/

Dulu Disebut Kampung Preman, Kini Badran Menjadi Kampung Ramah Anak

Suasana sore ramai dengan anak-anak bermain bola di RTHP Taman Bumijo RW 11, Kampung Ramah Anak Badran. Sabtu (24/01/2026). Foto oleh Lisa/EKSPRESI.
Suasana sore ramai dengan anak-anak bermain bola di RTHP Taman Bumijo RW 11, Kampung Ramah Anak Badran. Sabtu (24/01/2026). Foto oleh Lisa/EKSPRESI.

Ekspresionline.com–Kampung Badran dulunya terkenal dengan sebutan Kampung Preman. Kampung yang terletak di sisi barat Kota Yogyakarta, tepatnya di Kelurahan Bumijo, kini mengalami perubahan citra menjadi Kampung Ramah Anak. Perubahan citra ini tidak terjadi begitu saja, tetapi melewati proses dari berbagai aspek yang dilakukan oleh masyarakat.

Adanya citra sebagai Kampung Preman tidak terlepas dari kisah masa lalu Badran. Kampung Badran yang dulunya merupakan bong (perkuburan Cina) kemudian dibongkar dan dijadikan area pemukiman. Bong tersebut juga menjadi tempat persembunyian orang-orang dari luar Badran yang melakukan tindakan kriminal seperti pencurian, perampokan, judi, dan lain sebagainya dikarenakan tempatnya yang sepi.

Kampung Preman memang benar adanya, akan tetapi orang-orang yang disebut sebagai preman ini bukanlah orang asli Kampung Badran. Mereka merupakan pendatang dari daerah lain dan bersembunyi di bong. Hal ini dibenarkan oleh warga asli Kampung Badran, Winarti dan Supomo—yang sekaligus keduanya pernah menjabat sebagai Ketua RT 47, ketika diwawancarai awak Ekspresi pada Sabtu (24/1/2026).

“Dikatakan Kampung Preman memang benar tadi apa yang dibilang tempat ini untuk persembunyian. Pernah ada pembunuhan tapi yang [melakukan] bukan orang sini, terus orang yang [melakukan] pencurian larinya juga ke sini karena dulu masih ngebong,” jelas Winarti.

Supomo, suami Winarti, mengungkapkan hal yang serupa bahwa preman dalam hal ini bukan warga asli Kampung Badran, melainkan pendatang yang menempati wilayah bekas bong tersebut.

“Dulu, di depan itu bong—ada guanya besar yang ditempati orang-orang dari luar. Jadi, nggak ada preman yang asli sini. Cuma, memang di sini ketempatan pendatang, jadinya [Badran] kampungnya Kampung Preman. Saya kan dari sini, jadi saya tahu,” ungkapnya.

Kampung Badran Mulai Berbenah

Seiring berjalannya waktu, Kampung Badran mulai berbenah untuk melepaskan citranya sebagai Kampung Preman. Adanya kesadaran dan kerisauan warga akan stigma negatif yang melekat pada Badran sehingga mengakibatkan mereka berusaha untuk mengubah citra Kampung Badran. 

“Banyak generasi Badran yang era 90-an mendekati 2000 sudah ada kesadaran. Ada kesadaran, ada kerisauan, risau bagaimana nanti generasinya jangan sampai terjadi seperti generasi dahulu,” terang Heri selaku Ketua RT 47. 

Ia juga menambahkan bahwa perubahan dapat terjadi melalui banyak kegiatan, di antaranya yang bersifat kerohanian, keterampilan, pendidikan, dan juga budaya. Namun, keberhasilan perubahan tersebut perlu adanya peran dari berbagai pihak, baik pemerintah, tokoh masyarakat, maupun pemangku wilayah. Dari penduduk juga harus turut serta merespon, dalam artian proaktif berkegiatan yang sifatnya untuk memperbaiki citra kampung. 

Sebagai langkah awal, masyarakat Badran membentuk perkumpulan yang dikenal dengan Forum Kampung Ramah Anak Badran RW 11. Forum ini diresmikan oleh Wali Kota saat itu, Herry Zudianto, pada 22 Juli 2011. Adapun kegiatan yang mereka lakukan di antaranya adalah kampanye kampung sehat dan bersih, memberdayakan potensi anak-anak melalui olahraga tenis meja, serta membuka kolam renang umum yang dikelola oleh wilayah RW. 

“Kampung ramah itu ramah [kepada] segalanya, bukan [hanya] anak, ya. Tempatnya ramah, tidak membahayakan, dan lebih memperkenalkan wilayah yang sifatnya ramah. Tidak cuma anak, orang tuanya, lingkungannya itu semua ramah,” tutur Ketua RT 47 tersebut mengenai program Kampung Ramah Anak (KRA). 

Heri menerangkan bentuk konkret dari program KRA saat itu memang ramah untuk anak karena anak-anak sebagai generasi penerus. “Tapi waktu itu memang konkretnya ramah dianak karena anak itu kan generasi [penerus]. Kalau dari kecil tidak dididik ramah, besarnya nanti mau jadi apa? Kalau malah yang tua dididik ramah, ya itu sudah kedaluwarsa. Jadi kampung ramah memang kita mendidik dari sejak dini, usia paud, sudah dididik untuk mengenalkan lingkungan,” jelasnya.

Ada pula kegiatan yang bentuknya seperti kursus, posyandu, dan kegiatan terpadu lainnya yang melibatkan segala usia. Wartini, yang notabene juga pernah menjadi Ketua RT, pun mengadakan suatu kegiatan bagi lansia dan terus berlanjut karena adanya potensi yang bagus.

“Saya yang mengadakan kegiatan gebyar lansia waktu itu. Kita mendatangkan dari balaikota, kemantren, kelurahan, dan sebagainya. Di situ kan terlihat di sini potensinya bagus karena kegiatannya semua jalan, terus akhirnya ya itu diadakan namanya Kampung Ramah Anak,” tuturnya.

Kampung Badran Masa Kini

Berbagai upaya yang telah dilakukan Badran untuk mengubah citra kampung menjadi lebih positif hingga akhirnya mendapatkan gelar sebagai Kampung Ramah Anak. Bahkan sampai saat ini, Badran masih melakukan upaya-upaya melalui program KRA demi mewujudkan perubahan citra kampung. Heri menyampaikan bahwa walaupun kegiatan-kegiatannya secara garis besar belum mencapai seratus persen, tetapi paling tidak sudah ada perubahan dari tahun ke tahun.

“Badran ya mungkin cuma 10% yang bermasalah, tapi 90% kena imbas dari label Kampung Preman,” ungkap Heri. Lantas, ia menambahkan dengan adanya perubahan citra Kampung Badran menjadi Kampung Ramah Anak, terdapat beberapa hal yang sekarang menjadi lebih mudah untuk dilakukan. Misalnya, warga menjadi lebih mudah mengakses dana lunak di bank dan saat ingin kredit motor atau mobil pun dipermudah prosesnya. 

Kegiatan di Kampung Badran yang masih berjalan hingga kini di antaranya ada kesenian Sanggar Tari Nengnong yang ditujukan untuk anak-anak dan remaja. Kemudian ada program kampung menari yang biasanya dilakukan oleh ibu-ibu muda. Ada pula program bank sampah guna meningkatkan pengelolaan sampah di Kampung Badran. 

Meskipun saat ini menjadi Kampung Ramah Anak, tak dipungkiri masih terdapat stigma terhadap Kampung Badran yang dulunya merupakan Kampung Preman. Menurut pernyataan Wartini, hal yang bisa dilakukan ketika ada yang mengatakan bahwa Badran adalah Kampung Preman, yakni dengan cara menyampaikan bahwasanya di Kampung Badran sekarang ini sudah tidak ada premannya. 

“Ya sekarang ini kalau menurut saya sebagai orang sini ya bagaimana kita menyangkal hal itu. Memang kalau orang asli sini nggak ada [premannya] seperti yang dikenal di sana-sana itu, sebenarnya [premannya] sudah nggak ada,” jelas Wartini.

Wartini pun menyampaikan harapannya agar kata preman yang melekat pada Kampung Badran dapat hilang. Hal tersebut dikarenakan sekarang ini sudah tidak preman yang tinggal di Badran. Di samping itu, Heri merasa bersyukur karena Kampung Badran mengalami banyak perubahan, mulai dari segi sosial, ekonomi, budaya, dan pembangunan. Walaupun belum optimal dan masih belum puas, tetapi bagi Heri minimal sudah ada perubahan, serta nantinya pun akan ada generasi berikutnya yang dapat melanjutkan upaya-upaya perubahan tersebut.

Untuk dapat menunjang generasi penerus diperlukan dukungan guna mewadahi minat mereka agar tidak terjerumus ke kenakalan remaja. “Makanya kami mencoba, balai itu kan serbaguna. Mau apapun di sini, monggo, gratis nggak ada biaya. Mau pingpong, kami buatkan alat atau meja pingpong. Hal-hal seperti itulah yang bagi wacana wilayah menganggarkan dan mewadahi [minat],” pungkas Heri.

Dita Iva Sabrina

Editor: Lisa Rizkiana

Reporter: Aini, Sabrina, Lisa, Mutia, Luisa, Lula, Asya, Okta, Vicky

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *