/

Hatta dalam Narasi Tempo

Ilustrasi oleh Eko Supiyandi/EKSPRESI.

Judul: Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman
Penulis: Farid Gaban, dkk.
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Cetakan: 2017
ISBN: 978-602-424-259-6
Tebal: xxi+185 halaman

Ekspresionline.com“Belajarlah dari sejarah”, Soekarno mengatakan hal itu. Soeharto pun mengatakan hal tersebut. Masalahnya, sejarah yang mana? Sejarah telah menjadi ladang perebutan ideologi dan kepentingan. Hatta adalah seorang pecundang, yang kalah dalam perebutan itu. Begitulah Tempo kemudian ingin menggali jejak langkah Hatta dan menarasikannya dalam sebuah seri buku saku Tempo, Bapak Bangsa.

Pada 1960-an, tulisan Hatta berjudul Demokrasi Kita dinyatakan sebagai bacaan terlarang. Buya Hamka, pemimpin majalah Panji Masjarakat yang memuat tulisan Hatta pun dipenjarakan. Sementara itu, pemerintahan Orde Baru menyusutkan citranya sekadar sebagai “Bapak Koperasi”—citra sempit yang mengerdilkan keluasan pikirannya.

Meski sengaja untuk dilupakan, pikiran Hatta makin jernih dan nyaring kedengarannya. Lihatlah bagaimana Demokrasi Kita tetap relevan setelah sekian lama. Di situ Hatta menawarkan keseimbangan menghadapi situasi resah di awal kemerdekaan.

Hatta menggambarkan proklamasi 1945 sebagai upaya menawarkan optimisme diwarnai euforia politik dan kebebasan. Proklamasi menjadi pembuka kotak Pandora atas segala macam penyakit sosial-ekonomi yang selama masa kolonialisme terpendam. begitupun dengan keadaan reformasi sekarang.

Ia menawarkan keseimbangan untuk menegakkan demokrasi dengan partai sebagai alat dan negara sebagai tujuan. Demokrasi akan berjalan baik, apabila ada rasa tanggung jawab di kalangan pemimpin politik. Sebaliknya, perkembangan politik yang berakhir dengan kekacauan, demokrasi yang berakhir anarki, membuka jalan untuk lawannya, yaitu diktator. Tawaran tersebut masih relevan untuk reformasi sekarang.

Buku yang diterbitkan Tempo ini berisi tentang biografi Hatta pada empat periode, yaitu Bukittinggi sebagai periode pembentukan fondasi kesadaran religius dan politik, Eropa sebagai periode aktivitas gerakan, Jawa sebagai periode perjuangan, serta periode pembuangan di Digoel, Papua, dan Banda Neira.

Bingkai Tempo

Bagi Tempo, menulis biografi seorang Hatta bukanlah perkara mudah. Selain Hatta merupakan tokoh besar, ia tergolong orang yang paling produktif menulis di antara bapak bangsa yang lain. Sehingga sudah bertaburan buku dengan berbagai sudut pandang tentang Hatta.

Selain itu, penulisan buku ini dilatari situasi di mana tidak semua awak redaksi lama pasca Tempo diberedel pada 1994 memilih bergabung kembali. Pun tidak ada juga tradisi untuk membuat laporan khusus yang panjangnya antara 50 sampai 100 halaman—sebelum diberedel, laporan utama majalah Tempo berkisar antara 8-12 halaman saja.

Melalui buku haul 100 tahun Hatta ini, Tempo menawarkan sudut pandang baru atas kehidupan Hatta. Mereka berusaha menarasikan tokoh yang melampaui zaman ini melalui jejak langkah yang ditinggalkan pada masa sekarang dengan berbekal buku-buku tentang Hatta.

Misalnya, pada Mohammad Hatta Memoir, Hatta menulis, “Dengan De Westerboekhandel aku adakan perjanjian bahwa buku-buku itu kuangsur pembayarannya tiap bulan f10. Aku memesan buku itu terus sampai jumlah semuanya tak lebih dari f150.”

Berbekal tulisan tersebut, Tempo datang ke Belanda untuk mencari toko buku yang dituliskan Hatta. Tempo yang pergi saat musim panas 2002 itu menuliskan bagaimana keadaan toko buku De Westerboekhandel yang nyaris sudah pupus jejaknya.

Selain itu, penulisan gaya feature membuat kita seakan ikut serta menjelajahi jejak langkah Hatta bersama Tim Majalah Tempo. Seperti pada saat Tempo bertandang ke rumah Hatta.

“Toh, Hatta mengingat Mak Etek Ayub Rais seakan ayahnya sendiri. Nama Mak Etek ia tebar dalam buku memoarnya. Di rumah kelahiran Bung Hatta di Aur Tajungkang, Bukittinggi, foto hitam putih Mak Etek Ayub digantung di depan kamar kakek Bung Hatta. Ketika Tempo berkunjung ke rumah itu pada Juni 2002 silam, foto itu masih tetap ada di sana. Wajah Mak Etek Ayub yang setengah tertawa terbingkai dalam pigura yang sudah kusam dimakan waktu. Tawanya seperti mengingatkan kembali masa-masa berbahagianya bersama Hatta, si anak cie pamaenan mato, anak yang mengundang kasih sayang.” (hal. 28)

Tidak berhenti di sana saja, Tempo juga melengkapi buku ini dengan kolom yang berisi beberapa tulisan dari tokoh lain. Di antaranya adalah Franz Magnis-Suseno. Ia menjelaskan bahwa konsep demokrasi sudah jauh digagas Hatta, bahkan sebelum masa Demokrasi Terpimpin maupun Orde Baru. Demokrasi bagi Hatta adalah bentuk ideal untuk sebuah negara. Oleh sebab itu, pada Juni 1945, Hatta memasukkan hak-hak sipil yang harus dilindungi dalam UUD 1945. Menurut Hatta, demokrasi tanpa kebebasan sipil akan menjadi negara feodal atau otoritarian gaya baru.

Tempo tidak menampilkan sedikit pun kekurangan Hatta pada buku ini. Begitulah buku “Dewa Hatta” ini ditulis. Arif Zulkifli, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo pada pengantar buku Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman pun mengamini hal tersebut. Ia meyakini bahwa buku ini tidaklah sempurna, buku yang sempurna—menurutnya—adalah buku yang tak pernah ditulis. “[….] kami justru ingin memperlakukannya sebagai sejarah itu sendiri, sebuah catatan bahwa kami pernah gagal untuk sempurna,” ungkapnya.

Buku ini dapat menjadi candu untuk kita membaca buku-buku tentang Hatta yang lain. Berbekal sumber yang tercantum dalam Hatta; Jejak Langkah yang Melampaui Zaman, pembaca dapat menjelajahi lebih jauh tentang siapa sebenarnya Hatta.

Mu’arifah

Editor: Rizal Amril

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *