad Haedar selaku Koordinator Lapangan menyatakan bahwa militer dan Ganjar merupakan satu kesatuan aparatus negara. “Militer dalam praktiknya selama ini sebagai penjaga modal dan korporasi ,” tegasnya. Melalui BEM Fisipol, tambah Haedar, UMY telah memberikan “kursi” dan “karpet merah” terhadap pelanggar HAM dan penjahat genosida alam.

Haedar mengatakan bahwa BEM Fisipol UMY tidak memiliki analisis yang tepat sehingga mengadakan acara yang tidak jelas. Salah satu massa aksi, Elanto Wijoyono mengatakan bahwa seharusnya mengundang militer jika seminar berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi militer yang dapat didiskusikan langsung dengan pihak militer, “Militer tak perlu diundang ke kampus, apalagi untuk membahas tema yang bukan dalam lingkup kapasitasnya. Ini sangat tidak nyambung dan terkesan dipaksakan,” jelas Elanto.

Selaku penanggung jawab acara seminar, hal tersebut diakui oleh Hafidz, “Kami akui kurangnya analisis, tapi niatan kami itu sesuai dengan tema,” terangnya. Haedar menambahkan seharusnya pantia menghadirkan praktisi dan aktivis media dalam seminar, “Ganjar memang aktif media sosial, tapi tidak ada kaitannya dengan kapitalisasi media, apalagi pihak militer,” tegasnya.

Elanto menilai adanya kejanggalan dalam acara seminar yang diadakan BEM Fisipol UMY. Ia berharap panitia memberikan penjelasan yang terbuka dan jujur agar tidak terjadi kesimpangsiuran, “Semoga kehadiran militer di kampus UMY bukan merupakan pesan terselubung dari pihak panitia untuk merespon protes publik,” tutupnya.

Imam Ghazali

(Reporter: Bagas Nugroho Pangestu, Ahmad Wijaya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *