/

Bagaimana Kami Menyelamatkan Ruang Belajar dan Berkarya Setelah Student Center ditutup Pukul Lima Sore

Diskusi terkait persoalan Kampung Laut oleh anggota LPM Ekspresi di Food Court FMIPA, Jumat (3/10/2025). Foto oleh Nisrin/EKSPRESI.
Diskusi terkait persoalan Kampung Laut oleh anggota LPM Ekspresi di Food Court FMIPA, Jumat (3/10/2025). Foto oleh Nisrin/EKSPRESI.

Ekspresionline.com–Menyikapi persoalan Kampung Laut beberapa waktu lalu, Ekspresi mengadakan diskusi dengan kawan-kawan yang membagikan pengalaman mengawal isu secara langsung di Ujungalang sana. Di salah satu sudut Food Court FMIPA, diskusi berlangsung panjang. Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan, melainkan tempat di lingkup kampus yang masih lumayan nyaman (tentu dipaksakan) setelah ruang sekretariat tempat kami biasa berkegiatan, sudah ditutup satu jam sebelumnya. 

Benar, pukul lima sore. Dan pada  hari biasa, bagi mahasiswa, pukul lima sore adalah jadwal perkuliahan bahkan baru saja berakhir.  

Persoalan ini bukan pertama kali atau belum lama terjadi. Sebab, penetapan jam tutup Student Center (SC) yang sebelumnya pukul sembilan malam kemudian dipersingkat menjadi lima sore telah berjalan satu tahun lamanya. Peraturan ini diberlakukan sejak 2 Januari 2025 lalu melalui surat edaran Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan nomor B/6330/UN34/KM.05/2024 .

Konsekuensi logis dari pembatasan jam tutup SC yang semakin dini membuat UKM kelimpungan menyesuaikan ulang waktu kegiatan. Sebagai unit kegiatan yang berkarya melalui seni rupa dan fotografi, Serufo mengalami kendala ketika mempersiapkan pameran selama satu tahun terakhir. Najwa, anggota aktif Serufo, menuturkan bahwa angkatannya kebingungan menghadapi perubahan jam tutup SC yang baru.

“Kami itu ngerasa kayak aduh nih gimana nih, tahun lalu enggak gini. Jadi kami putar otak lagi biar bantu angkatan bawah mempersiapkan pamerannya itu gimana dengan kondisi SC itu tutup lebih awal gitu. Sebenarnya mungkin jam 9 aja kayak [terburu-buru], apalagi jam 5 dan kita baru banget selesai kuliah,” tuturnya.

Alternatif paling memungkinkan, yakni mengambil ruang terbuka—karena tidak dikunci, masih di lingkungan kampus. Upaya memadatkan bahkan memangkas kegiatan tidak mungkin dilakukan sebab dengan cara  tersebut proses belajar justru menjadi rumpang. Karenanya, dalam satu tahun terakhir, kerap dijumpai kumpulan mahasiswa yang mengakuisisi  ruang-ruang terbuka untuk tetap menjaga nyala api unit-unit kegiatan mereka.

Unit Studi Sastra dan Teater (Unstrat) misalnya. Melalui Nadine, Ketua Unstrat, diketahui bahwa proses latihan mereka terganggu dan tidak bisa berjalan seperti sebelumnya setelah adanya pembatasan jam tutup SC pukul lima sore.

Kenyataan tersebut diperparah dengan rumitnya prosedur penggunaan Gelanggang Mahasiswa yang berbeda semenjak direnovasi. Sebelumnya, Gelanggang bisa mereka gunakan tanpa melampirkan surat izin. Namun setelahnya, keberadaan surat bahkan tidak menjamin mereka dapat menggunakan gelanggang sewaktu-waktu.

Kerap mereka memanfaatkan belakang Gedung SC, Kantin Bunda, hingga samping gedung Direktorat Pendidikan Profesi dan Kompetensi (DPPK) saat latihan maupun penggarapan pentas. Namun, upaya tersebut pun masih menemui hambatan.

“Di belakang SC saat kita harus bikin garapan setting dan lain sebagainya, itu sering banget difotoin sama pihak kemahasiswaan, terus minta untuk dibersihkan, padahal kita lagi di tengah-tengah proses pementasan. Karena kita tidak dikasih ruang kan untuk berkarya itu, jadinya kita mencoba untuk memakai ruang yang ada, tapi saat pakai itu pun dibatasi. Jadi kita lebih kebingungan, sih, untuk harus melaksanakan ini gimana sebenarnya,” ungkap Nadine.

Menyoal penutupan SC kian dini yang menjadi kendala UKM satu tahun terakhir, memunculkan respons nyaris serupa. Keinginan agar, sekalipun gedung tidak dibuka 24 jam — setidaknya dikembalikan pada peraturan ditutup jam 9 malam. Hal ini tidak lepas dari keinginan untuk memiliki ruang berproses dan berkarya yang nyaman tanpa perlu merasa tergesa.

Jurnalis Muda menonton film Miracle in Cell No. 7 season 2 dalam rangka diskusi film magang LPM Ekspresi di selasar Gedung Ranggawarsita FBSB,  Jumat (7/11/2025). Foto oleh Aini/ Ekspresi.
Anggota Serufo melakukan foto karya di belakang Gedung Student Center, Jumat (11/04/2025). Foto oleh Serufo. 
Anggota Unstrat melakukan rolling adegan 4 di samping Kantin Bunda, Sabtu (6/03/2025). Foto oleh Unstrat.
Anggota Unstrat melakukan cut to cut dan percobaan musik babak 1 di Kantin Bunda, Jumat (5/03/2025). Foto oleh Unstrat.

Lisa Rizkiana

Editor: Mutia Himmatul Hayah

Reporter: Lisa Rizkiana, Dita Iva Sabrina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *