/

Germinal adalah Kisah Tentang Orang-Orang Lelah

Judul: Germinal

Penulis: Émile Zola

Penerjemah: Lulu Wiyaja

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: Pertama, 2016

Jumlah halaman: 880 halaman

Ekspresionline.com – Kalau diringkas menjadi tiga kalimat, Germinal agaknya akan tertulis seperti ini: para pekerja tambang yang merasa lelah dengan keadaan melarat dan terlilit utang meski telah bekerja bagai mesin, rumah yang sempit dan berdesakan, dan anak-anak yang menjadi dewasa sebelum umurnya akhirnya memberontak dengan mogok. Pemogokan terus berjalan, sampai para pekerja sadar bahwa perjuangan merupakan aktivitas yang melelahkan. Sangat melelahkan.

Mungkin ada di antara pembaca yang berpikiran bahwa pemogokan adalah hal konyol. “Dengan mogok, kalian yang melarat akan tambah melarat,” mungkin pikiran macam itu ada dari sekian pembaca tulisan ini. Maka dari itu mari kita dedah alasan para pekerja tambang merasa lelah dan akhirnya melakukan mogok dalam Germinal.

Para pekerja tambang diceritakan melarat, bahkan dari lahir. Sebuah keluarga bahkan diceritakan sudah turun-temurun menjadi pekerja tambang dengan kemelaratannya. Upah yang mereka terima hanya cukup untuk makan dengan makanan sangat sederhana. Yang penting makan agar tidak mati kelaparan. Para penambang bahkan sering memaksakan diri untuk bekerja, meskipun tubuh mereka tak lagi kuat bekerja. Bukan karena kecintaan mereka memotong batu bara, tetapi karena mereka butuh uang untuk makan.

Kemelaratan itu pun bukan berasal dari kemalasan. Mereka bekerja 10 jam sehari. Bagi penambang yang belum terbiasa, bekerja 10 jam pada kedalaman ratusan meter di bawah tanah adalah sebuah malapetaka. Mereka harus menyesuaikan diri dengan kelembapan dan pengapnya udara, dinginnya air di ratusan meter di bawah tanah, kemungkinan diledakkan oleh gas bawah tanah, atau kemungkinan kepala tertimbun tanah akibat kayu penyangga lorong bawah tanah yang roboh.

Bekerja selama 10 jam dengan serentetan kesulitan yang telah disebutkan tadi merupakan bukti bahwa mereka bukan pemalas. Belum lagi sistem upah “lebih banyak batu bara yang kau setor, maka semakin banyak upah yang kau dapat”. Namun, etos kerja yang begitu tinggi tak membuat mereka kaya, atau setidaknya membuat mereka makan enak setiap hari.

Zola menggambarkan kemelaratan itu dengan baik. Pada halaman 276, Zola menuliskan “…hidup memang tidak enak. Kau bekerja seperti binatang, mengerjakan sesuatu yang dulu biasanya dikerjakan narapidana sebagai hukuman, dan biasanya pekerjaan ini membunuhmu, dan kau tetap tidak bisa makan daging.” Seakan belum cukup, di halaman 277 Zola meneruskanan dengan “…kau memang bisa makan bubur tiap hari, tapi sedikit sekali, cukup agar kau menderita tanpa benar-benar mati…”.Itu masih masalah pekerjaan, belum masalah rumah tangga, dan hubungan sosial antarpekerja tambang. Perlu diketahui, para pekerja tambang hidup di desa buatan perusahaan. Desa yang digambarkan Zola hampir mirip dengan kampung-kampung kumuh di Jakarta.

Pola hubungan sosialnya mirip seperti apa yang Seno Gumira Ajidarma gambarkan dalam cerpen “Selamat Pagi bagi Sang Penganggur”. Batas antarrumah yang berdekatan dan interaksi antarwarga yang begitu intens membuat masalah seorang warga bisa dengan mudah diketahui semua penduduk desa. Bedanya, dalam Germinal, para perempuan memiliki hobi yang sama: bergosip.

Kerja terlampau keras yang dikerjakan para pekerja tambang berdampak pada pola hubungan sosial antarwarga. Kelelahan yang menyelimuti dunia permukaan membuat para warga menjadi keras dan mengatakan segala sesuatu secara blak-blakan. Penganiayaan dalam rumah tangga merebak bak bunga di musim semi. Entah karena mabuk atau lelah, atau justru keduanya, para pria tak segan-segan memukul istrinya dan para ibu tak segan-segan memukul anaknya. Dan penganiayaan itu bisa saja karena hal sepele, yaitu gosip.

Lelucon-lelucon ‘jorok’ bertaburan di setiap tempat. Baik tua maupun muda, lelucon ‘jorok’ tak mengenal tempat, tak mengenal siapa yang berhak mengatakannya, juga tak mengenal kepada siapa lelucon itu ditujukan. Kata-kata macam ‘bajingan’ atau ‘jalang’ hampir menjadi nama setiap orang di desa.

Pola hubungan sosial macam itu juga berdampak pada faktor lain, salah satunya ialah laku seksual para warga. Seks menjadi semacam hiburan bagi para pekerja yang lelah dan jenuh bekerja. Remaja yang sudah merasakan lelahnya bekerja dan mulai merasakan birahi begitu suka melakukan seks, entah di padang rumput, tumpukan jerami, atap rumah, pokoknya di setiap tempat yang menurut mereka nyaman.

Sedang para suami, yang kebanyakan penambang, melakukan seks untuk menghilangkan rasa penat. Melegakan kelelahan akibat 10 jam hanya melihat hitamnya batu bara. Maka bukan hal yang istimewa seorang perempuan telah melahirkan tujuh anak.

Dampak laku seksual yang begitu dahsyat dan belum terkenalnya teknologi bernama kondom adalah natalitas yang kian meninggi. Memang, semakin banyak anggota keluarga maka makin banyak uang yang didapat kalau mereka bekerja semua. Namun, yang seakan terlupa adalah semakin banyak anak yang lahir, juga semakin banyak mulut yang harus diberi makan.

Keadaan para pekerja tambang tingkat bawah itu begitu berbanding terbalik dengan atasan mereka. Saat para penambang bekerja mati-matian dan mendapat upah sangat murah, para atasan dan pemilik saham dengan santai bekerja dan mendapat upah yang sangat besar. Bahkan, anak pemilik saham dapat dengan mudah tidur selama 12 jam penuh di saat para remaja yang seumuran dengannya bekerja 10 jam penuh di dalam tanah. Tentu remaja penambang bekerja dengan kemungkinan-kemungkinan buruk yang sudah disebutkan sebelumnya.

Itulah keadaan para pekerja tambang di Montsou, daerah terpencil di utara Perancis pada tahun 1860-an. Setidaknya itu terjadi sebelum Etienne Lentier, si tokoh utama, mulai menginisiasi pemogokan. Pemuda yang sangat temperamen jika menenggak sedikit alkohol itu adalah orang yang begitu berapi-api untuk mengajak kawan-kawannya melawan ketidakadilan.

Setelah melakukan pemogokan, situasi memang tak menjadi semakin mudah. Situasi justru cenderung menjadi semakin sulit. Tak punya pemasukan uang membuat para pemogok sekarat karena kelaparan. Bahkan satu-persatu mati karena kelaparan. Banyak yang akhirnya menyerah karena lelah kelaparan, namun sebagian lain tetap teguh dan tetap berjuang meski kelelahan menahan lapar.

Itulah yang diceritakan Emile Zola, orang-orang yang lelah. Hanya saja Emile Zola tidak menceritakan gilang-gemilang sebuah perjuangan. Titik berat cerita Zola adalah bagaimana perjuangan itu tercipta dan dilakukan. Perkara menang atau kalah, itu urusan belakangan, yang penting kalau memang tertindas sebuah sistem atau sekelompok orang, ya dilawan.

Bukan Cerita yang Melulu Proletar

Premis dominan dalam Germinal memang pertarungan antara proletar dengan borjuis. Zola pun memilih tokoh utama dari golongan proletariat. Namun, cerita ini tak melulu tentang kemelaratan kaum proletariat. Zola menghadirkan pula cerita dari sudut pandang kaum borjuis. Dalam hal ini, Zola menghadirkan apa yang jurnalisme sebut sebagai ‘cover both side’.

Menghadirkan cerita dari sudut pandang kaum borjuis menambah kesan kompleks dalam karya sastra satu ini. Seperti hidup yang tak selalu ‘hitam atau putih’, kaum borjuis juga tidak melulu dihadirkan sebagi orang jahat yang sepenuhnya jahat.

Tidak seperti sinetron Indonesia yang gemar menggunakan tokoh antagonis yang selalu keji sejak dalam pikiran, Zola menghadirkan tokoh yang sama-sama memiliki kebaikan dan kekejiannya masing-masing. Sebut saja para proletar yang meski tertidas tetapi kekerasan merajalela di sana. Atau para borjuis yang memiliki sifat sombong dan sesat pikir, namun ada saja kebaikan yang mereka lakukan.

Itulah Germinal. Cerita tentang orang-orang yang lelah. Dikemas dengan kompleks dan menghadirkan tafsiran yang abu-abu meski beraliran realis. Bisa saja saya sepakat dengan Etienne Lentier yang melawan, namun Anda juga boleh sepakat dengan para borjuis yang memandang kemelaratan para pekerja tambang adalah konsekuensi dari kemalasan dan tingkah-laku amoral mereka sendiri.

Akan tetapi, apa yang saya tulis mungkin saja sebuah kebohongan. Untuk membuktikan tulisan ini, ada sebuah cara dengan membaca bukunya sendiri. Ya, bacalah dan sampai tuntas. Lagipula, saya yakin membaca Germinal sampai tuntas lebih mengasyikkan daripada membaca ulang naskah skripsi atau makalah yang tak kunjung henti mendapat revisi.

Rizal Amril

Editor: Ahmad Yasin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *