/

BWCF 2019: Belajar Panteisme dari Zoetmulder

Acara pembukaan BWCF 2019 di Ballroom 3 Hotel Tentrem, Yogyakarta. Foto oleh Sunardi/EKSPRESI.

Ekspresionline.com—Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) 2019 kembali diadakan untuk kedelapan kalinya. Pada tahun ini BWCF mengusung tema “Tuhan & Alam: Membaca Ulang Panteisme, Tantrayana dalam Kakawin & Manuskrip-Manuskrip Kuno Nusantara”.

BWCF yang sudah berjalan selama sewindu ini diadakan selama tiga hari berturut-turut, mulai dari 21 sampai 23 November 2019. Hari pertama dibuka di Ballroom Hotel Tentrem Yogyakarta. Sedangkan hari kedua dan ketiga berlokasi di Hotel Manohara dan area Candi Borobudur, Magelang.

Pada tahun ini BWCF juga bertujuan untuk mengenang dan meperingati jejak keilmiahan karya-karya Zoetmulder, seorang pakar sastra Jawa dan budayawan Indonesia.

Buku program BWCF 2019 mencatat, sejak pertama kali mendarat di Yogyakarta pada 21 Oktober 1925, Zoetmulder telah tertarik pada Indonesia.

Berkat banyaknya kontribusi, pria kelahiran Utrecht, Belanda ini akhirnya ia menerima kewarganegaraan Republik Indonesia pada 1951.

Tema panteisme yang dibahas BWCF kali ini juga untuk memperingati jejak keilmiahan Zoetmulder. Berdasarkan buku program, panteisme adalah tema yang sering diulas oleh Zoetmulder.

Menurut Zoetmulder, seperti dikutip dalam buku program, pemikiran ketuhanan yang ada di dalam manuskrip-manuskrip kakawin dan suluk Jawa Kuno cenderung ke arah panteisme.

Selain tema panteisme, BWCF 2019 secara khusus juga mencoba mengupas Tantrayana. Seperti yang dijelaskan pada kuratorial buku program, hal ini dikarenakan belum pernah ada seminar atau simposium yang khusus mengkaji Tantrayana.

Pembahasan Tantrayana bisa dilihat pada hari pembukaan BWCF 2019 pada sesi pidato kebudayaan. Pidato tersebut bertema “Tantrayana di Jawa Kuno”, dibawakan oleh Dr. Andrea Acri dari Ecole Pratique des Hautes Etudes, PSL University, Prancis. Ia membahas definisi atau makna dari Tantrayana.

Menurut Andrea, istilah “tantra” memang tidak memuat definisi yang umum atau disepakati oleh semua pakar. Istilah tantra ialah suatu konsep yang abstrak.

“Yang membedakan diri dengan jalan Mahayana biasa adalah ritual-ritual. Dalam Tantrayana, Vajrayana, Mantrayana banyak menekankan unsur puja rahasia untuk memanggil para dewata atau bodhisattva dengan cara mengolah unsur-unsur rahasia mudra, mantra, mandala,” jelas Andrea.

Berdasarkan buku program BWCF 2019, pemikiran Tantrayana muncul dan tersebar dari India, Tibet, Nepal, Sri Lanka, Cina, Jepang, Korea hingga Jawa dan Sumatra. Dari pulau Jawa dan Sumatra inilah bersemai pemikiran Tantrayana. Hal ini tercermin pada banyaknya candi, situs-situs, dan artefak yang berbau Tantra dan Vajarayana.

“Saya kira masih bisa dapat bukti bahwa orang Jawa pada abad ke-9 sudah familier, sudah mengetahui tentang tantra,” kata Andrea.

Sebelum sesi pidato kebudayaan dimulai, ada sesi bincang buku terlebih dulu bersama penulis. Para penulis tersebut di antaranya Dr. Seno Gumira Ajidarma dengan buku Nagabumi; Drs. Jiwa Atmaja, SU. dengan buku Penyihir dari Desa Sanur; I Ketut Sandika, S.Pd. dengan buku Tantra, Ilmu Kuno Nusantara; Dr. Gregorius Subanar dengan buku Kumpulan Tulisan Kenangan Romo Zoetmulder; Prof. Dr. George Quinn dengan buku Bandit Sainis of Java; dan Master Lian Fei dengan pembahasan Kalacakra-Tantra.

Dari semua penulis beserta karyanya itu, sesi Bincang Buku mengambil tema spesifik, yakni “Dari Perempuan Penyihir sampai Kuburan Bandit Suci”. Dari semua karya-karya tersebut, hanya Seno Gumira saja yang mempresentasikan buku fiksi.

Sementara itu, pada hari kedua dan ketiga BWCF ada program simposium. Salah satu yang menarik peserta BWCF ialah saat membicarakan tentang adanya manuskrip dan peranan perempuan pada masa Jawa kuno.

Salah satunya seperti yang dipaparkan oleh pemateri dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Titi Surti Nastiti. Menurutnya, perempuan pada masa Jawa kuno diketahui mempunyai peranan dan kedudukan yang sama dengan laki-laki.

“Tidak ada yang lebih rendah, tidak ada yang lebih tinggi. Maksudnya itu bisa dibaca di tesis saya mengenai peranan kedudukan perempuan pada abad delapan sampai lima belas Masehi. Dan yang membedakannya adalah pencapaiannya,” kata Titi

“Kalau di kalangan tinggi itu mereka disebutnya adalah achieved status, jadi tanpa usaha dan kedudukannya sebagai bangsawan mereka tidak perlu usaha-usaha untuk memperoleh kedudukan tertentu,” lanjut Titi.

Sunardi

Editor: Ikhsan Abdul Hakim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *